Mohon tunggu...
Febrian KisworoAji
Febrian KisworoAji Mohon Tunggu... Pengembara sastra

Sedang menikmati kegoblokan dalam bersastra

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Terima Kasih Sudah Mau Mengantarkan

1 April 2020   17:50 Diperbarui: 1 April 2020   17:50 6 0 0 Mohon Tunggu...

Kuucapkan terima kasih pada perbincangan hari ini. Pada penghujung sore yang melelahkan, jiwa raga terasa payah tak karuan. Kecuekanmu saat itu, sungguh-sungguh menggemaskan bagiku. Wajahmu yang terlihat lugu, cemberutnya bibirmu, lirikan mata yang tak ingin bertemu. Ah, kamu, kenapa selalu bikin aku terjatuh. Malam menyapa kemudian, teman-teman bergegas pulang ke tempat peristirahatan, entah kost ataupun rumah. Bagiku itu semua sama aja. Sebab, aku pernah merasakan sensasi keduanya.

Tidak pada hari itu, ada sesuatu yang membuatku berbunga-bunga, meski masih diiringi rasa marahmu kepadaku atas kelakuanku yang belum kunjung sadar atas segala ketidakbaikan. Atas segala perhatianmu, diketahui atau tidak kuketahui, terima kasih. Jangan lekas berhenti, bertahanlah hingga nanti. Bersamaku yang keras kepala dan tak tahu diri.

Obrolan singkat bersama Pak Dosen mengiringi perjalanan meninggalkan kuliah hari itu. Banyak hal yang kudapat bersamanya, meski tak harus semuanya aku terima, setidaknya, ada hal yang patut aku teladani. Semoga, hal-hal baik yang telah ia dapat, perlahan barokahnya merambat.

Ia masih saja marah, tampak dari kerutan wajah dan nada suaranya yang masih ketus. Tak mengapa, aku suka. Hahah. Karenanya, aku tidak langsung bergegas meninggalkan kampus. Ada hal yang ingin kusampaikan padanya, permohonan maaf salah satunya. Kulihat disekitar tak ada tanda-tanda teman yang bisa dijadikan sebagai barengan menuju kost. Tanpa pikir panjang, aku naik ke sepedanya. Duduk di belakang, sembari bercakap tentang apa yang ingin kubicarakan. Dan, ternyata ia mau untuk mengantarkanku ke kost.

Gas sepeda ditarik olehnya, sepeda pun berjalan menyusuri kampus tercinta. Tak terlalu cepat, agar perbincangan yang tercipta terdengar dengan mudah. Menyusuri gang kecil, suasana Maghrib yang hampir usai, orang-orang keluar dari masjid, warkop-warkop yang senantiasa ramai oleh mahasiswa. Suasana kecil di salah satu sudut Kota Surabaya. "Pean dicariin ibu ku, loh" ucapku padanya. "Oh ya? Kok bisa" tanyanya agak terkejut. Lalu, kuceritakan kronologis kejadian tersebut. Dimana pada saat itu aku sedang asyik main gawai. Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba Ibu datang dari belakangnya, terlihat fotoku berdua bersama dia, Ibu pun bertanya kemudian. Aku jawab apa adanya deh. "Makasih" ucapku padanya untuk perbincangan singkat dan cukup menghangatkan di kala dinginnya malam mulai pekat.

Ada salah satu seorang saksi yang ikut tertawa geli melihatku berbincang lepas berdua dengannya di atas sepeda. Merayakan lelah seharian atas padatnya kuliah, sedikit ada marah darinya dikarenakan sikapku yang keras kepala tak ada habisnya. Dia adalah salah satu kawan seperjuangan, kuliah, kehidupan, Maiyah, dan juga asmara.

Sungguh, jasamu tak dapat kuganti dengan apapun. Selain cipta doa agar sehat jiwa raga selalu. Tenang, tak ada yang sia-sia. Percayalah, keajaiban akan berpihak padamu. Disadari atau tidak, disukai atau tidak, semuanya akan datang tak terduga. Sebab, dia tak mengenal kata lelah untuk mencipta rasa gembira. Kepada temannya yang tak tahu diri dan keras kepala. Demi menyudahi penyakit tuna asmara. Hahah. Adalah aku orangnya.

Surabaya, 14 Februari 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x