Mohon tunggu...
Fitrah Abdilah
Fitrah Abdilah Mohon Tunggu... Menulis

Menulislah, maka kamu akan ada dalam sejarah

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kuliah Online Layaknya Cerita Horror

6 Juli 2020   03:00 Diperbarui: 6 Juli 2020   02:53 58 8 0 Mohon Tunggu...

Sitem Perkuliahan Berbasis Online Sangat Dikeluhkan Mahasiswa, Tapi Ada Juga Mahasiswa Yang Mendukung Penuh.

Di tengah pandemic Covid-19 yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan usai, masyarakat terpaksa harus menjalani puasa pada bulan romadhon 1441 hijriah dengan banyak hal yang harus dilakukan hanya di dalam rumah. Sebenarnya bagus, masyarakat bisa fokus untuk menjalankan ibadah puasa, tapi bagi mahasiswa tidak serta merta demikian.

Mahasiswa masih harus menjalankan perkuliahan dengan sistem online, sistem yang sebenarnya bisa saja membuat ventilasi pikiran mahasiswa berdebu. Jarang di bawa keluar, hanya sebatas berkutat di dalam rumah saja, menjalankan kuliah dalam jaringan (daring), dan tugas yang sistem pengadaannya cukup membuat naik pitam.

Satu diantara mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, Febriyanto Dwi Hadi Priyono menuturkan, jika baginya kuliah online cukup menyeramkan, dan dia juga merupakan korban dari keganasan kuliah online yang baru berjalan kurang dari dua bulan ini.

Febriyanto bersikeras, jika sebaiknya dosen mengkaji lagi pengaplikasian kuliah daring yang selama ini telah berlangsung. Seharusnya, diadakan survey terhadap para mahasiswa, apakah sistem yang dugunakan sudah tepat atau tidak.

Sebaiknya, juga, seorang dosen harus mampu mencarikan solusi terbaik, untuk tetap menjalankan perkuliahan secara online tanpa merugikan pihak lain. Jika kuliah online ini bisa dibikin enjoy, tidak mesti harus dibikin belibet, itu namanya salah kaprah dalam memahami situasi dan kondisi yan ada.

Kuliah online merupakan langkah solusi, agar mahasiswa tetap bisa kuliah, dan dosen tetap mengajar di tengah epidemic corona ini. Bukan malah dijadikan ajang coba-coba, transisi metode pengajaran, dari tatap muka, ke tatap handphone. Tentunya ini merupakan kebijakan yang tentunya sangat keliru.

Tidak sedikit mahasiswa yang harus keluar rumah hanya untuk eksplorasi sinya provider yang mereka gunakan. Pasalnya, tidak semua desa memiliki sinyal yang tergolong stabil. Bahkan, ada mahasiswa yang sering menghilang tiba-tiba di tengah aktivitas kuliah online sedang berlangsung.

Sebenarnya, bukan mahasiswa itu sendiri yang menginginkan tiba-tiba menghilang, melainkan kendala sinya yang memang selalu putus-putus, atau kehabisan kuota internet di tengah perjalanan. 

Parahnya, dosen enggan memberikan toleransi. Dosen sih enak, sudah punya penghasilan sendiri, mungkin untuk menunjang mengajar, dosen memiliki akses fasilitas wifi pribadi. Jadi wajar, jika para dosen terlihat lancer jaya, dam kurang memiliki rasa empati terhadap mahasiswanya.

Febriyanto mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu dosen yang mengajarnya, karena dia terpaksa tidak mengumpulkan Ujian Tengah Semester (UTS). Menurutnya, itu harusnya tidak terjadi padanya, dia sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Padahal, dia sudah menulis panjang lebar di kolom jawaban yang tersedia di website yang digunakan sebagai media UTS. Tapi, jawaban yang susah-susah ditulis itu hilang begitu saja karena website tersebut sudah disetting otomatis tertutup sendiri dengan batas waktu yang sudah diset.

Parahnya, sebelum itu tidak ada pemberitahuan terkait dealine waktu pengerjaannya. Tiba-tiba saja website itu tertutup, padahal dia sudah mengirimkan jawaban ujiannya yang memang telah selesai. Saat dimintai konfirmasi terkait problem itu, dosen pengampu dengan rasa tidak bersalah menunjukkan, jika keterangan waktu pengerjaannya sudah ada di pojokan website tersebut.

"aku sudah mengerjakan UTS itu dengan lengkap, saat dikumpulkan tahu-tahu sudah begitu. Jawabannya tidak bisa diundo, rasanya pengen nangis saat itu," ungkap penyiar radio itu.

Mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tetap diklaim tidak disiplin, bagaimana pun alasannya. Padahal jika dikaji, sistem yang digunakan memang bobrok, padahal ada cara yang lebih efektif, contohnya via email. Seperti yang sudah tertulis dalam tulisan ini sebelumnya, kuliah online bukanlah ajang coba-coba transisi dari kuliah dalam kelas, ke kuliah dalam rumah.

Seharusnya dosen dapat meminimalisir kekurangan tersebut, resiko dalam penggunaan website seperti itu dalam metode pengerjaan UTS. Tentunya, yang rugi dalam kejadian seperti ini bukanlah Rektor. Melainkan mahasiswanya sendiri.

Aplikasi whatsApp sebenanrnya memang kurang efisien untuk menjadi media pengadaan basis ujian. Setidaknya, dosen tidak menggunakan mekanisme yang asing bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa tidak merasa terasingkan dengan hal yang belum pernah dipelajari sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan Febriyanto, Megawati berpendapat jika kuliah online mempunyai kekurangan tapi juga memiliki kelebihan yang menyertainya. Sehingga, tidak selamanya sistem kuliah ala milenial ini selalu dicap buruk dikalangan penimba ilmu perguruan tinggi.

Megawati menerangkan, jika kuliah online ini cukup merepotkan saat di beberapa hari pertama di adaptasi. Pasalnya, tugas yang diberikan para dosen datangnya bertubi-tubi, sehingga mahasiswa kaget dalam menghadapinya. Jadinya, mahasiswa yang belum terbiasa seakan kerepotan, dan berujung dengan stress, karena sulitnya membagi waktu.

Mega cukup senang, dengan kuliah sistem daring ini, karena dia tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk bisa sampai ke kampus. Jarak antara rumah dan kampus dirasa cukup jauh baginya, karena Mega sendiri tinggal di daerah Bentiring, sedangkan kampus IAIN berada di kawasan Pagar Dewa. Ditambah, resiko di perjalanan, dan juga paparan sinar matahari yang bisa membahayakan kulit.

Tidak hanya itu, sebenarnya tingkat kesulitan dari kuliah daring ini tergantung mahasiswanya saja, jika bisa berjuang dengan sungguh-sungguh, batu sandungan seperti ini bukanlah penghambat bagi mahasiswa untuk berputus asa. Malah, harus dijadikan motivasi agar bisa belajar lebih giat lagi.

Mega menyayangkan, jika dengan adanya kuliah dari rumah, bisa membuat pengeluaran bensin untuk kendaraan jadi bisa diminimalisir. Tetapi, tetap ada timbale balik yang harus dibayarkan, yaitu kuota ekstra yang harus disiapkan mahasiswa jika ingin bersaing melawan ketatnya dunia online. Pun demikian kuliah online ini.

"duit bensin bisa digunakan untuk membeli kuota, tidak perlu lagi jauh-jauh dari rumah menuju kampus, jadinya lebih simple, hehehe," canda gadis asli Bengkulu tersebut.

Jika mahasiswa bisa memanfaatkan momen, kuliah online ini bisa dibilang cukup efektif. Missal, jika ada dosen yang memberikan tugas, tugasnya berupa recording video. Tentunya, mahasiswa bisa membuat tugas, sekaligus belajar mengasah kemampuan, dengan ,membuat video, mahasiswa olah retorika berbicara, memahami materi, dan mengedit video itu sendiri. Tentunya hal seperti itu bisa menjadi peluang, asal mahasiswa memang berniat untuk belajar.

Sebaiknya, jika mahasiswanya bersikap seperti kurang perduli, tidak memanfaatkan momen itu, dan kurang bersungguh-sungguh. Ya, jadinya sistem seperti itu kurang efektif. Ini tergantung tingkat kreatifitas mahasiswa lagi, tinggi atau rendah.

Tidak hanya mahasiswa, sebaiknya dosen juga memiliki tingkat kepedulian terhadap mahasiswanya. Contohnya, saat proses diskusi di grub WhatsApp, mahasiswa yang tidak menuliskan list hadir dianggap tidak masuk. Dosen terkesan "cuek bebek" dengan perkara seperti ini, seolah-olah tidak mau tahu kemana mahasiswanya sampai-sampai tidak hadir dalam perkuliahan.

Mega menambahkan, dosen yang sudah menjalankan aktifitas perkuliahan online, baik itu melalui WhatsApp, Zoom, atau Siakad, yang dirasa itulah yang paling efektif. Hanya tergantung mahasiswanya lagi menyikapinya, hasilnya juga sepenuhnya dari mahasiswa, bisa efektif, dan bisa juga tidak efektif.

Mega sangat mendukung penuh kuliah dari rumah ini, menurutnya ketimbang kuliah tatap muka, kuliah online jauh lebih efektif. Mahasiswa dapat berperan penuh dalam tiap pertemuannya, tidak selalu mengandalkan diskusi kelompok saja yang hasilnya cenderung sering mengambang. Dari kuliah online, mahasiswa setidaknya bisa berjuang lebih untuk belajar.

"tergantung niat mahasiswanya, mau sebagus apapun sistem pengajaran di kuliah, jika mahasiswanya tidak niat, tentu saja tidak akan berjalan dengan efektif." Tutup alumni SMAN 1 Kota Bengkulu.

Nampaknya, perkuliahan berbasis jaringan internet yang dipastikan bergulir selama satu semester ini, bisa saja terus berlanjut hingga awal 2021. Pasalnya, pandemic Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. 

Tidak hanya perkuliahan tatap muka, elemen-elemen perkuliahan lainnya seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), skripsi, beragam bimbingan, dan seminar. Terpaksa harus dialihkan ke dunia maya, tapi, beberapa kegiatan juga tetap dilaksanakan dengan sistem tatap muka, tentunya harus berjalan dengan prosedur yang sudah ditentukan.

Diharapkan, agar pandemic Corona Virus ini segera berakhir secepatnya, agar semua kehidupan bisa berjalan dengan normal seperti sediakala. Semangat, jangan pernah mengeluh.

Penulis : Fitrah Abdilah Sani

VIDEO PILIHAN