Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Blogger

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Edy Fajar, Kuliah Sambil Mengolah Sampah

29 Mei 2015   17:22 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:28 3664 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Edy Fajar, Kuliah Sambil Mengolah Sampah
14328936281142780274




[caption id="attachment_421222" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo, mahasiswa semester VIII UIN Jakarta memperlihatkan dompet yang dibuat secara kreatif dari sampah sachet bekas minuman. (Foto: Gapey Sandy)"][/caption]

Kalau ada sosok anak muda yang emoh bergaya hidup pesta pora, dan sebaliknya, justru memilih terlibat memerangi sampah plastik, maka Edy Fajar Prasetyo adalah orangnya. Edy, begitu ia akrab disapa, adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Agribisnis di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dijumpai penulis, Kamis (28 Mei 2015) malam, pemuda bertubuh jangkung dan berkacamata ini mengaku tengah merancang proposal untuk pengajuan tema garapan skripsinya.

“Saya, inginnya menulis skripsi tentang Pembiayaan UKM. Atau, tema lain yaitu mengenaiAnalisis Cost Ratio Packaging Produk. Kedua tema ini ada kaitannya dengan apa yang tengah saya lakukan saat ini,” ujar penerima beasiswa Bidik Misi dari Kemendikbud ini.

Bila diperhatikan dari dua tema bakal tema skripsi Edy, tentu kita dapat mereka-reka, apa kira-kira yang sebenarnya membuat bujangan kelahiran Jakarta, 17 September 1992 ini semakin ekstra sibuk. Ya, benar sekali. Bersama sejumlah rekan mahasiswa UIN lainnya, Edy kini menangani sebuah komunitas usaha kecil-kecilan yang tidak melulu profit oriented. Komunitas tersebut dinamakan Eco Business Indonesia, disingkat EBI. Bertindak selakufounder yang membangun komunitas EBI sejak 2013, ya Edy sendiri.




[caption id="attachment_421223" align="aligncenter" width="576" caption="Program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sampah. Setiap usaha ramah lingkungan EBI mengusung tiga P, People, Planet dan Profit. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]

14328936851033779964
14328936851033779964
[/caption]

[caption id="attachment_421224" align="aligncenter" width="576" caption="Keterlibatan masyarakat menjadi bahagian dari usaha ramah lingkungan EBI yang selalu mengusung tiga P, People, Planet dan Profit. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]
14328937231212802530
14328937231212802530
[/caption]

Penuhi 3P, People, Planet, Profit

Apa itu EBI? Lugas, Edy menjelaskan, EBI tak lain merupakan Green Business atau Usaha Ramah Lingkungan, yang dalam setiap aktivitasnya selalu mengusung unsur ‘3P’. Masing-masing adalah People, yang sangat kental akan nuansa pemberdayaan dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Sedangkan Planet, yang dalam hal ini bumi, adalah merupakan faktor penting untuk senantiasa memperoleh sentuhan sebagai bentuk kepedulian EBI. “Artinya, dalam setiap aktivitas usaha EBI, kami berupaya semaksimal mungkin untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, yakni dengan turut andil mengurangi limbah plastik. Limbah plastik ini seperti diketahui, sulit untuk diurai. Karena itu, kami mengupayakan untuk memperpanjang usia pakainya, dengan mewujudkannya ke dalam bentuk produk upcyclekerajinan tangan, seperti dompet dengan berbagai ukuran, tas, soft case dan masih banyak lagi,” jelas Edy semangat.

Untuk masalah Profit, Edy menuturkan, keuntungan yang diperoleh EBI, selain dimanfaatkan untuk memutar kembali roda bisnis, juga diorientasikan pada pemanfaatan untuk pengembangan usaha dan upaya persebaran pemberdayaan yang lebih luas. “Sehingga kalau digabungkan antara People – Planet – Profit, maka itu berarti, usaha yang kami laksanakan tidak sekadar mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi juga harus memperhatikan dan melibatkan orang-orang sekitar, serta melestarikan bumi dan seisinya sebagai planet tempat berpijak,” urai Edy berfilosofi.




[caption id="attachment_421226" align="aligncenter" width="576" caption="Terlibat aktif dalam memberikan materi tentang Green Edutainment ketika pelaksanaan KKN mahasiswa UIN Jakarta. EBI turut menghadirkan para ibu-ibu yang dibinanya sebagi trainer bagi para mahasiswa dan masyarakat. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]

14328938161175170171
14328938161175170171
[/caption]

[caption id="attachment_421227" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo berdiri di kanan. Ketika terlibat aktif dalam memberikan materi tentang Green Edutainment saat pelaksanaan KKN mahasiswa UIN Jakarta. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]
1432893854828044069
1432893854828044069
[/caption]

Filosofi ‘3P’ menjadi kompas bagi EBI. Sejumlah program kerja kreatif yang ditetapkan, pijakannya selalu terkait peopleplanet, dan profit. Sebut saja misalnya, program “Yuk DARING”, kependekan dari “Yuk, saDAR LINGkungan”. Ini adalah bentuk edukasi lingkungan berupa sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat dari berbagai usia. Proses edukasi ini dilakukan dengan menggelar berbagai aktivitas mulai dari diskusi, seminar, green campaignexhibitionworkshop, dan kampanye melalui social media. “Melalui socmed, kami pergunakan hashtag #SampahJadiBerkah dan #FromTrashToTreasure, untuk mengkampanyekan sadar lingkungan ini,” ungkap Edy.

Program EBI lainnya adalah “PETAKA”. Waduh, dari namanya saja segera terbayang kengerian. Tapi, bila diperpanjang maknanya, PETAKA berarti PEmberdayaan TenAga KreAtif. Menurut Edy, inilah program sosial EBI yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat untuk memiliki keahlian atau soft skill dengan memberikan pelatihan dancoaching pembuatan berbagai prakarya kerajinan tangan (handycraft) dengan memanfaatkan limbah yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis tinggi.

Ada lagi program Komunitas EBI yang dinamakan rada nyentrikCLBK, singkatan dari Cerdas Luar Biasa Kreatif. “Ini adalah juga bentuk pembinaan masyarakat binaan EBI, tetapi dengan pendekatan yang berorientasi pada terwujudnya masyarakat yang cerdas, luar biasa dan kreatif,” ujar anak kelima dari enam bersaudara, dari ayah Tupon, dan ibu Ratna Nirmala Ningsih ini.




[caption id="attachment_421228" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo bersama tim EBI ketika menjadi pembicara dalam acara Artivitydi sebuah sekolah. Sosialisasi tentang pemanfaatan limbah menjadi lebih bernilai ekonomis. (Foto: Edy Fajar Prasetyo)"]

14328939061521623111
14328939061521623111
[/caption]

[caption id="attachment_421229" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo bersama tim EBI ketika menjadi pembicara dalam pelatihan prakarya bahan limbah untuk tepat guna bagi remaja, pada 2014. (Foto: Edy Fajar Prasetyo)"]
1432893946816142720
1432893946816142720
[/caption]

EBI juga punya program yang sebut POLEMIK atau Produk OLahan Ebi MenarIK. “Program ini memang belum terlaksana. Tapi pada dasarnya, ini akan menjadi semacam program yang membuat berbagai produk buatan tangan kreasi dalam negeri asli karya tangan terampil para pengrajin mandiri Indonesia, yang berorientasi pada upcycle product, sehingga memberi peningkatan nilai tambah dari limbah yang dikumpulkan dan diolah,” terang Edy.

Program terakhir EBI adalah SELUNDUP, akronim dari SEdekah LingkUNgan hiDUP. Dalam kaitan ini, EBI mengajak partisipasi masyarakat untuk berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara mendonasikan sampah plastiknya sebagai penunjang program EBI.

Nah, setelah mengenal EBI, lantas apa karya nyata komunitas ini?

EBI, menurut Edy, adalah sebuah komunitas yang berkeinginan menjadi sebuah kegiatan bisnis dan dapat menghasilkan keuntungan, sehingga operasional dan aktivitas komunitas dapat terus berjalan. Tetapi, pendekatannya tetap kepada masalah lingkungan, atau menyasar ke persoalan sampah. “Ide ini bergayung-sambut dengan keberadaan kaum ibu di sejumlah wilayah Kota Tangerang Selatan, seperti di Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, dan Kelurahan Kedaung, Kecamatan Pamulang. Kita coba untuk meningkatkan produktivitas kaum ibu, melalui kegiatan berupa peningkatan skill dalam mengolah limbah sampah. Sehingga, dapat berdayaguna bahkan memberi pemasukan secara ekonomi kepada mereka,” urai Edy.




[caption id="attachment_421230" align="aligncenter" width="576" caption="Sejumlah karya kreatif produk Ebi Bag. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]

1432894030711707846
1432894030711707846
[/caption]

[caption id="attachment_421231" align="aligncenter" width="560" caption="Tas dari sampah sachet minuman, karya kreatif produk Ebi Bag. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]
1432894080191852482
1432894080191852482
[/caption]

[caption id="attachment_421232" align="aligncenter" width="576" caption="Tas, dompet dan bunga plastik, karya kreatif produk Ebi Bag. (Foto: Dokpri. Ebi Bag)"]
14328941271184787634
14328941271184787634
[/caption]

Rintisan awal kerja nyata EBI di Jombang, berawal pada 2013 lalu. “Lebih kurang satu tahun kami melakukan inisiasi di Jombang. Sayangnya, hasil balik yang diharapkan kurang memuaskan. Respon dari warga masyarakat kurang mendukung terhadap sejumlah program EBI. Tapi, kami tetap memberi apresiasi, karena program kerja yang lain tetap berjalan, seperti misalnya, pembuatan anyaman dompet dan tas dari bahan baku sampah bungkussachet minuman kopi, dan lainnya. Alhamdulillah, hingga kini tetap ada sejumlah ibu yang masih menjadi semacam binaan EBI,” tutur lulusan SMAN 1 Boedi Oetomo, Jakarta, pada 2011 ini.

Tidak itu saja, lanjut Edy, justru ketika program inisiasi di Jombang inilah, muncul bentuk kreativitas pembuatan produk yang masih terus dipertahankan hingga saat ini. Tiada lain dan tiada bukan, itulah anyaman dompet dan tas dari bungkus sachet kopi. “Inilah yang kemudian kami sebut sebagai “EBI Bag” (tas EBI), sekaligus menjadi merek dari item produk kerajinan tangan tersebut,” kata Edy seraya memperlihatkan contoh produk “EBI Bag” dari tas ranselnya.

Meski berhasil menorehkan produk nyata berupa EBI Bag, namun dengan semakin minimnya tanggapan masyarakat, maka EBI memutuskan untuk mencari wilayah pemberdayaan masyarakat berikutnya. Melalui bantuan dan kedekatan seorang staf dosen UIN Jakarta, kaum ibu di Kedaung kemudian menjadi pilihan lokasi pemberdayaan masyarakat berikutnya. Kegagalan melakukan pembinaan di Jombang, berusaha diperbaiki oleh EBI. Kali ini, bersama dengan tokoh masyarakat setempat, terutama Ketua Rukun Tetangga, EBI berhasil memperoleh penerimaan dan simpati dari kaum ibu di Kedaung. Apalagi, EBI kemudian juga menghadirkan sosok Oma Elly yang merupakan warga Jombang, untuk memberikan berbagai pelatihan kerajinan tangan kepada kaum ibu di Kedaung. Khususnya,ya tentu masih menyangkut produk “EBI Bag” itu. “Akhirnya, EBI malah berhasil mengolaborasikan antara kaum ibu dari Jombang, dan Kedaung. Jumlahnya, ada 14 orang. Ditambah lagi, ada lima orang dari kalangan mahasiswi UIN, yang semuanya adalah kawan-kawan saja juga,” tukas Edy seraya menyebut kemampuan produksi “EBI Bag” yang baru mencapai 40 item per hari. “Kalau bahan bakunya tersedia, tangan terampil Oma Elly misalnya, dalam satu hari bisa membuat tiga item untuk anyaman sachet bekas”.




[caption id="attachment_421233" align="aligncenter" width="576" caption="Salah seorang mahasiswi dari University of Antwerp, Belgia, tengah memperhatikan secara seksama aneka produk Ebi Bag. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]

1432894188713561494
1432894188713561494
[/caption]

[caption id="attachment_421234" align="aligncenter" width="576" caption="Para mahasiswa dari University of Antwerp, Belgia, tengah mepraktikkan pembuatan berbagai kerajinan tangan dari pemanfaatan sampah plastik. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]
14328942321088137319
14328942321088137319
[/caption]

[caption id="attachment_421235" align="aligncenter" width="576" caption="Kunjungan dalam rangka Summer School para mahasiswa dari University of Antwerp, Belgia, dengan tema Energy from Organic Waste di EBI, Kedaung, Pamulang, Kota Tangsel, pada Februari 2015. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]
143289428889762787
143289428889762787
[/caption]

Bersama EBI, Edy merasa bersyukur bahwa kaum ibu dapat bersatu dalam karya dan kreativitas. Hingga pada Februari 2015 kemarin, tanpa disangka-sangka, kaum ibu yang menjadi binaan EBI mendapat kunjungan kehormatan yang sangat membanggakan. “Kami kedatangan tamu mahasiswa-mahasiswa dan dosen dari University of Antwerp, Belgia. Berbarengan dengan itu, hadir juga rombongan mahasiswa UIN yang ada di beberapa kota, seperti Riau, Malang, Bandung dan Jakarta. Tema kunjungan ini adalah “Energy from Organic Waste Summer School”Gara-gara kehadiran para tamu spesial termasuk dari mancanegara ini, kaum ibu semakin bangga, antusias dan bahagia terlibat dalam kekaryaan bersama EBI,” jelasnya.

Dari sisi produk, Edy mengakui, “EBI Bag” bukanlah suatu inovasi baru yang memanfaatkan sampah plastik menjadi aneka dompet maupun tas. “Ini bukan produk baru. Di beberapa daerah, produk seperti ini juga sudah dibuat dan bermunculan. Meski demikian, kami tidak putus asa. Justru pada setiap wilayah yang memiliki kesamaan produk kreatif berbahan baku sampah plastik ini, maka EBI selalu melakukan ‘ATM’ alias Amati Tiru Modifikasi. Dengan ‘ATM’ ini, EBI selalu berusaha mencari hal-hal baru yang dapat dikedepankan selain dari sisi produknya itu sendiri. Misalnya, terkait dengan value atau nilai yang ditawarkan dari “EBI Bag”, mulai dari nilai edukasi, pemberdayaan masyarakat dan nilai sosial lainnya,” tutur Edy.

Lantas, dari mana saja bahan baku sampah plastik diperoleh?

Salah satu kesulitan dalam pembuatan dompet atau tas dari bungkus sachet bekas minuman adalah kesamaan jenis dari sampah plastik atau bahan mentahnya itu sendiri. Untuk membuat dompet, tentu akan kurang menarik, bila sampah sachet yang dimanfaatkan saling berbeda-beda warna maupun jenisnya. Karena itu, EBI memiliki kiat khusus dalam rangka mengumpulkan sampah plastik. Caranya, dengan langsung mengumpulkan dari para pedagang minuman tersebut. Tapi, pada awalnya, EBI melakukan sendiri pemilahan dan pemilihan sampah langsung dari warga masyarakat.




[caption id="attachment_421239" align="aligncenter" width="576" caption="Salah seorang juri pada ASEAN Leaderpreneur Conference 2015, Anna Karina Jardin selaku the president and founder of Artistikong Kabataan yang berbasis di Manila, Filipina, kagum dengan produk EBI Bag. (Foto: Dok. Edy Fajar Prasetyo)"]

1432894657614591908
1432894657614591908
[/caption]

“Awal mula EBI memperoleh bahan baku sampah plastik adalah langsung mengambilnya dari warga masyarakat. Tak hanya mengambil sampah plastik begitu saja, EBI waktu itu juga memberi apresiasi kepada para warga masyarakat yang memilah dan memilih sampahnya. Bentuk apresiasinya, kami beli sampah pilahan itu sebesar Rp 10 per sachet sampah minuman. Kemudian dipilah dan dipilih, mana yang bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan. Selain dari warga masyarakat, sampah plastik juga dikumpulkan dari lingkungan sekitar,” ujar Edy sembari menambahkan bahwa untuk pembuatan dompet dibutuhkan 60 – 80 sachet minuman bekas minuman. “Sedangkan untuk membuat tas, kebutuhannya bisa sampai 250 sachet bekas”.

Berdasarkan kesulitan memperoleh sampah sachet bekas minuman yang warna dan coraknya sama, maka Edy bersama relawan EBI---yang biasa dipanggil dengan sebutan ranger---, berusaha untuk mempeluas wilayah pencarian sampah plastik, berikut kerjasama dengan komunitas lain yang memiliki ketertarikan bidang sejenis. “Bantuan bahan baku sampah plastik yang berupa sachet bekas minuman ini pernah diberikan oleh Dompet Dhuafa Republika, yang juga memiliki aktivitas pengolahan sampah, tapi tidak mengkhususkan pada pengolahan sampah plastik. Akhirnya, kami sempat mendapat sampah-sampah plastik dari mereka, gratis. Selain itu, EBI juga mengumpulkan sampah plastik sachet bekas dari para pedagang yang biasa mangkal di samping Kampus UIN, Ciputat. Kepada mereka ini, kita lakukan pola jemput langsung sampah-sampah bekas sachet minuman itu, untuk kemudian kita pilah dan olah,” jelasnya tanpa sungkan.

Sudah tentu, sesuai permintaan pasar, maka jenis-jenis produk semakin diupayakan variasinya. Sejauh ini, “EBI Bag” memang masih terdiri dari produk-produk seperti tas, dompet, soft case, bando, gantungan kunci, pin, dan souvenir lainnya. Tapi, jangan dikira berbagai inovasi tidak dicoba atau dikembangkan. Misalnya dompet, yang meskipun secara produk sudah bagus, tapi akan semakin berkualitas lagi apabila di dalamnya diberi puringatau lapisan yang berbahan tipis. Kesulitannya, untuk menambahkan puring masih diserahkan pengerjaannya ke tukang jahit. Akibatnya, butuh cost jahit lagi. Selain itu, proses pengerjaan di tukang jahitnya pun tidak bisa diburu-buru. “Karena itu, ke depan kami tengah mengajukan bantuan mesin jahit kepada pihak donatur, selain mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Mesin jahit ini pasti akan sangat bermanfaat, karena ibu-ibu bisa belajar menjahit, sekaligus menambah kapasitas produksi berbagai kerajinan tangan buatannya,” ujar Edy penuh harap.




[caption id="attachment_421240" align="aligncenter" width="378" caption="Dua tas produk EBI yang dikerjakan oleh kaum ibu di Kedaung dan Jombang, Kota Tangsel. Menggunakan bahan baku sampah sachet minuman. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]

143289486669097338
143289486669097338
[/caption]

Dari sisi teknis, tambah Edy, anyaman sampah bekas kemasan plastik yang tidak disempurnakan dengan penjahitan, akan terlihat tampil apa adanya. Artinya, ada kesan limbah sampah yang terlalu kuat dan menonjol. Akibatnya, malah membuat kualitas produk menjadi agak rendah, sehingga potensi pemasaran menjadi kurang laju. “Beda kalau anyamansachet bekas ini disempurnakan dengan penjahitan, maka desain dan motifnya akan lebih indah juga menarik. Malah, kesan dari sampah sachet bekas pun juga bisa diminimalisir,” terangnya sambil menegaskan rencana ke depan EBI yang akan coba membuat kemasan untuk “EBI Bag”.

Dengan kemasan yang baik, kata Edy, pasar mancanegara semoga saja dapat direngkuh. Apalagi, pasar di sana lebih baik bila dibandingkan dengan pasar dalam negeri. Dalam artian, penerimaan pasar mancanegara lebih menaruh respek terhadap misi sosial yang diusung “EBI Bag” daripada hanya melihatnya dari sisi manfaat produk. “Tapi, bukan berarti kami tidak mengapresiasi respon dari warga masayarakat kita sendiri. Terbukti, dalam beberapa kali pameran, respon dari masyarakat lokal juga besar, dan kami hargai itu,” tuturnya.

