Mohon tunggu...
Gatot Tri
Gatot Tri Mohon Tunggu... Administrasi - Swasta

life through a lens.. Saya menulis tentang tenis, arsitektur, worklife, sosial, dll termasuk musik dan film.

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Nyampah dan Meludah Sembarangan, Kebiasaan Buruk yang Entah Kapan Sirna

16 Oktober 2019   13:55 Diperbarui: 17 Oktober 2019   02:30 378
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi (sumber: Pixabay.com)

Baru saja hendak membuka ponsel, saya melihat salah satu orang meludah di sekitar pintu lift. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali hingga lift datang. Begitu lift tiba, saya cepat-cepat masuk ke dalam lift.

Selesai urusan saya, saya kembali naik lift ke lantai basement. Sambil berjalan ke arah kendaraan saya, saya melihat sejumlah ludah di sejumlah tempat. Beberapa masih baru, lainnya sudah lama, meninggalkan bercak di lantai. Hmmm... 

Tambah satu cerita lagi ya. Saya pernah bekerja di sebuah pabrik yang sebagian besar karyawannya berasal dari daerah yang jauh, khususnya karyawan bagian produksi. Sebagian dari mereka ini saya amati suka meludah. Saya melihat di sepanjang jalan pabrik selalu ada ludah, ada yang masih fresh, ada juga yang sudah mengering.

Tidak hanya di sepanjang jalan area pabrik, tangga kantor pabrik juga ternyata tidak bebas dari ludah. Tangga kantor pabrik terbuat dari besi dengan anak tangga yang dilapisi karpet karet. 

Saking banyaknya ludah di tangga, tim cleaning service sampai harus menjadwalkan pembersihan tangga secara khusus. Saya melihat mereka juga mengepel karpet karet itu agar bersih dari bekas ludah.

Persoalan kebiasaan meludah sembarangan di lingkungan perusahaan itu menjadi salah satu proposal saya untuk sebuah lomba yang diadakan oleh tim Quality pabrik. 

Mereka mengadakan sebuah kompetisi yang berkaitan dengan Quality. Hadiahnya cukup menggiurkan, salah satunya uang tunai. Lomba itu dibuka untuk tim, boleh dua orang atau lebih, maksimal (kalau tidak salah) empat orang.

Saya dan rekan saya mengajukan dua topik, salah satu proposal kami tentang fenomena meludah sebagian karyawan pabrik. Sayangnya proposal kami tentang fenomena kebiasaan meludah sembarangan itu gagal maju ke babak final. 

Sedangkan proposal kami lainnya berhasil maju ke babak final. Sebagai informasi, di babak final setiap finalis harus melakukan presentasi di depan Direksi dan karyawan lain.

Sebetulnya di satu sisi kami merasa senang dengan pencapaian tersebut, tetapi di sisi lain kami juga kecewa bahwa topik yang mengangkat fenomena meludah sembarangan itu gagal masuk babak final. 

Tapi ya sudahlah, paling tidak kami sudah menyuarakan fenomena itu ke dalam sebuah proposal yang pasti dibaca oleh tim juri, dan mungkin juga direksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun