Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Suka diajak makan dan jalan. Contact me delapanempat@gmail.com | dzulfikaralala.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Harga Rumah Melambung, Kota Satelit Jadi Pilihan Saya Membangun Keluarga Kecil Bahagia

10 April 2017   19:40 Diperbarui: 11 April 2017   15:30 1152 16 10
Harga Rumah Melambung, Kota Satelit Jadi Pilihan Saya Membangun Keluarga Kecil Bahagia
Dokumentasi pribadi

Pada tahun 2002, saya resmi tinggal di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Saat itu saya baru menyelesaikan pendidikan SMA di Yogyakarta kemudian merantau ke Jakarta. Uniknya, saya malah berkuliah di daerah Ciputat. Saat itu Ciputat masih termasuk dalam bagian Kabupaten Tangerang, kemudian akhirnya terjadi pemekaran daerah dan berdiri secara otonom Kota Tangerang Selatan.

Saat tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Saya merasakan akses transportasi yang sangat mudah karena lokasi yang sangat strategis. Apalagi saat itu rumah dekat dengan stasiun KRL atau sekarang dikenal dengan Commuter Line. Praktis saya merasa betah berada di Jakarta Selatan. Kawasan pemukiman yang tidak terlalu panas dan punya akses transportasi umum yang cukup baik.

Setelah menyelesaikan bangku kuliah kemudian saya langsung menikah. Saat itu saya langsung pindah ke rumah mertua Indah di kawasan Tangerang Selatan. Hanya sekitar 6 kilometer saja yang bisa ditempuh dengan kendaraan umum sekitar 30 menit. Kawasan Tangerang Selatan memang saat itu tengah bebenah terlebih setelah ditetapkan sebagai daerah pemekaran baru di Provinsi Banten.

Jalan-jalan mulai diperbaiki dan diperlebar, kemudian sekolah-sekolah SD Negeri yang tadinya reyot langsung mendapatkan dana perbaikan dan rehabilitasi besar-besaran. Tak terkecuali beberapa sekolah menengah pertama dan hadirnya SMA Negeri baru dengan gedung yang baru pula.

Fenomena tinggal di sebuah kota satelit yang baru lahir ternyata memiliki banyak keuntungan. Saat itu sekitar tahun 2008 harga rumah bersubsidi sangatlah terjangkau sekitar Rp100 juta. Sedangkan rumah-rumah non subsidi hanya terpaut Rp50 juta saja. Untuk rumah-rumah dengan tipe 36 luas tanah sekitar 70 meter persegi rata-rata masih dibawah Rp300 juta. Walhasil saya tak pernah berpikir untuk pindah dari Tangerang Selatan.

Namun yang memang sangat menyulitkan adalah akses transportasi ke Jakarta Selatan. Saat itu saya masih harus tetap mengantar istri kerja ke darah Terogong, Pondok Indah. Sementara saya sendiri ngantor mulai siang hingga malam hari di daerah Bintaro. Jam kerja tersebut membuat saya sedikit leluasa untuk mengantar istri pada pagi hari. Sayangnya dari Tangerang Selatan tidak ada akses langsung KRL ke Jakarta Selatan. Apalagi saat itu belum ada moda transportasi feeder Transjakarta apalagi ojek online yang saat ini selalu menjadi bahan perbincangan. Infrastuktur jalan juga tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan. Hampir setiap hari kami terjebak kemacetan yang luar biasa membuat stres hingga berpengaruh pada kesuburan istri saya.

Sebuah ruang terbuka hijau di salah satu pusat perbelanjaan di Tangsel (dokpri)
Sebuah ruang terbuka hijau di salah satu pusat perbelanjaan di Tangsel (dokpri)

Karena sudah punya program untuk memiliki anak, akhirnya saya mencarikan pekerjaan baru untuk istri saya di daerah Tangerang Selatan dengan pertimbangan sudah tidak sanggup lagi menghadapi kemacetan setiap pagi. Sayangnya dari Tangerang Selatan tidak ada akses langsung KRL ke Jakarta Selatan. Apalagi saat itu belum ada moda transportasi feeder Transjakarta apalagi ojek online yang saat ini selalu menjadi bahan perbincangan.

Beruntung akhirnya istri saya mendapatkan pekerjaan baru di daerah BSD, Serpong. Masih di daerah Tangerang Selatan yang kini menjadi salah satu daerah hunian favorit dan akan menjadi salah satu kawasan bisnis yang akan berkembang di masa mendatang. Jarak dari rumah hanya sekitar 11 kilometer namun dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi hanya dalam waktu 30 menit saja.

Berenang bersama si kecil di Kolam Renang Tasa Tangerang Selatan (dokpri)
Berenang bersama si kecil di Kolam Renang Tasa Tangerang Selatan (dokpri)

Sejak istri saya pindah kerja ke BSD, kualitas hidupnya semakin baik dan tingkat stres menurun karena saya bisa bersama-sama berangkat kerja dengan tujuan yang tak jauh berseberangan seperti sebelumnya. Terakhir pada tahun 2012, malahan saya bisa berangkat dan pulang bersama karena kantor saya bersebelahan dengan kantor istri saya. Selain menghemat ongkos juga bisa menambah waktu bersama.

Belakangan, setelah pembangunan dan pelebaran jalan, perjalanan ke kantor tak secepat dan semudah dulu lagi. Kini sudah banyak warga yang berkendara dengan mobil baru. Istilah macet malah baru terjadi beberapa tahun belakangan ini. Saya menduga memang karena sudah banyak muncul perumahan-perumahan baru di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. 

Itu pula yang menyebabkan harga tanah dan rumah meningkat hingga dua kali lipat. Saat ini sangat sulit mendapatkan rumah subsidi seharga Rp100 juta di daerah Pamulang. Untuk rumah dengan ukuran 24 tanah seluas 60 meter persegi saja kini minimal harus merogoh kocek antara Rp350 juta hingga Rp450 juta. 

Jangankan mendapatkan rumah sehat yang memiliki akses masuk kendaraan. Harga tanah saja sudah naik selangit. Kemarin tetangga baru saja menawarkan sepetak tanah seluas 50 meter persegi. Ketika saya tanya berapa harganya, ia membuka harga tiga juta rupiah per-meter. Dan saat ini sudah ada tetangga yang menawar dua juta rupiah per-meter. Sialnya tanah itu persis di depan rumah. Kalau saya beli akan menambah lapang halaman rumah saya juga bisa dijadikan tempat bermain anak-anak.

Tapi apa daya, dengan harga tinggi seperti itu sepertinya saya tak sanggup untuk mencarikan dananya secepat mungkin. Paling-paling saya hanya bisa mencarikan calon pembelinya. Itupun saya tak menjanjikan bisa dapat segera karena tetangga saya tersebut membutuhkan biaya pengobatan untuk penyakitnya.

Tak bisa dipungkiri memang saat ini untuk mendapatkan hunian yang nyaman membutuhkan kocek yang amat besar. Bahkan malah 5 tahun ke depan generasi milenial (generasi yang lahir tahun 1981-1994) diperkirakan tak akan mampu membeli rumah di kota.

Lalu apa yang saya persiapkan hingga bisa membangun rumah sendiri? Mungkin pengalaman saya ini bisa menjadi contoh atau inspirasi bagi generasi milenial lainnya. Saatnya pegang kendali untuk memilih hunian terbaik saat ini juga seperti yang digerakkan oleh Danamon. Dengan begitu generasi milenial tidak kesulitan mendapatkan hunian yang sehat 5 tahun mendatang.

1 . Jangan menunda membeli tanah atau rumah 

Saat gaji sudah mencapai UMP Jakarta pada tahun 2013, saya memang dihadapkan dengan sebuah dilema. Apakah saya harus membeli kendaraan terlebih dahulu atau rumah terlebih dahulu. Apalagi saat itu posisi saya masih tinggal bersama mertua.

Bismillah, saya putuskan untuk pegang kendali. Pada akhirnya dengan mempertimbangkan harga tanah yang terus melambung dan harga kendaraan yang pasti mengalami penyusutan, saya nekat membeli sebidang tanah di dekat rumah mertua saya. Beruntung saya malah mendapatkan harga murah karena tanah tersebut dimiliki oleh kerabat jauh.

2. Kumpulkan dana segar untuk membeli rumah atau tanah

Harga tanah saat itu ditaksir Rp500 ribu permeter sementara saya mendapatkan diskon 50%. Inilah yang membuat saya yakin kenapa saya harus membeli tanah tersebut. Ternyata perkiraan saya tepat. Apalagi mertua dan orang tua mendukung dengan meminjami dana tambahan tanpa bunga, hahaha.

Ini yang menjadi ciri khas generasi milenial. Saya berani bertaruh hampir 50% generasi milenial bisa membeli rumah karena mendapatkan bantuan dari orang tua. Meskipun dibantu saya tetap mencari dana tambahan lain termasuk meminjam ke bank.

3. Perhatikan lingkungan rumah dan akses pendidikan anak

Sebagai keluarga muda saya benar-benar memperhatikan lingkungan rumah saya. Saya sudah mulai berhitung mulai dari perhitungan waktu berangkat kerja dan pulang kerja hingga waktu antar jemput anak saya yang mulai bersekolah di bangku pendidikan dasar.

Saya bersyukur karena lingkungan rumah terdapat sebuah masjid yang menyelenggarakan pendidikan baca tulis Al-Quran, sehingga pada sore hari anak saya tetap bisa bersosialisasi dengan tetangga sekitar meskipun pada pagi harinya harus bersekolah.

4. Pertimbangkan akses transportasi umum

Beruntung akses rumah menuju sekolah dan kantor istri saya tidak terlalu jauh. Sehingga lebih efektif dan lebih terjangkau meskipun dengan transportasi umum. Sekalipun menggunakan kendaraan pribadi tidak membutuhkan waktu yang lama di perjalanan. Inilah keuntungan tinggal di kota satelit, hanya saja memang pada saat weekend kemacetan di kota satelit tidak bisa dihindari karena semua keluarga memilih beraktifitas di luar rumah.

5. Buka usaha baru untuk mendapatkan tambahan pemasukan

Sembari mencicil utang untuk melunasi dana pembelian tanah dan pembagunan rumah, saya juga berusaha untuk mencari peluang usaha baru. Sesuatu yang bisa saya lakoni di waktu luang dan tidak menganggu pekerjaan utama. Salah satu yang saya lakoni dan kebetulan sesuai dengan passion saya adalah menulis.

Selain itu juga saya beberapa kali mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba blog. Ketika menang, dananya bisa saya tambah-tambahkan untuk mencicil utang sehingga impain saya untuk mendapatkan rumah nyaman benar-benar terwujud. 

Saya bersyukur akhirnya memutuskan langkah yang tepat dengan membeli tanah kemudian membangunnya sendiri. Saya terbebas dari bunga KPR yang harus dicicil berpuluh tahun. Saya melakukan percepatan utang agar bisa segera dibayar dan segera dilunasi.

Namun yang paling penting adalah mengurangi gaya hidup mewah dan tidak selalu mengikuti gengsi. Saya paling anti bergonta ganti hape. Malahan untuk sebuah sepatu pun saya jarang ganti jika yang lama benar-benar belum rusak. 

Meskipun demikian, kini memang zaman sudah berubah. Generasi milenial bisa memegang kendalinya sendiri apakah masih berniat membeli rumah dan mobil kemudian menghabiskan masa tua di kota satelit seperti Tangerang Selatan. Tren generasi milenial di Eropa dan Amerika justru bertolak belakang dengan Indonesia. Kini mereka justru memilih menjual asetnya dan traveling keliling dunia.