Gatot Tri
Gatot Tri

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jelang "Sastra Indonesia Hari Ini" di Surabaya, Membaca, Merasa, Memakna Hidup dengan Sastra

11 Oktober 2018   22:27 Diperbarui: 11 Oktober 2018   22:31 725 3 0
Jelang "Sastra Indonesia Hari Ini" di Surabaya, Membaca, Merasa, Memakna Hidup dengan Sastra
sumber: https://www.whiteboardjournal.com/column/blog/translating-indonesian-literature/

Sastra Indonesia kini makin maju. Andrea Hirata telah membawa lokomotif sastra Indonesia ke level yang dunia. Tapi kita juga memiliki sastrawan masa kini seperti Ayu Utami, Laksmi Pamuntjak, Dewi Lestari, M. Aan Mansyur hingga Eka Kurniawan yang novelnya "Cantik itu Luka " atau "Beauty is A Wound" terpilih sebagai salah satu dari 100 novel terbaik tahun 2015 oleh harian The New York Times.

Salah satu satrawan besar tanah air, Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa Pram, juga dikenal luas tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Mendiang Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam 40an bahasa asing. Pram bukan hanya dikenal sebagai salah satu penulis sastra terbaik  Indonesia, tapi juga paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia.

Nah, bicara tentang sastra, kota Surabaya, Jawa Timur, menurut rencana akan mengadakan acara Pembacaan Puisi dan Talk Show dengan topik "Sastra Indonesia Hari Ini" yang menurut rencana akan diadakan pada 19 Oktober 2018 mendatang mulai pukul 19.00.

Sesi tersebut merupakan salah satu rangkaian acara even tahunan Arena Pasar Seni Lukis Indonesia 2018 yang digelar di JX International (Jl. Ahmad Yani 99, Surabaya, koordinat: -7.3181755,112.7321294) dalam rangka memperingati HUT Propinsi Jawa Timur ke-73. Menurut rencana, tiga tokoh sastra Indonesia akan hadir yaitu Abdul Hadi WM, Akhudiat, dan Afrizal Malna. Informasi selengkapnya silakan menuju tautan ini.

Mengenai profil singkat masing-masing pembicara sebagai berikut. Yang pertama, Abdul Hadi WM atau Prof. DR. Abdul Hadi Wiji Muthari merupakan salah satu sastrawan, budayawan dan ahli filsafat. Pria kelahiran Sumenep tahun 1946 ini merupakan salah satu Guru Besar Universitas Paramadina, Jakarta dan saat ini masih aktif mengajar.

Karya-karya puisinya cenderung sufis dimana ia menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu dan lambat laun kental bernuansa tasawuf Islam. Sastrawan Taufik Ismail, sang sahabat, mungkin lumayan mempengaruhi karya-karyanya. Buku antologi puisinya yang telah terbit antara lain: "At Last We Meet Again", "Arjuna in Meditation", "Laut Belum Pasang" dan Meditasi. Sejumlah karya puisinya juga telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa.

Akhudiat, sastrawan asal Banyuwangi, Jawa Timur ini seangkatan dengan Abdul Hadi WM. Karya prosanya banyak mulai cerpen, puisi hingga skenario film dan naskah drama. Akhudiat juga seorang akademisi seperti halnya Abdul Hadi WM. Beliau sebenarnya telah pensiun dari IAIN Sunan Ampel Surabaya namun masih dipercaya menjadi dosen luar biasa.

Salah satu karya cerpennya yang dimuat majalah sastra Horison yang berjudul "New York Sesudah Tengah Malam" (1984) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi bahasa Inggris cerpen ini yang berjudul "New York After Midnight" dimuat dalam majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture di tahun 2002 untuk mengenang tragedi 11 September 2001.

Afrizal Malna merupakn salah seorang penyair yang cukup berpengaruh. Hal ini karena ia memberi warna baru dalam gaya berpuisi yang dianggap sebagai terobosan baru karya puisi. Gaya Afrizal dalam berpuisi itu kerap disebut sebagai"afrizalian", segera diikuti oleh banyak pengikutnya.

Meski lebih dikenal sebagai penyair, karya-karya Afrizal Malna juga mencakup cerpen, novel, esai serta naskah drama teater. Karya-karya Afrizal mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban. Salah satu buku puisinya yang berjudul "Teman-temanku Dari Atap Bahasa" diganjar SEA Write Award 2010. Buku puisi lainnya "Museum Penghancur Dokumen" meraih penghargaan Khatulistiwa Award 2013.

Merunut sejarah sastra Indonesia, terutama sejak era Sastra Indonesia Lama hingga masa kini, para sastrawan-sastrawan kita telah menguntai jutaan kata menghidupkan hidup orang Indonesia, merekam segala kondisi kehidupan orang Indonesia termasuk tingkah polah mereka, mengurai makna bahwa menjadi orang Indonesia itu ternyata kompleks. Sama kompleksnya dengan karut marut situasi politik Indonesia yang tak kunjung redup sambung menyambung menjadi keriuhan tanpa henti di sana-sini.

Karya sastra kadang menjadi oase pemudar peluh, menjadi peneduh sementara dari terpaan hujan, kadang malah menjadi rumah bagi mereka yang memilih bernaung di bawahnya. Tanpa karya sastra, rasanya sulit untuk mendapat pencerahan, kita tidak tahu rahasia terdalam karakter-karakter di dalamnya sehingga kita tidak bisa menilai orang. Tanpa karya sastra, hidup kita mungkin terombang-ambing tidak jelas karena kita tidak punya suatu panduan hati yang sering terasah bila kita banyak membaca karya sastra.

Karya sastra itu mengungkap, mendefinisikan, bahwa kehidupan manusia itu tidak sekedar seonggok fisik dan perbuatan-perbuatan karakter dalam satu cerita. Tidak. Kita membaca, tapi kita juga patut turut merasakan setiap adegan, setiap suasana di dalamnya, lalu memaknai bahwa kehidupan kita ternyata kaya akan hal yang mengejutkan, sekaligus melenakan dan memabukkan tapi juga membahagiakan.