Mohon tunggu...
Fikri Wicaksana
Fikri Wicaksana Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Serpong - Pekalongan PP

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Nostalgia Jalan Braga

1 Juli 2014   04:34 Diperbarui: 18 Juni 2015   08:03 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_331496" align="aligncenter" width="400" caption="Hello, nice to meet you"][/caption]

Paris van Java, Kota kembang, Kota lautan api.....begitulah sebutan orang – orang untuk ibukota Provinsi Jawa Barat, Bandung. Saya berkesempatan untuk mengunjungi Bandung 2 pekan silam. Selain karena penasaran, (ini kunjungan kedua saya) faktor karena undangan teman yang sudah bermukim di sana adalah salah satu faktor yang membuat saya kembali berkunjung ke Bandung.  Salah satu tujuan wisata yang saya tuju adalah Jalan Braga.

[caption id="attachment_331497" align="aligncenter" width="400" caption="Deretan bangunan tua yang masih terjaga"]

14041384751444196442
14041384751444196442
[/caption]


Nama "Braga" sendiri menimbulkan beberapa kontroversi. Ada kalangan yang mengatakan, Braga berasal dari sebuah perkumpulan drama Bangsa Belanda yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen, yang bermarkas di salah satu bangunan di Jalan Braga. Diduga sejak saat itulah nama Jalan Braga digunakan. Pemilihan nama "Braga" oleh perkumpulan drama ini diperkirakan berasal dari beberapa sumber yang erat kaitannya dengan kegiatan drama, antara lain nama Theotilo Braga (1834 -1924), seorang penulis naskah drama, dan Bragi, nama dewa puisi dalam mitologi Bangsa Jerman. Sementara itu ada versi lain dari nama "Braga". Menurut ahli Sastra Sunda, Baraga adalah nama jalan di tepi sungai, sehingga berjalan menyusuri sungai disebut ngabaraga. Sesuai dengan perkembangan Jalan Braga (terletak di tepi Sungai Cikapundung), yang kemudian menjadi tersohor ke seluruh Hindia Belanda bahkan ke manca negara, Jalan Braga menjadi ajang pertemuan dari orang-orang, dan ngabaraga tadi berubah menjadi ngabar raga, yang lebih kurang artinya adalah pamer tubuh atau pasang aksi. Memang di masa-masa sebelum PD II, disaat Jalan Braga sedang jaya jayanya, jalan ini dijadikan ajang memasang aksi menjual tampang sehingga dikenal juga istilah khas Bragaderen. Perkataan deren dalam kamus Bahasa Belanda kurang menjelaskan arti kata penggabungan Braga dan deren sehingga disimpulkan, Bragaderen berasal dari kata paraderen yang artinya berparade, jadi Bragaderen lebih kurang berarti berparade di Jalan Braga.

[caption id="attachment_331498" align="aligncenter" width="400" caption="Galeri lukisan di trotoar"]

14041385761031572501
14041385761031572501
[/caption]

Jalan Braga sendiri tidaklah panjang, kurang lebih sekitar 300 meter panjangnya. Di sini banyak terdapat bangunan tua yang masih kokoh berdiri. Kebanyakan bangunan ini sekarang sudah beralih fungsi menjadi pertokoan atau kafe, bahkan bank. Di jalan Braga juga terdapat Braga City Walk sebagai tempat nongrong gaul tidak hanya untuk anak muda juga bagi para wisatawan sekedar untuk melepas lelah, mengisi perut yang kosong atau sekedar berbelanja. Akan lebih afdhol jika anda menikmati Jalan Braga dengan jalan kaki, anda akan lebih mudah melampiaskan hasrat narsis anda dengan berfoto di bangunan tua yang tersebar di sepanjang Jalan Braga. Kalaupun ada hal yang kurang, saya hanya berharap Jalan Braga dikhususkan untuk pejalan kaki. Kondisi yang sekarang, Jalan Braga masih dilewati oleh mobil dan motor. Entah kapan impian itu bisa terwujud. Mari kita Bragaderen....

Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun