Dzulfikar
Dzulfikar Freelance writer

Content creator, Full Time Blogger, Freelancer, SEO Geek. For inquiries contact me dzulfikar.alala[at]gmail[dot]com | bangdzul.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Si Penjaga Sungai Pusur

9 November 2018   18:55 Diperbarui: 10 November 2018   18:14 392 10 5
Kisah Si Penjaga Sungai Pusur
River Tubing di Sungai Pusur Klaten / dok.pribadi

Sejarah mencatat bahwa beberapa ibu kota berdiri tidak jauh dari sumber air seperti sungai dan lautan. Tak terkecuali beberapa kerajaan di Pulau Jawa yang berdekatan dengan sumber air, sungai-sungai yang mengalir jernih dari pegunungan.

Air juga kerap menjadi salah satu sumber yang dijadikan alasan untuk berperang. Air menjadi sumber penghidupan dan menjadi sumber vital bagi sebuah kerajaan.

Itulah sebabnya kata DR. Ir. Nana Mulyana Arifjaya, Pakar Hidrologi dari IPB, air juga membentuk karakter orang. Mereka yang hidup dekat dengan sumber air cenderung memiliki sikap toleran dan damai. Sebaliknya, mereka yang sulit mendapatkan air kerap mengedepankan watak yang keras.

Aris sedang memberikan briefing sebelum turun ke Sungai / dok.pribadi
Aris sedang memberikan briefing sebelum turun ke Sungai / dok.pribadi
Itulah yang tercermin pada kondisi Timur Tengah saat ini. Tak pernah layu dengan peperangan. Meskipun dengan alasan yang berbeda selain memperebutkan air kehidupan yang lainnya.

Jika dulu raja dan rakyatnya bisa berperang demi memperebutkan air, kini justru sebaliknya. Warga justru harus berperang dengan dirinya sendiri.

Mereka yang tinggal di dekat aliran sungai tak lantas hidup makmur dan sejahtera. Ironisnya, air menjadi sumber dari malapetaka dan wabah yang melanda. Salah satunya yang pernah terjadi di Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah.

Infografis River Tubing Pusur Adventure / dok.pribadi
Infografis River Tubing Pusur Adventure / dok.pribadi
Desa ini tak ubahnya seperti kampung halaman saya dulu di Prajekan, Jawa Timur. Masih banyak hamparan sawah yang menghijau dengan rumah-rumah tradisional. Sebagian masih beralaskan papan dan bilik-bilik bambu, tetapi sudah cukup didominasi dengan bangunan-bangunan modern nan permanen. 

Corak dan ciri khas rumah Jawanya tetap dipertahankan. Hal tersebut terlihat dari atap yang bisa dijangkau tangan dengan teras yang lapang. Di beberapa rumah masih ada yang menaruh bale-bale sebagai tempat bersantai. Di samping kanan dan kirinya beberapa tanaman tumbuh mempercantik rumah-rumah mungil khas di desa.

Lingkungan pedesaannya pun cukup bersih. Ingatan saya menerawang jauh saat pernah tinggal di Yogyakarta. Kondisinya hampir serupa. Biasanya mbah-mbah dengan punggung yang sudah membungkuk sekalipun masih tetap rajin membersihkan halaman rumah hingga ke sudut-sudut jalan tetangganya. Hebatnya lagi, hal itu mereka jadikan rutinitas yang tak pernah dilewatkan setiap pagi sehingga saya bisa menyapa mereka dan bercengkrama meski hanya sesaat.

Aris membantu para peserta DBA2 mengenakan helm dan safety jacket / dok.pribadi
Aris membantu para peserta DBA2 mengenakan helm dan safety jacket / dok.pribadi
Aliran sungai Pusur, Klaten bukan hanya menjadi sumber air minum tapi juga tempat cuci kakus sehingga warga dengan sangat mudah terserang penyakit. Salah satu yang melanda warga kecamatan Polanharjo adalah wabah demam berdarah medio 2015. Bahkan tahun tersebut menjadi wabah terburuk jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dikutip dari Solopos (3/10/2015).

Kondisi tersebut membuat sosok seperti Aris Wardoyo, pemuda yang mulai sadar bahwa ia harus berbuat sesuatu dengan desanya jika tak ingin terus menerus dalam kondisi yang sama.

Aris mulai mengajak pemuda lainnya untuk ikut membersihkan aliran sungai Pusur yang tercemar dengan sampah dan limbah rumah tangga. Padahal aliran sungai dari mata air Cokro ini sejatinya merupakan air bersih. Bahkan aliran Sungai Pusur tidak jauh dari beberapa tempat wisata mata air di Klaten seperti Umbul Wedi, Umbul Putri, Umbul Waru, dan Umbul Karet.

Perasaan suka cita meliputi seluruh peserta / dok.pribadi
Perasaan suka cita meliputi seluruh peserta / dok.pribadi
Kisah ini bermula saat Aris memiliki kebiasaan unik bersama warga lainnya. Ia gemar bermain di aliran sungai terutama saat debit air naik. Mereka menyebut permainan itu dengan ban-banan.

Dengan menggunakan ban dalam bekas kendaraan, kemudian mereka terombang-ambing mengikuti arus yang deras. Kebiasaan inilah yang akhirnya diubah oleh Aris sambil membersihkan sampah sambil menyusuri sungai Pusur.

Awalnya pria dengan kacamata tebal dianggap gila. Idenya membersihkan sungai sempat dicemooh oleh warga. Menurut warga, ide tersebut hanya akan berakhir sia-sia. Toh, saat itu warga memang tetap menjadikan sungai pusur sebagai tempat sampah.

Aris bergeming, ia tetap melanjutkan kegiatannya bersama anak-anak muda lainnya. Lambat laun ternyata Sungai Pusur menjadi tempat kegiatan menarik bagi warga lainnya.

Aris merangkul anak-anak muda karang taruna Desa untuk ikut serta turun tangan membersihkan Sungai Pusur sambil melestarikan permainan mereka sejak masih kanak-kanak.

Hanya dengan bermodalkan ban bekas, Aris bersama pemuda lainnya menyusuri sungai sambil membawa kantong untuk mengambil sampah-sampah yang ikut hanyut atau tersangkut dahan-dahan pohon di pinggir aliran sungai. Kegiatan itu hampir setiap minggu dilakukan.

Peserta River Tubing Adventure sudah siap turun sungai / dok.pribadi
Peserta River Tubing Adventure sudah siap turun sungai / dok.pribadi
Kondisinya yang semakin bersih membuat banyak anak muda tak enggan lagi untuk bermain di sungai. Tua muda kini berkumpul di Sungai yang menyatukan mereka semua.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3