Mohammad Fauzi Alvi Yasin
Mohammad Fauzi Alvi Yasin

Saya adalah seorang mahasiswa jurusan Administrasi Negara di Universitas Udayana. Saya sudah gemar menulis semenjak kecil, kira-kira kelas 4 SD. Namun saya baru serius untuk belajar mendalami ilmu menulis di bangku SMA.\r\nDan setelah saya masuk perguruan Tinggi, saya semakin tertarik untuk mengasah hobi saya dengan mempelajari sesuatu hal yang baru, yaitu tentang ilmu Jurnalistik.\r\nSemoga hobi saya ini dapat membawa manfaat, khususnya bagi saya dan juga untuk orang lain.\r\nMengapa saya memilih untuk menulis ? Karena seseorang bisa dikenal oleh sejarah dan juga orang lain melalui sebuah tulisan.\r\nItulah alasan yang mendasari saya ingin menekuni dunia Jurnalistik (Tulis-Menulis).\r\n\r\n-Mohammad Fauzi Alvi Yasin-

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemenang Pilkada Jakarta Putaran Dua

18 April 2017   16:53 Diperbarui: 18 April 2017   17:18 2698 0 2
Pemenang Pilkada Jakarta Putaran Dua
Sumber: poskotanews.com

“Pilkada adalah pesta demokrasi rakyat. Namanya pesta ya harus gembira. Jangan malah Pilkada memecah persatuan dan kesatuan”. Pesan Pak Jokowi melalui akun twitternya. Banyak yang mengatakan bahwa Pilkada DKI sebagai Pilkada rasa Pilpres. Pasalnya Pilkada DKI merupakan ajang pemilu setelah Pilpres, sebab melalui Pilkada DKI inilah mampu menghantarkan Jokowi menjadi Presiden. Oleh karena itu tentu banyak yang ingin mengikuti jejak sang presiden, hal ini menjadi magnet yang kuat untuk menarik tokoh-tokoh politik sebelum berlaga di ajang Pilpres. Namun dalam debat putaran pertama yang lalu, ketiga pasangan calon ditanya apakah akan maju dalam pilpres 2019, ketiganya menyatakan akan tetap di DKI Jakarta sampai masa jabatannya habis.

Hasil pilkada DKI versi KPU menempatkan Ahok-Djarot di posisi pertama dengan jumlah suara 2.357.785 suara atau 42,96%. Di posisi kedua Anies-Sandi dengan perolehan suara sebanyak 2.193.530 suara atau 39,97%. Dan di posisi terakhir ada Agus-Sylvi dengan 936.461 atau 17,06%. Tingkat partisipasi pemilih sebanyak 74,2% dengan angka golput mencapai 25,8%. Dengan hasil tersebut membuat Ahok-Djarot dan Anies-Sandi berhak melaju ke putaran kedua pilkada DKI Jakarta 2017. Perbedaan yang tidak terpaut jauh antara Ahok dan Anies membuat putaran kedua nanti tentunya akan sangat menarik. Pasalnya kedua kandidat harus bekerja keras merebut suara pendukung pasangan Agus-Sylvi sebesar 17,06% dan sekaligus juga harus mampu meyakinkan masyarakat yang masih golput di putaran pertama.

Ditengah isu SARA dan demo 411, 212, dan 112, data menunjukkan hanya 35% penduduk Jakarta yang menjadikan isu agama sebagai rujukan dalam memilih pemimpin. Ini artinya rasio pemilih konservatif dibandingkan pemilih modern 35:65. Selain itu penampilan atau performa saat debat kandidat juga dijadikan acuan masyarakat dalam memilih gubernur dki. Dari sekitar 43%-45% masyarakat yang menonton debat putaran pertama dan kedua, mayoritas menganggap Ahok-Djarot unggul dengan 44,9% di debat pertama, lalu turun menjadi 40,1% di debat kedua. Posisi kedua ditempati Anies-Sandi mendapatkan 25,1% di debat pertama, kemudian naik menjadi 31,3% di debat kedua. Dan posisi ketiga Agus-Sylvi mendapatkan 15,9% di debat pertama, kemudian turun menjadi 11% di debat kedua.  

“Banyak yang marah sama Ahok itu kalua saya lihat. Mereka memang marah sama Ahok tapi sebagai pemilih mereka mungkin masih bisa menilai kerjanya Ahok” ujar Phillips Vermonte, Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Beberapa pemilih di Jakarta Utara dan Jakarta Selatan bahkan mengaku kepada Vice Indonesia bahwa mereka mengakui kinerja Ahok, namun mereka tetap berencana akan memilih Anies lantaran beragama islam.

Ahok-Djarot unggul di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Sedangkan Anies-Sandi unggul di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Beberapa lembaga survei seperti Polmark, SMRC, Poltracking, serta Lingkaran Survei Indonesia telah melakukan penelitian tentang pilgub dki putaran kedua, dan dari beberapa lembaga survei tersebut memprediksi bahwa Anies-Sandi akan menang melawan Ahok-Djarot.  

Menurut Kacung Marijan, budaya politik para pemilih di Indonesia masih bercorak patronclient, serta perilaku pemilih yang masih bercorak voluntary dan tranksaksi material ketimbang bercorak transaksi kebijakan. Namun pada kampanye kemarin, pasangan Anies-Sandi sempat meneken kontrak kerja bersama warga jika terpilih menjadi gubernur nanti. Hal ini tentu merupakan awal yang baik, agar janji-janji kampanyenya dapat diterapkan dalam pengambilan kebijakan nantinya. 

Pada dasarnya ada 3 pendekatan dalam mengetahui perilaku pemilih (voting behavior) yaitu :

  • Pendekatan Sosiologis : berdasarkan tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, agama dll.
  • Pendekatan Rasional : berdasarkan keuntungan yang didapatkan jika memilih calon.
  • Pendekatan Psikologis : kesukaan terhadap pribadi calon, sikap dan sopan santun calon, dll.

Teori pilihan rasional (Downs : 1957) menyatakan bahwa “pemilih rasional hanya menuruti kepentingannya sendiri atau kalaupun tidak, akan senantiasa mendahulukan kepentingannya sendiri diatas kepentingan orang lain. Down juga menjelaskan bahwa perilaku memilih berhubungan dengan kebijakan pemerintah/petahana dalam suatu periode sebelum pemilu/ pilkada dilakukan. Berdasarkan prespektif Downs inilah seseorang yang berprilaku rasional akan menghitung bagaimana caranya mendapatkan hasil maksimal dengan ongkos minimal. Model ini memberi perhatian pada dinamika ekonomi-politik, sehingga pilihan politik seseorang banyak dipengaruhi oleh kondisi ekonominya. Jika evaluasi terhadap kondisi ekonominya positif maka akan menguntungkan bagi sang petahana, namun sebaliknya jika hasil evaluasinya negatif maka akan berpengaruh buruk.

Pendekatan rasional (Rational Choice) pada dasarnya diadopsi dari ilmu ekonomi. Sebab didalam ilmu ekonomi selalu menekankan tentang bagaimana caranya dengan modal yang kecil/terbatas harus mendapatkan keuntungan yang besar. Hal ini senada dengan perilaku politik yang mempertimbangkan memilih pasangan calon yang menguntungkan bagi dirinya kedepan melalui program-program yang ditawarkan. Tentu hal itu akan membuat para pemilih akan mempertimbangkan pasangan calon mana yang paling menguntungkan dengan menekan resiko kerugian sekecil-kecilnya.

https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fassets.jalantikus.com%2Fassets%2Fcache%2F1380%2F600%2Fnews%2F2017%2F03%2F24%2Fahok-vs-anies.png&imgrefurl=https%3A%2F%2Fjalantikus.com%2Fnews%2F15416%2Fpemberitaan-ahok-djarot-vs-anies-sandi%2F&docid=XFtKcJ2VFM2ecM&tbnid=suMMtsP1nATgpM%3A&vet=10ahUKEwihzIKJ2a3TAhUExrwKHRYSDyAQMwgvKAowCg..i&w=1380&h=600&bih=662&biw=1366&q=ahok%20vs%20anies&ved=0ahUKEwihzIKJ2a3TAhUExrwKHRYSDyAQMwgvKAowCg&iact=mrc&uact=8
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fassets.jalantikus.com%2Fassets%2Fcache%2F1380%2F600%2Fnews%2F2017%2F03%2F24%2Fahok-vs-anies.png&imgrefurl=https%3A%2F%2Fjalantikus.com%2Fnews%2F15416%2Fpemberitaan-ahok-djarot-vs-anies-sandi%2F&docid=XFtKcJ2VFM2ecM&tbnid=suMMtsP1nATgpM%3A&vet=10ahUKEwihzIKJ2a3TAhUExrwKHRYSDyAQMwgvKAowCg..i&w=1380&h=600&bih=662&biw=1366&q=ahok%20vs%20anies&ved=0ahUKEwihzIKJ2a3TAhUExrwKHRYSDyAQMwgvKAowCg&iact=mrc&uact=8

