Gapey Sandy
Gapey Sandy Kompasianer, Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Buzzer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Patuhi Aturan Wisata di Istano Basa Pagaruyung

1 April 2016   06:34 Diperbarui: 1 April 2016   13:17 1082 12 4

[caption caption="Empat kali pindah lokasi dan tiga kali terbakar. Luar biasa sekali hikayat Istano Basa Pagaruyung ini. (Foto: Gapey Sandy)"][/caption]Api melahap Istano Basa Pagaruyung. Lidah api membumbung tinggi. Maklum, istana megah yang berlokasi di Tanjung Emas, Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat ini terbuat dari kayu dengan atap ijuk hitam yang tentu saja semakin memanjakan jilatan api. Belum lagi, di dalam istana banyak terdapat material yang juga mudah terbakar. Kain, tikar rotan, dinding kayu, lantai kayu dan sebagainya.

Saya sendiri hanya bisa menyaksikan kebakaran yang hebat itu melalui kanal Youtube, di sini dan di sini.

Kebakaran pada 27 Februari 2007 silam itu benar-benar memilukan. Mendirikan bulu roma. Bagaimana enggak? Banyak orang sibuk menggotong lemari kaca berisi replika pusaka. Semua panik. Sebagian histeris, sejumlah perempuan berkerudung saling berpelukan, menangis. Banyak juga yang cuma nonton. Sementara petugas pemadam kebakaran? Masya Alloh, sepertinya kewalahan. Air yang disemprotkan tak mampu menahan amukan api yang terus membakar sedikit demi sedikit atap ijuk istana, lalu kemudian jadi menyeluruh.

Alhasil, sambaran petir di malam hari yang mengarah tepat ke ujung atap istana menjadi petaka. Istano Basa Pagaruyung pun ludes dilalap api, untuk yang ketiga kalinya.

[caption caption="Istano Basa Pagaruyung ketika habis terbakar pada 27 Februari 2007 malam hari. (Sumber: Youtube akun: payakumbuh)"]

[/caption]

[caption caption="Istano Basa Pagaruyung ketika habis terbakar pada 27 Februari 2007 silam. (Sumber: Youtube akun: payakumbuh)"]

[/caption]Hah? Tiga Kali Terbakar?
Ya, pertama, ketika tahun 1804. Kerusuhan berdarah di atas bukit Batu Patah --yang merupakan lokasi asli Istano Basa-- membuat amuk massa justru ikut membakar istana. Tak rela warisan tradisional sekaligus landmark Batusangkar ini hangus terbakar, masyarakat membangun kembali Istano Basa.

Tapi, apa hendak dikata. Kebakaran kedua terjadi pada 1966.

Renovasi Istano Basa Pagaruyung kemudian dilakukan lagi. ‘Tunggak tuo’ (tiang utama) diletakkan tidak di lokasi asli istana, melainkan ke lokasi baru di sebelah selatannya. Dalam catatan sejarah, istana ini empat kali berpindah tempat. Lokasi pertama istana berada di Ateh Bukik, Batu Patah, Jorong Gudam. Lantas, dipindahkan ke Sungai Bunggo, Jorong Gudam, dan dipindah lagi tak jauh dari Sungai Bunggo.

Pada sekitar 1973, Gubernur Sumatera Barat Harun Zain menggelorakan pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung. Pada 1974–1975, Pemprov Sumbar membentuk tim yang didukung tiga tenaga konsultan ahli. Pada 1976, didirikanlah‘tunggak tuo’ istana. Kemudian, tepat 27 Desember 1976, berdirilah rangka-rangka istana. Sekitar 1986, pembangunan tahap pertama selesai dilakukan.

Lalu, pada 27 Februari 2007, musibah kebakaran ketiga terjadi. Istano Basa Pagaruyung tersambar petir. Terperciklah api. Semakin besar dan melalap seluruh dinding dan ruangan, kecuali tonggak-tonggak kayu utama yang membentuk rangka kubus dan persegi panjang kosong melompong.

Tiga tingkat istana hangus beserta dokumen dan kain-kain hiasan. Ada yang memperkirakan, hanya 15 persen saja barang-barang berharga yang berhasil diselamatkan. Kini, semuanya disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Tetapi, ada juga yang menyebutkan bahwa harta pusaka Kerajaan Pagaruyung saat ini tersimpan rapi di Istano Silinduang Bulan, lokasinya sekitar dua kilometer dari Istano Basa Pagaruyung.

[caption caption="Sore di Istano Basa Pagaruyung. Jendela tertutup berarti waktu kunjungan sudah habis. (Foto: Gapey Sandy)"]

[/caption]Pertengahan Maret 2016 kemarin, saya berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung. Perjalanan bersama komunitas WEGI (We Green Industry) membawa saya masuk ke istana yang (sebenarnya kini) tinggal replika.

Sesaat tiba di istana. Bus besar yang membawa rombongan kami harus parkir di seberangnya. Di lokasi parkir ini ada warung kopi, mie instan, warung nasi, dan kios maupun lapak pedagang kakilima yang menjajakan souvenir khas lokal. Ada juga fasilitas toilet dan kamar mandi.

Rombongan kemudian menyeberang jalan. Sebelum naik tangga batu. Di sebelah kiri gapura bertuliskan “Istano Basa Pagaruyung” dengan dua tiang besar yang ujungnya terdapat maket rumah gadang, ada loket pembelian karcis untuk pengunjung. Pungutan retribusi ini berdasarkan Perda Kabupaten Tanah Datar No.13 Tahun 2011.

Berapa harga tiketnya? Wisatawan domestik per orang dewasa Rp 7.000, dan anak-anak Rp 5.000. Sedangkan wisatawan mancanegara per orang dewasa Rp 12.000, dan anak-anak Rp 10.000.

Begitu melangkah memasuki gapura, di sisi kiri langsung terlihat mobil wisata yang bisa ditumpangi pengunjung untuk berkeliling di seputaran istana. Sedangkan di sisi kanan, ada tiga kotak amal berjajar. Yang paling besar, bertuliskan ‘Kotak Amal Masjid Baiturrahman Pagaruyung’.

[caption caption="Loket pembelian karcis sebelum pengunjung masuk ke Istano Basa Pagaruyung. (Foto: Gapey Sandy)"]

[/caption]Sebenarnya, mulai dari turun dari bus, kemegahan istana sudah nampak. Ukurannya yang super jumbo dengan ukiran dan warna pada kayu dinding rumah gadang, dari kejauhan sudah mengesankan eksotisme tersendiri, apalagi dengan atap yang meruncing pada setiap kedua sisinya. Semakin dekat, pemandangan kemegahan itu kian nampak. Joss!

Ada tiga tangga batu yang harus diundaki pengunjung menuju jalan ke arah teras dan pintu masuk istana. Undakan batu pertama ketika masuk gapura, lalu enam undakan batu setelah kotak amal tadi, dan berikutnya tangga batu lagi. Barulah kemudian jalan melandai menuju tangga kayu yang menjadi pintu masuk istana. Ada juga umbul-umbul tiga warna yang sama seperti warna bendera Jerman: hitam – merah – kuning. Di kanan dan kiri istana adalah lapangan rumput. Pemandangan di sebelah kanan cukup unik. Karena, ada bangunan rumah gadang kecil. Fungsinya, kalau disebutkan tentu sebagai tempat untuk menyimpan padi dan bahan makanan. Di dekatnya ada patung seekor kerbau gemuk abu-abu kehitaman dengan tanduk panjang melengkung, kokoh nan runcing.

Okelah, sekarang kita masuk ke Istano Basa Pagaruyung, yuk

Semakin mendekat ke istana, kekaguman dan rasa takjub melihat begitu megah serta besarnya istana semakin menjadi-jadi. Enggak sabar rasanya, kepingin buru-buru lihat bagaimana isi di dalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4