Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Kenanglah Papua dalam Harmoni

5 September 2019   09:22 Diperbarui: 5 September 2019   09:27 51 0

Papua itu pulau idaman Indonesia yang seharusnya menjanjikan. Orang-orangnya sebenarnya ramah dan punya tekad kuat. Namun sesuatu pasti telah membuat mereka bergolak.

Sebenarnya juga kurang apa pemerintahan Presiden Joko Widodo memperhatikan Papua dari pembangunan infrastruktur hingga memberi porsi Freeport ke Papua sendiri. Namun pasti ada saja provokasi yang sengaja ditimbulkan sehingga bara sekam ketertinggalan, ketidakadilan, bahkan ketidakberpihakan sengaja yang seharusnya makin meredupalah jadi membara kembali.

Di alam demokrasi, suara-suara keinginan merdeka sendiri memang boleh saja punya panggung.  Ya, indahnya demokrasi memang suara-suara minor bisa bebas bergerak.

Tinggal bagaimana cara dibaca dalam bingkai NKRI dan disikapi dengan bijak bahkan dalam eskalasi kegentingan tertentu diberi ketegasan.

Yang mengherankan adalah bagaimana insiden jatuhnya bendera merah putih di Surabaya yang jauh sekali dari Papua bisa memicu aksi berlebihan dan kerusuhan. Sesuatu yang masih dicari dalangnya tapi buru-buru digerakkan sebagai stigma penghinaan bagi saudara-saudara kita di papua.

Keterangan resmi dari pihak berwajib bisa dinafikkan. Kronologi fair bahwa aparat netral menjaga bentrokan dua kubu ber jam-jam kalah populer dengan aksi pendobrakan asramanya. Ya berita yang fair memang sering kali kalah dengan kepentingan pemberitaan itu sendiri.

Provokasi itu perlu peristiwa tragis. Karena akan menjadi bahan bakar bagus menggalang sentimen dan ajakan aksi massa. Begitu massa berkumpul dibentrokkan dengan aparat. Aparat yang tegas akan dipersepsikan bengis dan kejam menindas rakyat.

Cukup ? Tidak.

Disitu point negosiasi. Meminta duduk perundingan kemudian memaksakan tuntutan pada dengan memanfaatkan dukungan internasional yang juga punya kepentingan "proxy" pada Papua.

Skenario terbaik win win solution dengan pemberian fasilitas khusus. Skenario terburuk ya aksi militer.

Dan ancaman disintegrasi seperti ini Indonesia bukan anak kemarin sore. Tengoklah sejarah banyaknya pemberontakan separatis di era Sukarno. Yang terlepas adalah Timor Leste jaman Habibie. Yang elegan sekaligus tegas adalah Aceh dengan Hasan Tiro-nya.

Pelajarannya bagi para pemimpin dan negarawan adalah berhitung dengan cermat. Segala penindakan pada porsinya itu adalah hal yang terbaik.

Penangkapan provokator adalah tepat, tetapi mengerahkan aparat berlebihan akan membuat ketakutan dan perasaan akan dijajah dan ditindas.

Sehingga massa rakyat papua yang bergolak adalah objek, dan lebih sering menjadi korban daripada menjadi yang akan disejahterakan.

Lihatlah spanduk yang dipampang di depan asrama papua yang isinya menolak kedatangan wakil pemerintah yang sah. Padahal boleh jadi ada permohonan maaf dan fasilitas-fasilitas khusus. Provokatornya memang ingin drama yang lebih besar. Namun nasib yang digaris depan kerusuhan, yang dibenturkan dengan aparat, yang setelah berdemo malah tak berani pulang tanpa jaminan keselamatan, tak jelas.

KEMBALI KE ARTIKEL