Bola

Puan dan Kecintaannya pada Sepakbola Nasional

14 Juni 2017   12:40 Diperbarui: 26 Juni 2017   19:29 20 1 1
Puan dan Kecintaannya pada Sepakbola Nasional
antaranews.com

Sepak bola, sebuah olahraga yang mendunia, menyulap kebahagiaan masyarakat dunia dengan segala hiburannya, sesungguhnya merupakan sesuatu yang juga turut hadir sebagai medium untuk memperkuat nasionalisme. Ini utamanya bila menyangkut pertandingan antar negara.

Kita tahu, olahraga yang disukai masyarakat dunia ini, bahkan nomor wahid, memiliki suporter-suporter yang begitu fanatik. Fanatisme buta, yang menghalalkan berbagai bentuk dukungan hingga eksploitasi kebencian demi menguatkan kelompok pendukung, juga tersaji dalam sepak bola. Bukan satu hal yang baru: perseteruan elclasico Barcelona dan Madrid, misalnya, atau klub-klub lainnya kadang menyeret perbincangan.

Puan Maharani, putri Megawati Soekarno Putri, rupanya juga memiliki perhatian terhadap sepak bola. Dia mengikuti sedikit banyak informasi sepakbola utamanya sepak bola nasional. Dalam sorotan Puan, bukan sisi yang sekedar menghibur saja melainkan aspek lain persoalan nasionalisme sepak bola. Dia melihat, bahwa kini dengan semaraknya sepakbola luar, banjirnya berbagai bintang justru bukan saja hal yang menarik tetapi juga melahirkan persoalan. Kawula muda, dalam pandangannya, begitu tinggi pengidolaannya pada sepak bola luar, meskipun sebenarnya bukan masalah besar, di satu sisi dan di sisi lain ada kegusaran Puan terkaitnya menurunnya rasa kebanggaan atas sepak bola sendiri.

Sepak bola nasional hingga sampai saat ini memang belum bisa disepadankan dengan negara-negara lain. Jangan sepak bola Eropa yang memang punya kelas tinggi dalam jagat sepak bola, bandingkan saja dengan sepak bola di negara-negara Asia lainnya. Indonesia masih belum bisa dianggap mampu bersaing baik dan maksimal dengan mereka.

Bagi Puan, tentu itu persoalan. Tetapi nasionalisme, kebanggaan atas bangsa sendiri, adalah faktor penting. Kebanggaan itu juga sebagai daya pemompa semangat geliat olahraga nasional, terutama sepak bola. Ada ungkapan "hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri". Ini isyarat kuat yang ingin disampaikan oleh Puan. Seberapapun masih belum setaranya sepakbola nasional secara kualitas dengan sepakbola negara lain, hendaknya itu tidak mengurangi kecintaan dan rasa nasiionalisme atas sepakbola bangsanya sendiri.

Puan mengungkapkan keprihatinannya terhadap para penggila sepakbola Tanah Air yang tampaki terlalu mendewa-dewakan pesepakbola luar negeri. Dia mencotohkan: "ketika klub-klub luar negeri datang berkunjung ke Indonesia dan bertanding di Gelora Bung Karno, nyaris seisi stadion lebih banyak mendukung klub seperti Chelsea, Inter Milan, Liverpool, dan Arsenal".

Puan menginginkan keberimbangan dukungan atau suporter. Sebab klub-klub besar dari luar negeri sedang menghadapi putra bangsa.

Sepintas memang terasa biasa saja yang disampaikan dan diinginkan oleh Puan Maharani. Tapi nasionalisme memang bekerjasa secara sunyi: kebanggaan yang diam-diam atas klub dari bangsa lain dan mengidolakannya. Kebanggaan ini tidak boleh terlalu lama. Kita perlu diingatkan. Keterlenaan ini tidak boleh berlangsung lebih lama. Perlu ada yang menyadarkan bahwa bangsa kita bisa menyamai bahkan melebihi mereka. Kebanggaan itu harus dibangun dari kedalaman hati. Menyaksikan klub besar dengan keindahan permainan memang membahagiakan. Siapa yang tak suka kepada klub raksasa sekelas Barcelona, Real Madrid, Chelsea, As Roma atau klub-klub Eropa lainnya. Tapi itu tidak berarti kita semua -- kawula muda -- lupa (sebab lena) bahwa bangsa ini punya talenta yang juga bisa menandingi mereka.

Oleh sebab itu, apa yang disampaikan oleh Puan, adalah pengingat, penyentil, penyadar bahwa keterlenaan kita -- kaula muda -- tidak usah terlalu berlebihan. Dukungan pada klub besar tak boleh mengalahkan cinta pada bangsanya sendiri.

Apa efek dari mengingatkan seperti itu?

Adalah munculnya kesadaran untuk memberikan dukungan yang tinggi bagi sepakbola nasional yang masih jauh dari sepakbola besar dan mereka butuh dukungan yang luar biasa besar dari suporter nasional untuk berbenah, untuk bisa bersaing dengan sepakbola luar negeri.

"Kita bayangin saja, nonton bola Indonesia lawan apa gitu misalnya Inter Milan. Lho kok belainnya Inter Milan bukan Indonesia. Padahal lawannya putra bangsa dan main di Gelora Bung Karno. Kita binggung kalo lawan cetak gol pada bersorak. Kalo kita yang bikin gol malah dicemooh. Boleh saja kita ngefans dengan mereka. Tapi kalau pemain lokal tidak bisa mencetak gol, ya jangan dicemooh. Harus ada jiwa nasionalisme," kata Puan saat ditanya wartawan Liputan6.com.