Mohon tunggu...
Frederikus Suni
Frederikus Suni Mohon Tunggu... Pengais Aksara dan Penikmat Imajinasi

Manusia hidup dalam dua dimensi, yaitu dimensi terang dan dimensi gelap. Dimensi kelahiran dan kematian. Manusia tak pernah memilih keluarga, tempat dan negara di mana ia dilahirkan. Yang terpenting bagi manusia adalah menghargai arti dan makna kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Lidah Palsu Demokrasi

18 Oktober 2020   18:59 Diperbarui: 18 Oktober 2020   19:01 496 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lidah Palsu Demokrasi
Pixabay;

Nabi adalah penyambung lidah Sang Pencipta (Tuhan) kepada umat-Nya. Demokrasi juga mempunyai penyambung aspirasi rakyat. Lantas, lidah-lidah penyambung demokrasi hanya numpang lewat mencari ketenaran dan kekayaan. Ketenaran dan kekayaan adalah dua hal yang diincar oleh para utusan Sang Pencipta dan Demokrasi. Padahal, hakekat nabi/penyambung lidah adalah memperjuangkan apa itu kebenaran.

Setiap menjelang pesta Demokrasi, banyak menjamur lidah-lidah rakyat yang mengatasnamakan ketidakadilan. Ribuan provokasi terdengar di setiap sudut desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga Pusat. 

Setiap provokasi berpotensi menghancurkan persatuan. Karena provokasi adalah sarana marketing para penyambung lidah rakyat yang super power/dahsyat. Kekuatan maha dahsyat ada pada setiap sisi tergelap dan terlemah rakyat yakni psikologisnya.

Para penyambung lidah rakyat memiliki tendensi mengadu - domba. Karena bangsa Indonesia sangat mudah untuk dihancurkan hanya melalui rasis. 

Mengingat bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman. Jadi, sarana yang paling mudah dan cepat adalah mengumbar kamar orang lain di depan publik. Otomatis banjir kebencian menjamur dari hilir menuju hulur sungai Indonesia. 

Kebencian bak virus yang menjangkiti setiap orang. Bila zaman dahulu para utusan Tuhan membawa misi persatuan umat-Nya. Kini, utusan demokrasi adalah pembawa kebencian. 

Sumber dari masalah ini adalah keinginan untuk memiliki segalanya. Karena manusia tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. Istilah kerennya adalah kenikmatan semu/sesaat. Layaknya, kenikmatan bercinta antar pasangan.

Sesuai dengan riset yang saya amati di lingkungan sekitarku, media sosial rawan terhadap isu-isu seputar SARA. Karena para pengguna media sekarang sangat sensitif. Kehadiran media sosial sebagai pengganti propaganda yang sangat elegan dan efektif bagi para penyambung lidah demokrasi. Psikologis rakyat dibombardir dengan aneka wacana yang menuai banyak kontroversi. 

Sebagai jalan tengah untuk memilih antara nabi/penyambung lidah demokrasi yang tulus dan tidak adalah melalui langkah berikut ini:

1. Background/latar belakang

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN