Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", "Exploring Hungary"&"Unbelievable Germany", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Napak Tilas Perjuangan Jerman di Normandie, Perancis

14 November 2017   22:35 Diperbarui: 14 November 2017   22:48 843 3 2
Napak Tilas Perjuangan Jerman di Normandie, Perancis
Pantai Sword, Normandie (dok.Gana)

Setiap hari jalan kaki 16 km keliling Paris, kaki serasa bengkak seperti kaki gajah. Byuhh. Ya, senang, ya capek. Pokoknya, nano-nano.

Sampai suatu hari,  kami bosan berada di Paris dan suami usul keluar dari kota menuju tempat yang agak sepi.

"Kita ke Normandie, yuk?"

"Lihat apa?"

"Pantai ..."

"Aduuuuh, dingin, pak. Kalau musim panas asyik, bisa piknik di atas pasir, bangun istana pasir, mainan air ...."

"Ayolah, ada sejarah Jerman tersimpan di sana."

Begitu mendengar ada sesuatu yang menarik di Normandie, telinga saya berdiri tapi tidak seperti telinga Star trek, lho.

Kami pun berangkat pagi-pagi, usai sarapan di hotel. Maklum, paling tidak 2,5 jam baru sampai di sana. Kalau kesiangan, dapat apa di sana? Keburu gelap karena musim dingin membuat matahari lekas lelah menampakkan diri.

Sebenarnnya dalam acara jalan-jalan, rencananya kami berbagi jadwal menyetir. Eeee, begitu tahu orang-orang di Perancis cara menyetirnya sangat jauh dari gaya menyetir orang Jerman, saya menyerah. Oh, tidaaaak. Saya tidak berani menyetir di sana. Coba, deh. Waktu ada di lingkaran Arc de Triomphe, suami hampir saja ditabrak dari kanan dan kiri. Sampai saya selalu teriak "Awas- awas-awasssssssss." Ya, ampuuuunnn ... entah mengapa cara menyetir mereka berbeda dengan di negeri tumpangan saya. Huff, semrawut! Bahkan garis-garis di jalan kurang banyak dan tidak sedetil di Jerman.

Mengenang jasa pahlawan (dok.Gana)
Mengenang jasa pahlawan (dok.Gana)
Nama-nama serdadu gugur di pantai Sword (dok.Gana)
Nama-nama serdadu gugur di pantai Sword (dok.Gana)
Seafood yummy (dok. Gana)
Seafood yummy (dok. Gana)
Pantai Amis

Perjalanan dari Paris ke Normandie sangat menyenangkan. Tidak macet dan pemandangan yang cantik. Lihatlah jembatan yang ada di depan mata. Wow, wujud teknologi dikawinkan dengan seni, ciri orang Perancis. Cantik!

Tak berapa lama, kami pun sampai di Normandie. Parkir di depan rumah-rumah nelayan gaya lama Normandie, kami menuju pantai. Setiba di sana, kami menutup hidung. Uhhhh, bauuuu. Rumput laut dan kulit kerang berserakan di mana-mana. Beberapa orang Perancis berjalan-jalan, bahkan ada yang berlari, bukan karena mau ke toilet tapi olah raga. Brrrrrr.

Lalu suami saya cerita bahwa jaman PDII, banyak mayat tergeletak di garis pantai Sword. Pasti waktu itu menyedihkan sekali keadaannya, jaman penjajahan nggak enak. Di sebuah titik, ada tugu yang memperingati kejadian jaman itu.

Tak terasa, kaki kami berhenti di sebuah restoran. Hmm, pengen coba makanan Perancis daerah laut. Ya, mau makan seafood! Makanan segar dari laut yang harganya sebenarnya tidak mahal. Untuk udang 250 gram, 9,50 euro. Satu paket seafood berisi Oyster, keong dan udang 13 euro. Di Jerman sudah mahal lagiiii .... Buat yang tidak kuat amisnya (meski sudah digodog), jangan makan ya, takut muntah. Huekkk.

Kami pun duduk di luar restoran karena matahari ramah menyapa.

"Can you speak English." Tanya saya. Kepalanya menggeleng sambil tertawa kecil.  Astagagagana, ia tidak bisa. Asumsi saya, tempat wisata banyak wisatawan asing, jadi butuh kemampuan bahasa Inggris meski "little-little I can" dari tenaga kerjanya. "Une chocholat au lait, un bouteille biere et deux orange, Madamme." Dengan PD saya kerahkan sisa bahasa Perancis untuk memesan minuman. Hahaha ... sudah 20 tahunan  yang lalu, lupa semua. Bahasa kalau tidak terpakai memang wes-hewes-hewes hilang. Suami ngakak istrinya bergaya, ngomongnya sambil ngeden, tekanan suara dari tenaga dalam.

 "Oui." Setelah mencatat, ia pergi ke dapur.

Tank bersejarah (dok.Gana)
Tank bersejarah (dok.Gana)
An unidentified Objective bukan UFO (dok.Gana)
An unidentified Objective bukan UFO (dok.Gana)
Kamuflase, bunker seperti rumah (dok.Gana)
Kamuflase, bunker seperti rumah (dok.Gana)
Di dalam bunker seperti ini .... (Dok.Gana)
Di dalam bunker seperti ini .... (Dok.Gana)
Bunker Jerman

SMP, Selesai Makan Pergi. Perut kenyang, kami teruskan jalan-jalan ke bunker Jerman di Normandie. Sesuai pesan whatsapp dari teman suami yang istrinya keturunan Perancis, kami menuju Le Grand Bunker Musee Le Mur De L'Atlantique. Museum yang mengabadikan bunker Jerman di Perancis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2