Mohon tunggu...
Fitria Nurvitasari
Fitria Nurvitasari Mohon Tunggu... Guru - Guru

Saya Fitria Nurvitasari, lebih akrab dipanggil dengan sebutan Fitri. Saya sebagai pengajar di SMKS PGRI 1 Kudus pada bidang keahlian Kecantikan dan Spa. Saya terkenal dengan pribadi yang adaptif, humoris, pekerja keras dan memiliki kemauan yang tinggi untuk belajar hal-hal baru dilingkungan, sehingga saya dengan mudah membaur dan dapat bekerja baik secara individu dan team.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Penerapan Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Keahlian Siswa SMK

2 Oktober 2022   13:42 Diperbarui: 2 Oktober 2022   14:00 126 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan kejuruan yang memiliki visi dan misi untuk menyiapkan lulusan tingkat menengah yang terampil, mandiri, dan berdaya saing dalam keberkejaan. SMK diharapkan dapat menciptakan lulusan yang berjiwa bisnis, cerdik, siap bekerja, kompetitif, dan mempunyai prinsip hidup, mampu meningkatkan budaya lokal dan mampu  bersaing secara global. 

Di era global saat ini, ditandai dengan semakin terbukanya  peluang bisnis dan kerjasama antar negara. Namun disisi lain, perubahan tersebut menimbulkan persaingan yang makin ketat dalam hal produksi barang, jasa, modal maupun tenaga kerja/sumberdaya manusia.

Dengan demikian sistem pendidikan di SMK mempersiapkan SDM yang siap menghadapai era tersebut dengan banyak menggali potensi siswa atau potensi yang ada di sekitar lingkungan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Kurikulum pendidikan SMK harus dirancang dengan tepat untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu dan siap mengembangkan sikap spiritual dan social, rasa ingin tahu, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik (Ariyanti, 2018). 

Kemampuan yang harus dimiliki para generasi muda dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0 adalah kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, berkomunikasi, bekerja sama, dan percaya diri (Tosepu, 2019). Meningkatkan kualitas dan kuantitas inovasi di era revolusi industri 4.0, satuan pendidikan perlu melakukan reorientasi kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan zaman (Rosmiaty, 2018). 

Kurikulum SMK juga harus disesuaikan untuk dapat mengoptimalkan ketrampilan para lulusannya. Penyesuaian kurikulum melalui link and match perlu dilakukan untuk menjawab kebutuhan dunia industry yang menjadi sasaran utama dari lulusan SMK.

Link and match merupakan salah satu kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang pernah ada dan dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan dunia industri khususnya. Setelah kurikulum sudah disesuaikan dengan tuntutan revolusi industry maka selanjutnya penerapan pembelajaran dan strategi pembelajaran.

Berdasarkan hal tersebut, pengembangan strategi pembelajaran di SMK harus berdasarkan prinsip-prinsip work-related learing, otentik-konteksual terkait dunia kerja sebagai proses penyiapan kapabilitas lulusan memasuki dunia kerja dan pengembangan karir kerja (Putu Sudira, 2018).

Pemilihan strategi pembelajaran berkaitan dengan cara-cara bagaimana pembelajaran itu didesain untuk membangun situasi dan kondisi belajar yang mendukung proses berlatih dan membangun kebiasaan kerja dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan yang memperoleh kemudahan dalam mempelajarai bahan ajar, melaksanakan job sheet, berlatih skill teknis, sikap kerja, mental kerja, berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. 

Bagi SMK kemampuan kompetensi keahlian sangat diutamakan sebagai tolak ukur kualitas dari lulusan akan tetapi atribut etika juga memiliki peran yang tidak kalah penting sebagai tolak ukur dari lulusan SMK.

Tantangan dasar pembelajaran SMK yaitu pemberian pengalaman nyata kepada siswa untuk berlatih sesuai tugas-tugas dan setting kerja di dunia kerja dan sebagainya. Sedangkan proses belajar nyata yang bisa diterima oleh siswa diperoleh ketika mereka belajar ditempat industry dalam bentuk Praktek kerja lapangan (PKL) yang terbatasnya tempat dan waktu pelaksanaannya.

Menanggapi hal tersebut, Direktorat Pembinaan SMK mengeluarkan strategi revitalisasi SMK. Salah satu strategi yang dikeluarkan adalah menjalankan program teaching factory di SMK.

Menurut Sutianah Cucu (2021), pembelajaran SMK harus mencangkup life and career skills, learning and innovation skills, serta information media and technology skills, maka perlu model pembelajaran berparadigma konstruktif seperti model teaching factory untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan keterampilan siap bekerja dan memiliki jiwa enterpreneurship. 

Sehingga sekolah dituntut untuk mempunyai ide bagaimana konsep industry dihadirkan di sekolah sebagai bagian dari tujuan model pembelajaran yang akan menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi tertentu sesuai dengan standar industri serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran, muncul konsep pembelajaran Teaching Factory (TeFa). 

Pembelajaran teaching factory merupakan pendidikan berbasis dunia kerja atau dunia industri, yang membutuhkan dukungan dari dunia industri dalam pelaksanaannya. Dunia industri sebagai pihak yang mengetahui secara langsung seperti apa lingkungan dan kebutuhannya, selain itu industry sebagai quality control untuk memastikan mutu kualitas produk atau jasa yang dihasilkan siswa berguna dan bernilai ekonomi atau memiliki daya jual serta layak dipasarkan. 

Menurut Moses (2017), kerjasama antara SMK dengan industri akan meningkatkan kesesuaian kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang diajarkan di sekolah, sedangkan Khurniawan (2015) menyatakan bahwa dengan adanya optimalisasi kerjasama dengan industri akan membuat teaching factory dapat mencapai tujuannya.

SMK PGRI 1 Kudus merupakan sekolah menengah kejuruan yang memiliki program keahlian  Kecantikan dan Spa. Sekolah ini telah banyak menerima kunjungan studi banding dari berbagai wilayah untuk melihat pelaksanaan pembelajaran langsung dan teaching factory yang sudah berjalan menerima dan membuka pelayanan jasa dibidang kecantikan dan Spa secara umum untuk mengaplikasikan langsung kepada masyarakat. 

Awalnya terdapat keraguan masyarakat terhadap terapis Spa di "Tangria Beauty dan Spa SMK PGRI 1 Kudus" karena pemahaman awam tentang hal negatif dari Spa itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu serta impelementasi beberapa strategi, sekolah dapat mengatasi dan menepis keraguan masyarakat tersebut.

Hasil pengamatan dari observasi yang saya lakukan di  SMK PGRI 1 Kudus pada Program keahalian Kecantikan dan Spa telah menerapkan Kurikulum pembelajaran dengan  pelaksanaan TeFa yang  pengembangannya memperhatikan  dan melihat kebutuhan industry dan pasar.

Kurikulum sebelumnya hanya berfokus bidang tata kecantikan kulit dan rambut sekarang berkembang ke bidang pelayanan SPA. Kurikulum yang diterapkan telah mendapatkan verifikasi oleh pihak dunia usaha dan Industri yaitu PT Mustika Ratu, Tbk melalui kegiatan penyelarasan kurikulum dan peningkatan SDM guru dan siswa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan