Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Reog di Mata Alexander, Pelajar Belgia

27 Januari 2016   09:37 Diperbarui: 27 Januari 2016   12:41 876
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Regenerasi seniman Reog. (Foto: FB Reog Surabaya HIPREJS)"]

[/caption]

Meski AFS memilih Surabaya sebagai lokasi ‘mondok’, Alex mengaku tidak menyesal. Justru, ia mengaku sangat suka dengan ibukota Jawa Timur ini. Termasuk suka dengan wisata kulinernya. “I like Surabaya. It is so different from where I live and I like that. My favorite food here is NASI BEBEK or NASI GORENG. And I don’t really have a favorite tourism location, but I like going to the mall,” ungkapnya.

Karena ‘mondok’ di rumah Pak Tri yang sehari-hari tidak jauh ‘habitat’-nya seni Reog dan Jaranan, maka Alex pun menjadi semakin mudah untuk mengenal, menyaksikan langsung bahkan belajar untuk mempraktikkan kesenian budaya tradisional khas Jawa Timur ini.

Kepada saya, Alex menilai bahwa Reog adalah seni budaya yang baru pertama kali disaksikannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, September tahun kemarin. “I think it’s great. It is one of the reasons I came to Indonesia to experience different culture and traditions and Reog is a great example of that,” aku penyuka kuliner Jawa Timur ini.

[caption caption="Penampilan Reog. (Foto: Reog Surabaya HIPREJS)"]

[/caption]

‘Tuh … bangga dong, Indonesia punya Reog. Pelajar Belgia seperti Alex saja mengakui segala keindahan seni budaya yang sudah didaftarkan hak cipta keseniannya dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004. Dengan begitu, Kementerian Hukum dan HAM RI telah mengetahui dan bahkan melegalkannya.

Tidak hanya kagum pada Reog. Alex juga ternyata ikut ‘icip-icip’ bagaimana berkesenian Reog. Ia belajar banyak beberapa gerakan tari Reog. Menurut Pak Tri Suharyanto, Alex bahkan mau belajar latihan Tari Klono Swandono. Ini adalah tarian yang menjadi bahagian pementasan Reog. Mengisahkan tentang Raja Kelono, seorang raja sakti mandraguna yang punya pusaka andalan yang dapat melindungi diri dan kegagahannya, berupa cemeti yang sangat ampuh dan diberi nama Kyai Pecut Samandiman.

“Alex sangat suka dengan Reog dan Jaranan. Bahkan, tanpa sungkan dan malu-malu, ia belajar bersama dengan anak-abak pemula yang lain. Utamanya, ia mempelajari dasar-dasar tari Klono Swandono,” jelas Pak Tri.

Kepada saya, Alex pun mengatakan hal yang sama. Hanya saja, ia kemudian merasa kesulitan untuk melakukan dasar-dasar tarian yang menuntut fleksibilitas tubuh. “I did try learning it in the beginning. But I gave up since I’m terrible at it. I’m not very flexible or coordinated. It is a difficult dance,” ujarnya.

[caption caption="Adegan seniman Reog makan silet. JANGAN DITIRU TANPA BIMBINGAN PELATIH PROFESIONAL. (Foto: FB Reog Surabaya HIPREJS)"]

[/caption]

Kalau pembaca pernah membaca tulisan saya berjudul Seniman Reog Berharap Pemberdayaan (Kompasiana, 13 November 2015), di sana disebutkan bagaimana Pak Tri Suharyanto selaku Ketua Umum HIPREJS melakukan banyak improvisasi gerak dan pentas dalam setiap show Reog. Misalnya, ia menyisipkan episode lawakan yang memancing gelak tawa penonton, akrobatik, makan api, sampai mengupas sabut kelapa dengan gigi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun