Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", "Exploring Hungary"&"Unbelievable Germany", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Kontainer Sumbangan Baju dan Sepatu Jerman

16 Juni 2013   17:14 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:56 1036 12 10
Kontainer Sumbangan Baju dan Sepatu Jerman
13713774272050750191

Baju bekas. Kalau mengingat kalimat ini selalu teringat pada palang merah Indonesia. Mereka ini biasa mengumpulkan baju bekas bagi para korban bencana. Biasanya dikumpulkan lewat sekolah-sekolah. Imagenya baju dibutuhkan orang saat banjir dan kawan-kawan.

Ternyata tidak demikian dengan di Jerman. Palang merah dan beberapa organisasi kemanusiaan lainnya rajin mengumpulkan baju second dari masyarakat dengan tempo terjadwal (entah ada bencana atau tidak).

Salah satu cara yang saya anggap unik di Jerman adalah dengan kontainer khusus pengumpulan baju dan sepatu (Kleider und Schuhe). Bisa setiap hari menyumbang.

Ya. Ini mengingatkan tak hanya warga Jerman tapi semua orang dimanapun berada, untukmerawat baju dengan baik dan benar agar terjaga kualitasnya dan bisa digunakan lagi oleh orang yang membutuhkan. Tak hanya dibuang namun disumbangkan kepada yang pantas menerimanya dan dimasukkan ke dalam kotak sumbangan yang tersedia.

Baju dan sepatu, disendirikan

Kotak yang lebih tinggi dari saya itu bisa dijumpai dimana-mana. Warnanya macam-macam (merah, hijau, putih, krem, kuning dan sebagainya). Meskipun ada kotak yang dicampur aduk, biasanya dibedakan (untuk kotak yang lebih besar). Satu kotak dengan lubang khusus baju. Satunya bagi lubang untuk sepatu. Barang-barang sebaiknya dimasukkan kedalam plastik agar tidak kotor. Sepatupun juga harus diikatkan bersama pasangannya agar organisasi tidak pusing dan biasa dituliskan dengan “(Natürlich auch Schuhe) bitte paarweise gebündelt!“

[caption id="attachment_268240" align="aligncenter" width="378" caption="Kotak sumbangan disebelah parkir restoran, ijo"][/caption] [caption id="attachment_268241" align="aligncenter" width="365" caption="Depot yang mengumumkan imbalan 1000€,krem"]

1371377483147661679
1371377483147661679
[/caption] [caption id="attachment_268242" align="aligncenter" width="355" caption="Kotak baju dan sepatu sebelah pub, merah."]
1371377582822845943
1371377582822845943
[/caption]

Jerman adalah negara yang memiliki 4 musim. Biasanya banyak masyarakat yang memiliki anak-anak kecil, akan cepat membeli baju baru disetiap musim. Bahkan ketika anak bertambah umur, kalau tidak bisa dipakai saudaranya lagi, harus dijual (kalau bermerk/unik) sementara yang tidak terjual masuk kotak sumbangan.

Pakaian pantas pakai itu tentunya memiliki kriteria tidak rusak, tidak berlubang, tidak cacat, masih pantas dipakai orang lain yang membutuhkan. Pengertian ini sebaiknya dipahami para penyumbang.

Ternyata di Jerman ada maling

Jika banyak kasus fasilitas umum di Indonesia dirusak orang yang tidak bertanggung jawab, kotak sampah dicuri dan masih banyak lagi lainnya, ternyata ini terjadi pula di Jerman (misalnya wilayah kami di Baden – Württemberg). Kotak sumbangan baju dan sepatu pernah beberapa kali diangkut oleh mobil yang bukan seharusnya.

Nah, gara-gara kontainer dicuri orang dan menyebabkan petugas resmi yang harus mengambilnya tak menemukan kotak, akhirnya banyak dipasang pengumuman siapa saja yang melihat sesuatu yang mencurigakan berkenaan dengan pengambilan kotak bukan dengan mobil resmi sesuai organisasi yang tertera dalam kotak dan segera melapor ke polisi terdekat, ditawari Belöhnung atau imbalan sebesar 1000€, 2500€. Wow. Itu hampir setara dengan Rp 12.000.000,00, Rp 50.000.000,00!!! Belum lagi pahala yang mengalir dari perbuatan baik ini, melaporkan tindak kriminal pencurian depot container demi kepentingan kemanusiaan.

Heran. Padahal biasanya tempat yang dipilih bisa dilihat banyak orang dan mudah untuk menuju kesana. Misalnya disebelah restoran, didekat toko roti, didepan sebuah toko, dipinggir jalan, area parkir umum dan masih banyak lagi. Masih juga kecolongan. Mungkin banyak orang tidak peduli siapa yang mengambil, apakah itu benar mobil dari organisasi A pemilik kotak A atau mobil organisasi B pemilik kotak A? Atau memang tidak awas??? Entahlah.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas depot container?

Sesekali saya menaruh pakaian yang sudah tidak dipakai tapi masih bagus di gift box (sembari lewat acara lain) lain waktu saya berikan kepada kawan yang memiliki anak. Kalau tidak ya, ikut kegiatan dari organisasi sosial itu, saya jadi mengikuti menyumbang baju dan sepatu dalam kantong plastik atau keranjang/tong plastik yang diletakkan didepan rumah (oleh lembaga yang bersangkutan) kalau kelewatan lewat kontainer sumbangan yang nongkrong dimana-mana, dibuka 24 jam.

Seorang warga dari Vietnam mengatakan bahwa ia lebih senang memberikan kepada orang yang dikenalnya. Jadi ketika ia sudah tidak ingin memakai baju-baju dari butik yang ia beli, ia menelpon kawannya untuk mengambil di rumahnya.

Pernah kompasianer Eberle bercerita ia ini lebih memilih menaruh pakaian yang masih bagus tapi lama di almari, di kotak sumbangan baju di kota. Katanya, ia bingung karena bisa jadi di Jerman orang tidak suka diberi baju bekas orang lain. Depot itu menjadi solusi terbaik. Enak sama enak.

Beberapa orang yang lain, lebih senang menunggu sampai mendapat plastik atau keranjang dan menaruhnya didepan rumah (karena nanti dijemput organisasi pada waktu yang ditentukan sesuai pengumuman di plastik). Jadi tidak perlu repot menuju kotak sumbangan baju dan sepatu tadi.

Seorang ibu-ibu umuran 60 mengatakan kepada saya bahwa ia tidak peduli siapa penerima sumbangan baju dan sepatu atau akan dikemanakan dibagaimanakan barang-barang itu. Mau Afrika, mau Indonesia, mau EU terserah. Yang jelas niatnya baik. Cukup.

Secara pribadi, saya ikut menyambut baik menjamurnya kotak ini. Tahu sendiri, orang-orang di Jerman suka membuang barang bagus. Ada baru seminggu, sofa sudah tidak suka, lalu panggil tukang sampah dan masuk truk sampah. Katanya repot harus mencari siapa yang mau, sudah tak sabar melihat rumah bersih atau ada tempat untuk sofa yang lebih baru lagi.

Ughhh … Padahal saya saksikan sendiri bagaimana kontainer truk itu menggilas sofa … mak kletukkk. Keras sekali bunyinya. Rata sudah sofa bagus itu bersatu bersama sampah yang lain didalamnya. Pikiran saya langsung melayang ke Indonesia, oooh … banyak orang butuh!

Kotak sumbangan itu untuk apa?

Di plastik besar ukuran tong sampah besar biasa dibagikan ke masyarakat bersama prospek koran/majalah/iklan yang disebar Zusteller. Loper kertas ini biasanya umuran 14 tahun keatas, ibu-ibu paruh baya atau lansia. Mereka memasukkan ke kotak pos masing-masing warga setiap seminggu sekali. Kabarnya honornya 80 €sebulan (total 4 hari/sebulan).

Diplastik yang dibagikan (ada yang kuning, putih, merah, biru …), tercetak tulisan 5W 1H secara singkat padat. Konon, ini untuk diteruskan kepada orang yang lebih membutuhkan (daripada dibuang sayang). Bayangan saya, barang akan disortir dan dikirim kepada mereka langsung.

Oh. Ternyata, dalam sebuah berita di sebuah channel TV Jerman, memberitakan bahwa sumbangan dari kotak itu biasanya akan dipilih lagi dan disortir untuk dijual. Penjualannya disalurkan untuk kegiatan kemanusiaan oleh organisasi yang mengurusinya. Misalnya Palang Merah Jerman DRK, Samaritan, Stiftung dan sejenisnya.

Di Tuttlingen sendiri, ada sebuah toko barang second (mulai pecah belah, baju, buku sampai sepatu) yang dikelola oleh Diakonie. Ini organisasi kemanusiaan kelolaan gereja yang membuka usaha penjualan sumbangan dari masyarakat. Harga yang dipatok rendah meskipun terkadang barang yang dijual belum terpakai dan masih baru, bahkan bermerk. Bisa berawal dari 50 sen atau 1€. Ini potret nyata bahwa sumbangan masyarakat tidak sia-sia ….

Hmm … Entahlah, bayangan saya bahwa ini akan dikirim ke luar negeri yang terkena bencana sebenarnya hanya gambaran yang saya lihat di tanah air. Mungkin di Jerman lebih praktis begitu. Dijual, baru dananya dipergunakan sebagaimanmestinya untuk kepentingan sosial.

***

Begitulah gambaran kotak sumbangan baju dan sepatu ini dimana-mana. Semoga suatu hari ada di tanah air (atau sudah???). Dengan satu catatan, dirantai atau pakai sensormatik biar tidak dicuri seperti di Jerman. Bisakah diujicobakan ???

Saya yakin, ini memperluas kesempatan menyumbang, mengingatkan orang ada orang lain yang membutuhkan, menekan orang untuk tidak menimbun baju dan sepatu (ha-ha perempuan biasanya), meningkatkan kesadaran/kemandirian dalam menyumbang dan tentu menabung pahala. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?

Bagaimanapun, inti pesan depot kontainer baju dan sepatu Jerman ini kepada saya adalah “Rawatlah baju dan sepatumu baik-baik dan jangan engkau buang, tidak pula menumpuk di almari. Masih ada orang yang membutuhkan, Gana ….“ (G76).