Mohon tunggu...
Sigit Santoso
Sigit Santoso Mohon Tunggu... Peduli bangsa itu wajib

fair play, suka belajar dan berbagi pengalaman http://fixshine.wordpress.com https://www.facebook.com/coretansigit/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kenanglah Papua dalam Harmoni

5 September 2019   09:22 Diperbarui: 5 September 2019   09:27 51 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenanglah Papua dalam Harmoni
Saat Presiden Jokowi menggendong anak-anak Papua (source : http://indonesiasatu.co)

Papua itu pulau idaman Indonesia yang seharusnya menjanjikan. Orang-orangnya sebenarnya ramah dan punya tekad kuat. Namun sesuatu pasti telah membuat mereka bergolak.

Sebenarnya juga kurang apa pemerintahan Presiden Joko Widodo memperhatikan Papua dari pembangunan infrastruktur hingga memberi porsi Freeport ke Papua sendiri. Namun pasti ada saja provokasi yang sengaja ditimbulkan sehingga bara sekam ketertinggalan, ketidakadilan, bahkan ketidakberpihakan sengaja yang seharusnya makin meredupalah jadi membara kembali.

Di alam demokrasi, suara-suara keinginan merdeka sendiri memang boleh saja punya panggung.  Ya, indahnya demokrasi memang suara-suara minor bisa bebas bergerak.

Tinggal bagaimana cara dibaca dalam bingkai NKRI dan disikapi dengan bijak bahkan dalam eskalasi kegentingan tertentu diberi ketegasan.

Yang mengherankan adalah bagaimana insiden jatuhnya bendera merah putih di Surabaya yang jauh sekali dari Papua bisa memicu aksi berlebihan dan kerusuhan. Sesuatu yang masih dicari dalangnya tapi buru-buru digerakkan sebagai stigma penghinaan bagi saudara-saudara kita di papua.

Keterangan resmi dari pihak berwajib bisa dinafikkan. Kronologi fair bahwa aparat netral menjaga bentrokan dua kubu ber jam-jam kalah populer dengan aksi pendobrakan asramanya. Ya berita yang fair memang sering kali kalah dengan kepentingan pemberitaan itu sendiri.

Provokasi itu perlu peristiwa tragis. Karena akan menjadi bahan bakar bagus menggalang sentimen dan ajakan aksi massa. Begitu massa berkumpul dibentrokkan dengan aparat. Aparat yang tegas akan dipersepsikan bengis dan kejam menindas rakyat.

Cukup ? Tidak.

Disitu point negosiasi. Meminta duduk perundingan kemudian memaksakan tuntutan pada dengan memanfaatkan dukungan internasional yang juga punya kepentingan "proxy" pada Papua.

Skenario terbaik win win solution dengan pemberian fasilitas khusus. Skenario terburuk ya aksi militer.

Dan ancaman disintegrasi seperti ini Indonesia bukan anak kemarin sore. Tengoklah sejarah banyaknya pemberontakan separatis di era Sukarno. Yang terlepas adalah Timor Leste jaman Habibie. Yang elegan sekaligus tegas adalah Aceh dengan Hasan Tiro-nya.

Pelajarannya bagi para pemimpin dan negarawan adalah berhitung dengan cermat. Segala penindakan pada porsinya itu adalah hal yang terbaik.

Penangkapan provokator adalah tepat, tetapi mengerahkan aparat berlebihan akan membuat ketakutan dan perasaan akan dijajah dan ditindas.

Sehingga massa rakyat papua yang bergolak adalah objek, dan lebih sering menjadi korban daripada menjadi yang akan disejahterakan.

Lihatlah spanduk yang dipampang di depan asrama papua yang isinya menolak kedatangan wakil pemerintah yang sah. Padahal boleh jadi ada permohonan maaf dan fasilitas-fasilitas khusus. Provokatornya memang ingin drama yang lebih besar. Namun nasib yang digaris depan kerusuhan, yang dibenturkan dengan aparat, yang setelah berdemo malah tak berani pulang tanpa jaminan keselamatan, tak jelas.

Ada sebagian pihak di Papua sana juga yang tetap menginginkan harmoni. Karena ketika kembali ke nilai-nilai luhur kemanusiaan, keberadaban, keseimbangan antara bumi dan penghuninya, apalah arti kekuasaan tanpa bisa bertanggung jawab atas pengelolaannya. Yang mau penulis katakan adalah ada hal-hal final, ada hal-hal yang masih terbuka untuk dialog. 

Karena tidak mungkin semua tuntutan terpenuhi sebaliknya tidak semua tuntutan akan menjawab semua masalah. Bahwa ada masalah jelas ya, ini karena banyaknya ketertinggalan dari pembangunan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Namun jika itu sudah berbicara tentang tuntutan merdeka ini jelas makar.

seperti halnya quote-quote legendaris Presiden Joko Widodo

".. Saya membuka diri, kepada siapapun untuk bersama-sama bekerja sama membangun negara ini,"

".. Saya tahu ada ketersinggungan, oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan,"

Ketika akibat kerusuhan sudah memberikan kerugian demikian besar di beberapa daerah. Pertanyaannya apakah akan diteruskan ? Jika diteruskan siapa yang akan mengambil keuntungan ? Mari mengambil saja pelajarannya daripada menghabiskan energi untuk terus bersitegang yang jawabannya sudah pasti kerugian di semua pihak. Yang tertawa mereka yang memprovokatori dibalik ketika dan share berita-berita iblisnya yang jelas sangat suka akan pertikaian, amarah dan kebencian satu sama lain.

Sebaiknya kenanglah momen ini ketika Presiden Joko Widodo menggendong anak-anak Papua, saya sempat meneteskan mata terharu kalau ingat momen ini. Inilah momen kecintaan Negara pada bangsanya, inilah Pemimpin pada rakyatnya dimanapun pelosok dia berada. Jikalau sekarang sedang terluka kasih sayang itu tak berkurang, justru saatnya sekarang mengobati luka itu bersama.

VIDEO PILIHAN