Gayahidup highlight

Cita-cita? Wujudkan dengan Kombinasi Tekad dan Kebutuhan

20 Juni 2017   18:22 Diperbarui: 20 Juni 2017   18:38 234 4 2

Seorang wanita menatap sepatu yang baru dia beli dengan “sedikit” tercenung dan menggumam dalam hati “Hmm, sebenarnya gak terlalu butuh sepatu ini..”. Kenapa saya katakan   dengan kata  “sedikit” tercenung? Apa memang hanya sedikit? Iya, hanya sedikit, karena ada rasa lain yang lebih besar yaitu rasa senang memiliki sepatu yang diinginkannya. Umumnya perempuan senang dengan benda seperti sepatu yang belum ada dikoleksinya, jangan tanya berapa koleksinya tapi memang yang modelnya seperti ini belum ada, sehingga dengan banyak kompromi umumnya perempuan sering katakan pada diri sendiri “Yang begini belum aku punya, aku suka dan beli saja dan kebetulan baru dapat THR..sekali aja, tidak apa-apa”.

Apa yang sedang saya bicarakan? Ada sebuah rasa yang bernama “rasa senang dan puas” ketika memiliki sesuatu yang belum dimiliki. Mungkin rasa ini yang membuat gaji tidak pernah cukup atau seharusnya yang bisa disimpan jauh lebih besar tapi koq jadinya tabungan gak naik naik? Prioritas Hidup tidak ada? Mungkin rasa yang satu ini belum diatasi.


Positif dan Negatif Rasa Tidak Puas

Secara naturalnya manusia selalu menginginkan hal yang tidak dia punya atau kata lain, tidak puas itu sudah menjadi ciri alami sebagai seorang manusia. Kita harus menerima natur ini, setuju atau tidak setuju agar kita bisa cari solusinya. Sadar atau tidak sadar Orang tua, saudara, tetangga, guru di sekolah, dll sudah menuntut kita sejak kecil untuk tidak berhenti di hal hal yang sudah kita miliki. Apakah ini salah? Tentu tidak. Ini adalah positif, sehingga secara natural kita berkembang, ingin lebih baik, ingin berprestasi, memiliki cita cita. Sebab adalah juga tidak baik apabila kita cepat puas dan berhenti menginginkan sesuatu. 

Seorang Ayah yang punya potensi untuk mengembangkan karirnya yang juga berdampak pada peningkatan ekonominya, tapi tidak mau berusaha lebih keras karena sudah puas dengan apa yang sudah dipunyainya, maka ekonominya yang seharusnya masih bisa dikembangkan jadi berhenti dan terpuruk di titik itu, anak anak tidak sekolah ke jenjang yang lebih baik, rumah ngontrak, makanan pas pasan, dll yang seharusnya bisa perbaiki kalau  si Ayah tidak cepat puas dan mau berusaha kebih keras.

Namun, perlu kita awas, rasa tidak puas yang dimiliki secara natural ini membuat seseorang sulit membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Apakah kedua kata ini penting dibedakan? Secara kamus kedua hal ini mungkin tidak terlalu berbeda, tapi realitanya, orang yang tidak bisa membedakan kedua kata ini akan sering mengambil keputusan yang salah. Manusia butuh makan, kita semua mengakuinya. Tapi makan enak di restoran setiap hari bukanlah kebutuhan manusia. Kebutuhan dan keinginan harus ditelisik dalam mewujudkan cita cita, kalau tidak kita tidak akan bisa menempatkan mana yang menjadi prioritas hidup.

Kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang berbeda dan seharusnya orang dewasa bisa membedakannya dengan mudah. Ada pengalaman yang saya rasa baik untuk dibagikan dalam topik ini. Saya bersama suami memiliki kesempatan untuk study di negeri tetangga, Filipina. Negara ini cukup maju dari segi pendidikan sebab bahasa pengantar di sekolah formal adalah bahasa Inggris. Sehingga mereka tidak perlu menterjemahkan buku buku bermutu dari luar kedalam bahasa Tagalog, karena dengan natural mereka akan melahap buku buku dalam bahasa Inggris, itu yang membuat mereka cukup berkembang dalam pendidikan. 

Dalam masa akhir study saya, saya berniat memanfaatkan kelebihan bangsa ini dalam bahasa Inggrisnya dengan berencana mengambil sertifikat mengajar bahasa Inggris yang bertaraf Internasional. TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) adalah sasaran saya, mengingat sertifikat ini adalah dikhususkan untuk orang orang yang akan mengajar Bahasa Inggris baik tatap muka ataupun On line.

Saya membutuhkan sertifikat ini, saya sangat ingin mengembangkan kemampuan bahasa Inggris saya dan sangat ingin memiliki sertifikat sebagai alat untuk mengajar, mengingat latar belakang pendidikan saya bukan bahasa Inggris, sehingga sertifikat ini akan sangat menolong saya mewujudkan impian saya untuk menjadi pengajar bahasa Inggris sekembali ke Indonesia. Tapi ternyata biayanya tidak murah, sangat mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya. Karena beasiswa yang saya dapat selama study tidak cukup apabila dipakai untuk mengambil sertifikat ini.

Saya mendiskusikan situasi itu dengan suami dan kami bekerja sama untuk mewujudkan impian itu. Kami mulai dengan membuat pengelolaan keuangan yang lebih ketat dan terencana. Dengan sungguh sunggguh membedakan apa itu keinginan dan apa itu kebutuhan. Dan saya menyadari kelemahan perempuan seperti saya yang senang dengan apa yang belum saya miliki dari segi barang barang yang cantik dan elok dilihat. Sehingga pada saat itu saya selalu bertanya kepada suami saya setiap kali hendak membeli sepatu atau baju “Pa, menurut Papa saya butuh ini gak?” lalu dia akan bilang “Mama memang gak punya yang persis seperti ini tapi mama sudah punya barang sejenis..jadi kayaknya gak butuh deh..” tapi kali lain dia akan berbaik hati dan mengatakan “Keren lho ma, ambil aja..mama kan butuh untuk ..bla..bla..” keputusan saya untuk tidak memutuskan sendiri ternyata sangat menolong. 

Sampai sekarang sekembali ke Indonesia kebiasaan menanyakan pendapat suami selalu saya lakukan, karena saya sadar sering kebablasan membeli sesuatu yang menurut saya kebutuhan padahal hanya keinginan. Membedakan keinginan dan kebutuhan menurut saya harus menjadi kebiasaan, karena terlalu banyak yang elok elok di luar sana, apalagi dalam situasi menjelang lebaran seperti ini..diskon dimana mana, sehingga kita kalap dan kerap berkata “Mumpung diskon..cuma sekali setahun koq belinya”..padahal belum tentu barang barang yang ditawarkan itu adalah kebutuhan.

Hal kedua yang saya rasa sangat menolong saya adalah tekad. Saya membulatkan tekad untuk memprioritaskan apa yang saya cita citakan itu. Saya menyadari bahwa mengambil kursus bersertifikat dalam masa kuliah saya yang sedang berjalan sangat tidak gampang, butuh strategi dan strategi yang sudah dirancang harus didasari dengan tekad yang kuat, baru bisa berhasil. Saya mencari informasi tempat kursus yang mengeluarkan sertifikat itu dan meng-email mereka satu demi satu, dan saya lihat balasan balasan mereka, akhirnya pilihan saya jatuh pada satu instansi yang menawarkan kursus disaat saya liburan musim panas (Summer Holiday). 

Pertemuan sebanyak 7 kali pertemuan, setiap hari Sabtu, dari pukul 8 pagi sampai 4 sore. Kursus ini sangat berat, banyak tugas tugas dan evaluasi evaluasi karena mereka mempertaruhkan nama baik instansi mereka karena sertifikatnya bisa berlaku secara internasional.  Saya harus meninggalkan anak dan suami saya sebanyak 7 kali setiap hari sabtunya atau sekitar satu setengah bulan. Bangun pagi pagi, sepulang kursus harus menyiapkan tugas tugas yang akan di presentasekan di hadapan team pengajar, sangat berat dan cukup stress. 

Selama mengikuti kursus ini praktis saya tidak bisa menikmati liburan musim panas. Summer holiday yang biasanya akan sangat kami pakai bersama sama dengan mahasiswa internasional lain untuk explore negeri ini, karena liburan panjang sangat jarang, cuma sekali setahun, tapi kali itu tidak bisa saya pakai. Saya akui saya sangat lelah setelah kuliah regular saya butuh liburan, tapi saya rela menggunakan waktu liburan untuk mengambil kursus bersertifikat. Dengan tekad yang kuat, hati yang bulat, membuat saya bisa memprioritaskan first thing first.  Dengan jelas saya melihat kombinasi Tekad dan mendahulukan kebutuhan sangat menjadi sebuah harmoni yang memampukan saya untuk bisa mengelola keuangan dan memprirotaskan apa yang saya cita citakan.

Sebenarnya zaman sudah canggih, dengan smart phone ditangan, aplikasi aplikasi yang ditawarkan seperti di Jenius, tinggal permainan jari saja maka apa Pilihan Jenius tentang financial planning dengan pertolongan yang ditawarkan aplikasi ini bisa kita dapatkan dengan mudah. Masalahnya adalah apakah kita serius dengan cita cita kita? Apakah kita bertekad untuk mewujudkannya? Apabila kita bertekad maka kita akan seleksi apa apa saja keinginan kita dan mengurutkan yang menjadi kebutuhan di financial planning atau Pengelolaan keuangan kita, niscaya kita akan meraih cita cita kita.

Sekali lagi saya katakan, rasa tidak puas adalah natural kita miliki sebagai manusia. Positifnya hidup kita akan berkembang dan memang harus berkembang, karena Tuhan sudah titipkan hal hal baik dalam diri kita yang harus kita kembangkan. Tapi kita harus awas, rasa tidak puas itu juga bisa jadi bom waktu yang meluluhlantakkan cita cita kita, karena tidak bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Rasa tidak puas harus dikendalikan. Pengelolaan Keuangan harus dilakukan. Mari raih cita cita dengan tekad yang bulat dengan memprioritaskan kebutuhan. First thing first! Semoga bermanfaat.

==