Berbicara kondisi perekonomian di DKI Jakarta, jumlah penduduk miskin di Jakarta  pada September 2015 sebayak 368,67 ribu orang, sedangkan rilis terbaru tanggal 3 Januari 2017 jumlah penduduk miskin per September 2016 meningkat menjadi 385,84 ribu orang. Sedangkan gini rasio di DKI Jakarta mengalami penurunan dari yang semula 0,421 pada September 2015 menjadi 0,397 di September 2016, namun dengan hasil tersebut menempatkan DKI Jakarta diposisi 8 provinsi dengan gini rasio tertinggi di Indonesia. Selain itu menurut Databooks katada, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jakarta mengalami peningkatan menjadi 6,12% diatas TPT nasional yang berada di angka 5,61%.

Berdasarkan data-data tersebut menandakan bahwa kondisi perekonomian di DKI Jakarta masih perlu dilakukan upaya perbaikan yang serius oleh gubernur terpilih nantinya. Dengan kata lain jika menggunakan model teori pilihan rasional yang mengevaluasi keadaan perekonomiannya tentu akan menimbulkan citra negatif bagi sang petahana. Belum lagi ditambah dengan adanya program kerja pasangan Anies-Sandi yang lebih berfokus pada perbaikan ekonomi warga melalui OK-OCE untuk melatih warga tentang pelatihan kewirausahaan, tentu semakin membuat sang petahana semakin berat memenangkan putaran kedua.

Selain itu, adanya isu SARA yang sedang membelit Ahok tentu sedikit besarnya sangat berpengaruh. Pasalnya kedua pasangan calon harus memperebutkan suara dari pasangan Agus-Sylvi yang cukup lumayan sebesar 17,06%. Meskipun Agus-Sylvi memilih bersikap non-blok pada putaran kedua, namun suara pendukung Agus-Sylvi tentu akan lebih cenderung beralih ke pasangan Anies-Sandi. Sebab mereka yang memilih Agus-Sylvi tentu menginginkan gubernur baru bagi Jakarta. Dan jika ditotal suara pemilih yang menginginkan gubernur baru tersebut adalah sebesar 57,03% berbanding 42,97% memilih gubernur lama.

Hasil survei yang dilakukan oleh Poltracking menunjukkan bahwa 40% warga DKI Jakarta adalah pemilih rasional yaitu pemilih yang mempertimbangkan visi-misi serta program kerjanya. 30% pemilih sosiologis yaitu tipe pemilih yang memilih berdasarkan kesamaan agama, suku, ataupun kelompok. Dan 20% psikologis yaitu tipe pemilih yang memilih pasangan calon berdasarkan sopan-santunnya, kegantengannya, dan budi pekerti.  Artinya dari kedua pasangan calon yang mempunyai visi-misi dan program kerja yang bagus, Anies-Sandi lebih unggul dibandingkan dengan Ahok-Djarot. Pasangan Anies-Sandi mempunyai program kerja unggulan Ok-Oce yang lebih berfokus pada penyediaan lapangan pekerjaan, serta adanya DP rumah 0% bagi warga Jakarta tentu akan menarik pemilih rasional.

Berdasarkan pemaparan opini, data-data dan fakta, berita terkini, serta teori pendukung yang ada, maka penulis berkesimpulan bahwa pilgub DKI Jakarta 2017 putaran kedua akan dimenangkan oleh pasangan Anies-Sandi. Namun, keduanya tetap akan bersaing ketat dan mungkin perolehan suara keduanya tidak akan terlampau jauh. Menarik untuk kita nanti.