Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Tempat Wisata Tersembunyi Itu Ada di Kampung Halaman Ayah

10 November 2018   22:34 Diperbarui: 10 November 2018   23:01 543 8 4
Tempat Wisata Tersembunyi Itu Ada di Kampung Halaman Ayah
Bheto Soon / dok.pribadi

Ada selaksa kisah yang mungkin ingin aku ceritakan langsung pada Ayah. Kisah itu tentang perjalananku berkeliling ke pelosok daerah hingga ke luar negeri dengan bermodalkan tulisan. Ayah tak pernah tahu bahwa akhirnya bisa ke luar negeri. Meskipun kepergianku bukan ke tanah suci seperti yang pernah ayah lakukan.

Sejujurnya aku lebih suka berkeliling Nusantara. Mengenali berbagai macam orang dengan ribuan bahasa. Merecap apa yang mereka makan dan menjejakkan kaki di bumi yang mereka banggakan. Termasuk kembali ke kampung halaman ayah di Bondowoso, Jawa Timur.

Entah apakah ayah tahu atau tidak, ternyata di kampung halaman ayah ada salah satu tempat wisata baru yang belakangan ini memang viral di sosial media. Tempat wisata ini mirip seperti Stonehenge di Inggris.

Batu prasejarah itu disusun sedemikian rapi seperti sebuah bangunan. Meskipun tak sama persis, tempat wisata Bheto So'on atau Batu Susun di kawasan Perhutani Bondowoso ini memang menjadi salah satu daya pikat tersendiri bagi wisatawan lokal. 

Bheto Soon / dok.pribadi
Bheto Soon / dok.pribadi
Kata saudaraku bahwa tempat wisata ini sebetulnya sudah dibuka sejak tahun 2010. Tapi, saat itu hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Itupun tidak mudah untuk mencapainya.

Barulah setelah viral di sosial media, pemerintah daerah setempat membangun jalan serta membangun beberapa tempat wisata seperti gardu pandang dan bale-bale tempat untuk menyaksikan batu-batu yang tersusun dengan rapi.

Aku juga bingung kenapa aku bisa dituntun ke tempat wisata ini. Mungkin orang-orang yang datang pun bingung mengapa ada batuan tersusun dengan rapi dan menjadi sebuah tontonan. Entahlah...

Yang jelas, tempat wisata ini hanya ramai pada saat akhir pekan, kata tukang kelapa muda yang masih sibuk merapikan batok-batok kelapa yang siap dijual kepada wisatawan.  

Bheto Soon / dok.pribadi
Bheto Soon / dok.pribadi
Perjalananku ke tempat ini tak terlalu sulit. Dengan mengendarai kuda besi, sesekali aku melihat petunjuk menggunakan ponsel Android. Di beberapa persimpangan pun ternyata sudah ada papan petunjuk yang jelas. Mengarahkanku menuju tempat wisata ini.

"Gazebo-gazebo itu baru dibangun mas. Belum ada tiga atau dua bulan yang lalu. Sebelumnya ya di sini faslitasnya minim sekali. Setelah viral di sosial media, barulah pemerintah membangun jalan dan membangun beberapa fasilitas termasuk gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk istirahat oleh wisatawan" kata tukang kelapa muda itu.

Itulah caraku mengenal sebuah tempat wisata. Dengan bermodalkan Rp 10 ribu saja, cerita dari orang-orang lokal bisa aku tuliskan hingga berhalaman-halaman. Bahkan ada kisah-kisah yang mungkin tak bisa kamu temukan di media online.

"Sebetulnya kalau ke atas lagi ada air terjun mas. Cuma saya ngeri mas. Jalannya curam dan harus jalan kaki kira-kira sekitar setengah jam" tuturnya mengusik rasa penasaranku.

Bheto Soon / dok.pribadi
Bheto Soon / dok.pribadi
Aku cukup beruntung karena bisa mengunjungi Bheto Soon yang terletak di Desa Solor, Kecamatan Cermee, Bondowoso ini setelah pemerintah membangun akses jalan yang mulus. Aspal hitam masih bisa kuhirup baunya saat panas terik. Beberapa pohon jati sudah mulai botak dan menggugurkan dedaunannya yang kering.

Padahal, sebelum ada jalan yang mulus. Beberapa orang harus berjibaku dengan perjuangan yang tidak mudah. Bahkan ada yang sengaja menjadikan jalur ke Bheto So'on ini sebagai jalur motor trail dan mountain bike yang amat menantang. Selebihnya bagi mereka yang tak punya kendaraan memadai harus berjalan kaki untuk bisa mencapai ke tempat ini. 

Bheto Soon / dok.pribadi
Bheto Soon / dok.pribadi
Tempat wisata ini memang cukup luas, tapi terlalu sepi jika dikunjungi pada hari biasa. Untuk bisa memotret seperti ini saja aku harus mengandalkan beberapa batu, dahan pohon sampai dengan tas kecil yang selalu ku selempangkan di pundak.

"Kalau mas mau ke air terjun, nanti bisa diantar mas. Air terjunnya bagus lho mas. Cuma ya sedikit angker aja. Nah, di atas itu masih ada batu lainnya mas. Jadi ada dua batu besar yang bertumpuk. Keduanya saling bertumpu pada satu titik dan tidak jatuh mas" bujuknya tukang kelapa itu.

Kulirik jam hampir memasuki waktu dzuhur, sementara aku sudah punya janji untuk melihat proses penggilingan tebu di pabrik gula Wringin Anom pukul 14.00 WIB.

"Lain kali aja ya mas. Insya allah tahun depan tak ke sini lagi." jawabku secara halus. Padahal jujur aku juga takut kalau hanya berdua dengan guide. Apalagi setelah salah satu teman tukang kelapa menceritakan sempat melihat penampakan saat bermain di sekitar air terjun. 

Bheto Soon / dok.pribadi
Bheto Soon / dok.pribadi
Batu-batu ini dipercaya berasal dari Megalitikum. Pada masa itu, masyarakatnya memang sangat lekat dengan kepercayaan memuja arwah nenek moyang. Tak heran jika ada beberapa batu yang seperti disusun tak alami. Umumnya batu-batu tersebut digunakan sebagai dolmen, tempat meletakkan sesaji atau persembahan.

Kata saudaraku lagi, masyarakat sekitar Cermee merupakan petani. Kawasan lahan pertanian di Cermee merupakan kawasan kualitas nomor satu di Bondowoso. Berasnya lebih bagus jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2