Mohon tunggu...
Fawaizzah Watie
Fawaizzah Watie Mohon Tunggu...

Perempuan. Duapuluhan. \r\n\r\n\r\nhttp://fawaizzah.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Berduka

22 Oktober 2011   08:11 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:38 0 2 0 Mohon Tunggu...

Terlalu banyak hal kenangan tentangmu. Tentang senyummu, semangatmu, kebaikanmu, kesederhanaanmu, keuletanmu, mimpi-mimpimu, TPA yang kini berubah menjadi Madin. Ah.. terlalu banyak Yo, aku tak mampu menyebutkan semuanya.

Pagi yang belum sempurna datang hari ini membuat sedetik jantungku berhenti berdetak. Mbak, mas Yogik meninggal. Kecelakaan sepulang kuliah. Begitu kabar yang kuterima. Tentu saja aku tak langsung mempercayainya. Kamu masih nampak segar bugar saat bertemu dennganku beberapa hari lalu. Ya, kamu membonceng Puh Jum, ibumu. Kukira kamu baru pulang dari pasar waktu itu.

Setelah menghubungi beberapa nomor dan mereka memberikan konfirmasi yang sama, barulah hal itu memecah keraguanku tentang kabar itu. “Allah sayang padamu, Yo.” Begitu lirih aku membisik. “Tenang Yo, aku tak akan menangis. Aku ikhlaskan kepergianmu yang terlalu cepat ini. Aku tak akan menangis Yo, aku janji.” Ikrarku pagi ini.

Kamu tahu Yo, saat aku sampai ke rumahmu, aku melihat kerandamu. Sulit untuk mempercayai jika yang berbaring dalam keranda itu adalah kamu. Kamu tahu, aku tak menangis Yo. Aku tak menangis! Saat aku masuk ke rumahmu, aku tak segera menemui ibumu. Aku takut tangisku pecah jika memeluknya nanti. Aku duduk di sudut. Persis menghadap kamarmu. Dan sebuah potomu yang kau cetak beberapa waktu lalu. Memakai baju batik seragam dari LP2K TPA, baju kebesaranmu. Meski begitu aku tak menangis Yo. Aku tak menangis! Sudah kubilang, aku sudah ikhlas.

Beberapa waktu sebelum jenazahmu disholatkan, beberapa gadis masuk ke dalam rumah. Mungkin mereka adalah teman sekampusmu. Ya, mereka teman sekampusmu. Mereka mengenakan almamater yang juga sering kaukenakan. Wajah mereka semua mendung, lalu mereka menangis keras saat memeluk ibumu. Awalnya aku masih mampu bertahan Yo, aku tak menangis. Tapi begitu mendengar ibumu memanggil-manggil namamu, pertahananku goyah. Tubuhku berguncang karena menahan tangis. Pelukan ibuku yang saat itu juga ikut melayat, semakin membuatku tak berdaya. Aku ingkar Yo, maaf. Aku menangis hebat.

Imron, ya, Imron. Aku mendadak ingat Imron, adikmu yang sering kauajak setiap ada acara di LP2K TPA, yang seriig kauajak ke rumahku juga. Aku mencarinya. Hanya ingin memeluknya. Mengatakan padanya bahwa dia tak harus mencarimu, tak menangisi kepergianmu. Allah sudah memelukmu. Allah sudah menyiapkan tempat terbaik untukmu. Tapi saat aku menemukannya, aku justru tak mampu berucap barang sepatah. Melihat matanya saja rasanya aku tak kuat. Dan lagi-lagi aku ingkar Yo, aku menangis saat merangkul Imron, adikmu.

Yo, pergilah dengan tenang. Tak usahlah kaukhawatirkan siapa yang akan merawat masjid di dekat rumahmu itu. Aku yakin, masih banyak orang yang peduli dengan rumah Allah. Tentang adik-adik didikmu di Madin? Ah, kurasa kau tak perlu mengkhawatirkannya juga. Tentu Allah akan menjaga dan merawat mereka. Memberikan tenaga pendidik baru untuk mereka, yang sabar dan penyayang sepertimu.

Yo, pergilah dengan damai. Kaulihat tadi? Banyak sekali orang yang mangantar kepergianmu. Mulai teman-teman kampusmu, teman-teman ustad dan ustadzah dari LP2K TPA, teman-teman sekolahmu dulu, guru-gurumu. Mereka semua datang untuk mengantarmu istirahat. Usahlah kau khawatirkan air mata mereka, mereka menangis karena bahagia telah diberikan kesempatan untuk mengenalmu. Dan mereka merasa terhormat karena diberi kesempatan untuk mengantarmu pulang kepelukan Tuhan.

Selamat jalan Yo, beristirahatlah dengan damai.

Setiap orang sudah membawa takdirnya masing-masing saat dilahirkan, begitu juga dengan takdir seseorang saat menemui ajalnya.

RIP Yogik Cahyo Utomo | 22 tahun

KONTEN MENARIK LAINNYA
x