Raih Juara di Malaysia

Kiprah EBI bersama produk “EBI Bag” semakin memperoleh pengakuan. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan EBI meraih juara ketiga dalam ajang ASEAN Leaderpreneur Conference 2015, yang diselenggarakan 7 – 10 Mei, di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada ajang bergengsi yang mengangkat tema ‘Become a Part of Global Netizen’ ini, EBI menempati posisi tiga terbaik untuk kategori Social. Salah seorang juri kala itu adalah Anna Karina Jardinselaku the president and founder of Artistikong Kabataan yang berbasis di Manila, Filipina. “Waktu itu, Anna sampai terkagum-kagum dengan tas anyaman dari sachet bekas minuman. Bahkan berharap dapat melakukan kerjasama yang meskipun bermisi sosial tapi tetap saling menguntungkan dengan EBI,” jelas Edy.




[caption id="attachment_421236" align="aligncenter" width="576" caption="Sertifikat juara ketiga ASEAN Leaderpreneur Conference 2015 di Malaysia. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]

143289436166509707
143289436166509707
[/caption]

[caption id="attachment_421237" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo ketika menyampaikan presentasi pada ajang ASEAN Leaderpreneur Conference 2015 di Malaysia. (Foto: Dok. Ebi Bag)"]
14328943991967176413
14328943991967176413
[/caption]

Meraih juara ketiga di ajang sekelas ASEAN Leaderpreneur Conference semakin menyadarkan EBI sekaligus menjadi stimulus, untuk melakukan pengembangan usaha dan produk secara lebih matang lagi. Karena, dengan kemenangan ini, sekaligus mampu membuktikan bahwa perhatian terhadap produk “EBI Bag” yang berwawasan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, ternyata lebih dari sekadar mendapat perhatian publik.

Ya, usia EBI memang baru dua tahun. Masih panjang perjalanan untuk semakin banyak membuat perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Apalagi, seperti kata Edy, EBI tidak hanya bergerak dalam hal produk dan pemasarannya saja, tapi juga ada sisi pengelolaan dalam bidang jasa. “Misalnya, seperti yang sudah dilaksanakan, EBI terlibat dalam sejumlah kegiatan bertajuk Green Edutainment. Realisasinya, EBI bekerjasama dengan pihak Kampus UIN dan para mahasiswa semester VI yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), menyampaikan upaya pemanfaatan sampah menjadi lebih bernilai ekonomis, seperti produk “EBI Bag”. Nah, pada saat penyampaian materi mengenai hal ini, kami mengajak para kaum ibu binaan, untuk menjadi trainer dalam workshop usai materi disampaikan. Sudah tentu, para ibu senang sekali menerima mandat yang membanggakan seperti ini,” urai Edy.

Ke depan, Edy bercita-cita untuk membangun sentra khusus produk upcycle. Hal ini lantaran ia terinspirasi dengan keberadaan sebuah toko atau market di Belanda, yang khusus menjual aneka produk upcycle. Produknya berkualitas, dan harga produk yang ditawarkan memang relatif lebih tinggi dibandingkan produk sejenis dari bahan yang konvensional dan tidak ramah lingkungan. “Tetapi, karena pemahaman mereka di sana sudah well educated, maka produk upcycle dihargai dari sisi misi sosial, penyelamatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakatnya. Dari situ saya tergugah, untuk membuat toko serupa, yang tidak saja menjual produk upcycle secara online, tapi juga secara nyata, ada galeri sekaligus workshop-nya. Toko atau market place ini menggabungkan banyak pelaku usaha dan produsen produk upcyclesecara bersama-sama,” papar Edy penuh motivasi.




[caption id="attachment_421238" align="aligncenter" width="576" caption="Edy Fajar Prasetyo, founder EBI. (Foto: Gapey Sandy)"]

14328945431529560385
14328945431529560385
[/caption]

Cita-cita Edy sungguh mulia. Memberdayakan masyarakat sekaligus melestarikan lingkungan dengan cara memanfaatkan sampah-sampah menjadi punya nilai ekonomi. Semoga semangat dayakan Indonesia semacam ini mampu menjadi teladan bagi kita sekalian.

o o o O o o o

VIDEO PILIHAN