Mohon tunggu...
Fajar R. Wirasandjaya
Fajar R. Wirasandjaya Mohon Tunggu... www.narasiinspirasi.com

Langkah kecil untuk kemanusiaan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Spiritualisme Masyarakat Jawa

16 Agustus 2019   22:21 Diperbarui: 17 Agustus 2019   09:10 0 0 0 Mohon Tunggu...
Spiritualisme Masyarakat Jawa
Ilustrasi Masyarakat Jawa/google.com

Spirit mengandung arti semangat, kehidupan, pengaruh, antusiasme. Spirit sering diartikan sebagai ruh atau jiwa. Jadi arti kiasannya adalah semangat atau sikap yang mendasari tindakan manusia. Filsafat hidup masyarakat Jawa, menanamkan suatu kesadaran kosmologis di mana kita harus menghargai, menghormati, dan memperlakukan seluruh benda hidup maupun benda-benda tidak hidup dengan cara adil, bijaksana serta penuh kasih sayang.

Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek: 1. Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan 2. Menemukan arti dan tujuan hidup. 3. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri. 4. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi.

Konsep spiritualisme masyarakat Jawa berdimensi pada dua wilayah :

  1. Kepada sesama manusia (horisontal)
  2. Kepada Tuhan (vertikal)

Pergaulan antar sesama yang bersifat horisontal terwujud dalam simbol bahasa masyarakat Jawa yang berbunyi,

a. Tepa Salira
Tpa : ukuran, pertimbangan, perkiraan
Salira/slira : diri sendiri
Artinya segala sikap, ucapan, perbuatan pada orang lain terlebih dulu dibayangkan dirasakan bila diterapkan pada diri sendiri.

b. Empan papan

  • Empan : penerapan
  • Papan : tempat

Orang Jawa memiliki anggapan bahwa kebenaran suatu sikap dan tindakan itu sifatnya relatif. Artinya benar pada suatu waktu dan tempat tertentu, bisa menjadi salah bila dilakukan pada waktu atau tempat lain. Bisa diartikan dimana bumi kupijak disitu langit ku junjung. Empan papan berarti keluwesan lahir batin untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di suatu waktu dan tempat tertentu, mendudukkan diri dengan tepat sasaran, tahu dengan siapa berhadapan dan bisa membawa diri dengan baik, tahu suasana.

c. Manjing ajur ajer
Manjing : masuk
Ajur : melebur
Ajer : mencair
Artinya dalam pergaulan, komunitas atau lingkungan kerja& lingkungan masyarakat seseorang harus bisa masuk, ikut melebur dan mencair (bermasyarakat), menyatu dengan lingkungan, beradaptasi dan akrab dengan orang orang disekitarnya.

Konsep diatas menganjurkan orang Jawa selalu menempatkan dirinya secara adaptif dimanapun berada. Bergaul dengan daya empati yang tinggi. Artinya mampu merasakan dan memahami kesulitan sesama. Bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi orang Jawa seharusnya bisa menjasi teladan, rujukan bahkan bisa menjadi panutan sehingga dimanapun dirinya bertempat tinggal akan selalu dihormati dan mudah diterima oleh orang lain. Sehingga tercipta hubungan harmonis dan terhindar dari konflik yang tidak perlu akibat salah membawa diri.

Sementara itu dimensi religiusitas orang Jawa yang bersifat vertical diukur dari pemahaman dan tindakan konkretnya terkait hubungan antara hamba dengan Tuhan nya. Menyadari hal itu orang Jawa selalu berusaha menempatkan dirinya secara tepat. Simbol simplifikasi kebahasaan semacam "ngawula" (taat kepada Tuhan) dan "mung titah sawantah" (hanya hamba sahaya) "tepa slira" (memahami orang lain) menjadi karakter asli sikap religius orang Jawa (Hardjowirogo, 1986: 56).

Inilah dasar keimanan yang pada gilirannya melahirkan sejumlah pengakuan keyakinan luar biasa yang sarat semangat spiritualitasme yang tinggi :

  1. Narima ing pandum (menerima pembagian )
  2. Wong mung saderma nglakoni, sumarah (orang hanya menjalani, pasrah)
  3. Kabeh wus pinasthi (semua sudah ditakdirkan).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x