Mohon tunggu...
Galih Permana Putra
Galih Permana Putra Mohon Tunggu... logistik di PT. Tunas Mekar Gemilang -

Warga Kota Ciamis | Alumni Universitas Siliwangi Tasikmalaya | Public Health | Bukan sempurna | Hanya bagian dari sempurna | Menyempurnakan dan disempurnakan | \r\n\r\n--www.tulisanrunyam.blogspot.com--

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tidak Ada Manusia yang Sempurna, Namun Manusia Adalah Makhluk Paling Sempurna dari Semua Makhluk Ciptaan-Nya

25 Desember 2012   03:05 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:05 4175 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Anda menerima diri anda apa adanya?? Jika iya, anda tidak akan pernah sukses..

Dedy Cobuzier-

Bingung?

Ya, pertama kali mendengar kalimat ini saya jugabingung, kok bisa gitu ya? Padahal menerima dan mengenal diri sendiri itu kan satu keharusan. Mungkin pembawa acara yang tadinya berprofesi sebagai pesulap itu salah ngobrol. Itu pikiranpertama saya. He

Tapi kalimat tersebut membuat saya penasaran sebenarnya apa maksudnya dengan menerima diri sendiri tidak akan pernah membuat kita sukses. Akhirnya setelah proses pemikiran yang panjang dan menguras energi, saya mulai menyadari. Apa yang dikatakan Mas Dedy Cobuzier dalam acara Talkshow tersebut memang benarmerupakan ilmu baru bagi saya.

So, what the meaning of that sentences?

Saya akan menceritakan beberapa pengalaman saya yang mudah-mudah bisa membantu teman-teman pembaca untuk memahami kata-kata Mas Dedy tersebut.

Oke, markimul. *mari kita mulai.. hhe

Saya mempunyai seorang teman yang umurnya jauh lebih tua dari saya, yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Ia adalah seorang pengusaha di bidang desain grafis yang sangat handal dan memiliki kreatifitas yang sangat tinggi. Saya sering bercerita dengan dia tentang banyak hal, inilah yang membuat saya senang main ke tempatnya. Pertemuan kita selalu dipenuhi dengan rangkaian cerita-cerita luar biasa yang selalu dapat menjadikan saya lebih mengenal lika-liku kehidupan di dunia ini. Salah satunya adalah tentang ketidakpuasan manusia dalam banyak hal.

Saya pernah menyaksikan saat dia diminta untuk melakukan satu pekerjaan oleh tetangganya untuk mengecat papan nama tempat. Saya tahu betul kalau dia itu tidak tahu dan tidak pernah belajar tentang teknik pengecatan seperti itu, saya cukup kaget ketika dia menerima tawaran tersebut dengan tegas tanpa ragu sedikitpun. Saat saya tanya, kenapa dia bisa seberani itu dia hanya menjawab.

“Kita gak akan pernah bisa terbang kalau kita cuma diam, tidak ada usaha untuk mengembangkan sayap”.

Satu kalimat yang luar biasa maknanya buatku.

Esoknya saya lihat dia pulang entah darimana dengan membawa 3 buah buku. Agak aneh sebetulnya melihat dia membawa buku. Karena memang dia jarang membaca buku setelah dia lulus SMA tahun 1989 dulu. Setelah saya lihat buku yang dia bawa ternyata semuanya tentang teknik-teknik pengecatan dalam berbagai media. Melihat mimik muka saya yang agak mengerukan dahi, dia langsung berkata.

“Jangan kaget begitu, untuk bisa melakukan hal yang belum kita kuasai kita harus bisa melakukan hal yang diluar kebiasaan kita.”

Ya, memang dia akan melakukan hal yang belum dia kuasai, dan untuk menguasai hal itu dia harus melakukan hal yang tidak biasa dia lakukan, membaca dan pergi ke perpustakaan. Beberapa hari dia seibuk membaca, akhirnya dia mulai melakukan praktek. Praktek pertama hasilnya gagal total. Cat yang dioleskan sama sekali tidak merata di semua bagian, dia lakukan evaluasi pada praktek pertamanya. Mencari penyebab kegagalannya. Esoknya dia kembali melakukan praktek, hasil olesannya cukup rata. Namun dia belum merasa puas, serasa ada yang kurang katanya. Dia buka kembali bukunya, membolak-balik halaman seperti mencari sesuatu. Setelah selesai dia langsung menghampiri hasil pengecatannya.

“Terlalu tipis”.

“Darimana kamu tau? Dari sini terlihat bagus”.

“Jangan liat sesuatu hanya dari satu titik pandang, liat dari semua sudut pandang baru kamu boleh menyimpulkan”.

Saya mendekati hasil pengecatannya, dan memang masih terlihat samar-samar warna besi dari plank tersebut. Setelah itu dia membereskan peralatan pengecatannya. Saya rasa dia sudah merasa cukup prakteknya untuk hari ini. Keesokan harinya dia kembali mengecat plank. Kali ini dia tersenyum setelah selesai mengecat.

“Akhirnya, selesai juga”.

Saya langsung melihat hasil kerjanya dan memang untuk hari ini hasil pengecatannya jauh lebih baik dari 2 praktek sebelumnya. Saya sangat kagum dengan ketekunannya dalam mempelajari cara pengecatan. Pekerjaan yang sebelumnya belum pernah dia kerjakan dan ketahui teknik-tekniknya, berhasil ia kuasai.

Memang manusia harus terus belajar dan belajar. Menggali ilmu untuk meningkatkan kapasitas diri. Jangan puas terhadap kemampuan yang kita miliki sekarang. Memang tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, namun ingatlah manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan-Nya. Maka, teruslah berupaya untuk menyempurnakan diri. –Galih Permana Putra-

Saya teringat satu kalimat yang pernah kakak tingkat dan senior saya dalam organisasi ucapkan pada saya dalam sebuah pesan singkat.

“Bekerja adalah bukan tentang uang, bahkan bukan sama sekali tentang itu. Bekerja adalah tentang keterfungsian segala potensi yang Allah berikan”. -Wini Rizky-

Teruslah menfungsikan semua potensi yang Allah berikan pada kita. Temukan dan maksimalkan semua potensi dalam diri kita.

Jangan terima diri kita apa adanya. Terus dan teruslah belajar. Maka kita akan mengetahui ada apa saja dalam diri kita.

“Mengejar mimpi adalah baik, namun mensyukuri apa yang kita miliki hari ini adalah yang terbaik”. –anymous-

Sekian, semoga bermanfaat..

Galihpermanaputra, 231012

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan