Mohon tunggu...
Fitriyani Sinaga
Fitriyani Sinaga Mohon Tunggu... Pembelajar

Informasi dan pengetahuan Mari berpengetahuan https://www.kompasiana.com/Forest Space https://www.kompasiana.com/Fotriyanisinaga IDN.Times/FitriyaniSinaga Www.kesah.id Ruanghutani.bloggspot.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Forest City : Kaltim Pusat Tumbuhan Endemik untuk Cegah Kepunahan Satwa

19 Mei 2020   10:54 Diperbarui: 19 Mei 2020   14:28 73 0 0 Mohon Tunggu...


Kajian Lingkungan Hidup Strategis ( KLHS) Ibu Kota Negara ( IKN) yang telah dirampungkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan memuat 6 poin dasar pembangunan dan penyusunan rencana IKN telah diluncurkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Peluncuran ini menegaskan dimasukkannya Seluruh kawasan Hutan Konservasi Bukit Soeharto dalam kawasan ibu kota baru.  



Informasi tersebut telah dikonfirmasi oleh Menteri perencanaan pembangunan nasional (PPPN)/kepala Bappenas, bambang Brodjonegoro dan Deputi Bidang Pengembangan Regional, Bappenas, Rudy SoeprihadyPrawiradinata, dalam diskusi IKN di Bappenas .


Kalimantan merupakan pusat ekosistem hutan hujan tropis Asia Tenggara(Indo-Malayan Rain Forest), yang mana di dunia hanya ada 3 wilayah hutan hujan tropis di mana 2 wilayah lain adalah American Rain Forest (Amazone),, dan African Rain Forest (Kongo, Zaire) (Whitmore, 1984), yang merupakan paru paru dunia, karena selalu hijau dan selalu berfotosintesa secara terus menerus  sepanjang tahun yang menyiapkan oksigen bagi seluruh dunia.



Kawasan ibu kota baru seluasn 265.000 Ha yang terletak di kawasan PPU dan Kutai Kartanegara aslinya sebagian besar merupakan daerah dataran rendah dengan ekosistem hutan hujan tropis, yang merupakan salah satu pusatkeanekaragaman hayati dan ekosistem hutan yang sangat tinggi di Asia Tenggara(megadiversity) yang didominasi oleh jenis Dipterocarpaceae. Kekayaan jenis pohon dalam 1 ha hutan rimba Kalimantan terdapat sekitar 100-200 jenis pohon besar dan kecil yang berdiameter di atas 10 cm.



Selain itu, di Kaltim yang kawasan IKN merupakan habitat dari 129 jenis anggota Dipterocarpaceae dari total 382 jenis anggota Dipterocarpaceae (34%) yang ada di Asia Tenggara. Tak hanya itu, terdapat jenis satwa liar seperti mamalia 222 jenis dimana 44 yang endemic, 420 jenis burung, 166 jenis ular, 394 jenis ikan dimana 144 endemik, amfibi 100 jenis.



’’Ada Redlist IUCNdi Kawasan IKN, akan segera tergusur dan punah, karena  kehilangan habitat sehingga mengakibatkan  hilangnya sumber plasma nutfah untuk selamanya, kawasan Wetlands yang berupa hutan mangrove dan riparian yang merupakan habitat burung-burung dan bekantan (Nasalis larvatus) yang juga sangat sensitive terhadap perubahan’’ ucap Prof. Dr.ir. Paulus Matius, M.Sc. yang di temui di Laboratorium Keanekaragaman Hayati dan Ekologi Fakultas Kehutanan Unmul.



IUCN Red List, atau yg biasa kit kenal dengan Red Data List,  pertama kali digagas pada tahun 1964 untuk menetapkan standar daftar spesies, dan upaya penilaian konservasinya. IUCN Red List bertujuan memberi informasi, dan analisis mengenai status, tren, dan ancaman terhadap spesies untuk memberitahukan, dan mempercepat tindakan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati



Diketahui kawasan yang akan dijadikan IKN sebagian besar hutan asli termasuk Tahura Bukit Soeharto sudah terdegradasi menjadi hutan sekunder atau lahan kritis (gundul), karena beberapa aktifitas  seperti pertambangan, perkebunan sawit, HTI, kawasan pemukiman, kebakaran hutan, sehingga berdampak juga pada menurunnya keanekaragaman flora dan fauna yang sebelumnya sangat tinggi.



Guru Besar Fahutan Unmul ini menambahkan bahwa, wacana presiden beberapa waktu lalu, dalam membuat kebun bibit/ Pusat persemaian di IKN harapnya dengan bibit endemik  dan spesies lokal yang ada di Kutai Kartanegara dan Penajam untuk mempertahankan aspek aspek  budaya dan kearifan lokal Kaltim.



Rehabilitasi dikawasan ex tambang yang akan dijadikan kawasan lindung atau ruang terbuka hijau harus dengan jenis-jenis asli Kalimantan yang tahan kondisi ekstrim seperti jenis-jenis kahoi (Shorea belangeran), giam (Cotylelobium spp), laban (Vitex pinnata), puspa (Schima wallichii), dan jenis-jenis asli Kalimantan lainnya. Rehabilitasi hutan sekunder yang akan dijadikan kawasan lindung, konservasi dan ruang terbuka hijau dengan jenis jenis asli hutan hujan tropis dataran rendah Kalimantan seperti jenis-jenis Dipterocarpaceae, jenis-jenis endemik dan jenis-jenis yang terancam punah, serta jenis buah-buahan lokal.



Terdapat jenis satwa penting dan dilindungi, penghuni kawasan hutan dataran rendah IKN seperti  orang hutan, owa-owa, beberap jenis lutung, beruk dan monyet, beberapa jenis burung enggang, kuwaw/ merak, ayam hutan dan jenis-jenis balam serta jenis-jenis mamalia sperti rusa, kijang, macan dahan, beruang madu, landak, babi hutan, musang dan trenggiling.



Hilangnya wilayah kelola tradisional yang  menunjang konservasi keanekaragaman hayati seperti kebun buah tradisional, kebun rotan tradisional, hutan-hutan tradisional, areal pohon penghasil madu, areal penghasil damar dan tengkawang dan areal perburuan tradisional dapat mengakibatkan tersingkirnya masyarakat adat dari kawasan tersebut dan tergilas oleh pembangunan IKN juga ikut disoroti olehnya.



 Kawasan Terdampak

Diketahui ada  13 wilayah adat di sekitar ibu kota baru yg akan berpusat di kecamatan sepaku, PPU, dan kecamatan samboja , Kutai kartanegara, merujuk pada pemetaan aliansi masyarakat adat nusantara.  Serta 4 desa komunitas adat dayak paser di wilayah yang di tunjuk presiden Joko Widodo menjadi pusat Ibu Kota baru  yaitu mentawir,sepaku, semoi dua, maridan.



Warga dayak paser sangat  berpontensi kehilangan hutan yang meniadi sumber penghidupan Hingga persembahan sacral adat .  Sangat Perlu mempertahankan  kearifan tadisional dan kawasan kelola tradisional dalam pemanfaatan flora dan fauna pada masyarakat lokal di kawasan IKN dan sekitarnya dan pastikan mereka tidak tergusur dari tempat tinggalnya


” konsep Forest city pemerintah harus memberi  ruang  Pengembangan budaya lokal dalam kawasan IKN, agar nuansa budaya adat asli Kalimantan tidak punah dengan adanya IKN serta dapat memperkaya nuansa ekosistem IKN, Jelas Paulus Matius.  



Wawancara langsung ruangan Laboratorium

VIDEO PILIHAN