Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Cape Rasanya Harus Menyaksikan Keributan 5 Tahunan, Gara-Gara Pilpres

31 Oktober 2023   07:01 Diperbarui: 31 Oktober 2023   07:08 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ajang "Idol" pemimpin Indonesia yang dibungkus dalam balutan bernama Pemilihan Presiden 2024, sebenarnya merupakan perhelatan demokrasi lima tahunan biasa yang tak perlu dibawa sampai ke hati, pikiran, dan jiwa, kecuali bagi mereka yang terlibat langsung dalam memperebutkan kekuasaan tersebut

Kegaduhan dan intrik-intrik yang saat ini berlangsung, sejatinya hanya berada di tataran elite belaka.

Apabila "keributan" terbatas hanya dikalangan mereka saja, mungkin tak ada yang terlalu dikhawatirkan.

Sayangnya para elite dengan segala sumber daya yang mereka miliki mencoba memamparkan hasrat mereka untuk berkuasa itu dengan cara memanipulasi emosi rakyat melalui aneka  jargon dan narasi penuh "hasutan"

Padahal kalau mau jujur, apa sih faedah langsung yang dapat dirasakan oleh rakyat jelata, jika salah satu dari ketiga pasangan calon itu memenangkan Pilpres 2024.

Kehidupan kita ya kita juga yang menentukan, kalau sudah nyaman duduk di singgasana kekuasaan apa mereka akan memerhatikan kita semua.

Janji-janji kampanye lebih banyak ditelikung, padahal mereka sendiri yang berjanji, tapi kemudian mereka juga yang mengingkari. Rakyat lebih banyak diselingkuhi dibandingkan dikhidmati.

Jujur saja deep down in my heart, now, i really don't care siapa yang akan memenangkan pilpres 2024.

Cape rasanya menyaksikan manusia-manusia politik ini saling hujat, demi apa coba?

Katanya semua partai politik dan politisi yang ada didalamnya, memiliki tujuannya yang sama, membawa negeri kita tercinta yang bernama Republik Indonesia ini menjadi negara maju, rakyatnya sejahtera dalam naungan hukum yang berkeadilan, tapi untuk menggapainya menggunakan cara-cara penuh muslihat, saling menjelekan satu sama lain, merasa pilihannya lah yang paling benar, pilihan orang lain busuk 

Ironisnya cara berpikir mereka itu dijejal-jejalkan ke dalam pikiran rakyat, sehingga rakyarnya lah yang berkelahi, sementara mereka asyik masyuk di menara gading sambil ngopi-ngopi, cekakak cekikik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun