Kesehatan Pilihan

Siaga 1 HIV, Pemuda Harus di Depan

14 Februari 2018   08:52 Diperbarui: 14 Februari 2018   09:06 379 1 2
Siaga 1 HIV, Pemuda Harus di Depan
sumber ilustrasi: harnas.co

Kabar mengejutkan datang di media-media dengan pemberitaan yang mengabarkan zona merah menyebarnya virus HIV aids di Bondowoso. Walaupun bukan daerah dengan serangan HIV tertinggi, namun sebarannya yang merata di setiap kecamatan menjadi catatan hitamnya. Penyakit berbahaya yang di sebabkan oleh virus HIV ini sudah menjadi kekhawatiran, bukan hanya di bondowoso tetapi sudah menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia sejak dulu. 

Hanya baru-baru ini data menunjukkan bahwa bondowoso masuk dalam lingkaran merah serangan virus ini. Sungguh kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua elemen yang ada di bondowoso, mulai dari pemerintah hingga masyarakat luas. Hal ini pastinya mencoreng nama baik semua keluarga besar masyarakat bondowoso walaupun yang menjadi pelaku dan atau korban hanya segelitir orang saja. 

Kenyataan ini tentunya tidak bisa kita salahkan, mengingat kasus sudah terjadi dan sudah terpublikasi. Jika kembali kepada dampak yang akan di akibatkan dari kejadian ini bukan hanya ancaman sebaran penyakit yang akan semakin luas, namun juga kegagalan penjagaan terhadap generasi muda ini bisa berdampak parah untuk generasi selanjutnya jika terus didiamkan. 

Selain itu, ditengah sibuknya promosi pariwisata untuk mengundang pariwisatawan untuk di datang ke bondowoso, kasus ini nampaknya dapat berpeluang menurunkan minat untuk mengunjungi bondowoso. Hal ini menjadi masalah sekunder dari adanya kasus yang harus segera di tuntaskan agar nama baik bondowoso sebagai kota damai dan nyaman segera kembali lagi.

Masalah yang telah terjadi ini tentu tidak bisa terus disesalkan, melaikan harus menjadi bahan evaluasi untuk terus difikirkan jalan keluarnya. Semua yang berpengaruh terhadap objek yang berpeluang terjangkit masalah ini harus bergegas untuk saling memperbaiki. Mulai dari pemerintah dengan kebijakannya, lingkungan dengan pengaruhnya, hingga orang tua dengan penjagaannya. Sehingga cerita ini harus menjadi latar belakang bersama yang sama untuk menyatukan semangat dan gerakan menuntaskan masalah fatal yang dapat menurunkan martabat bondowoso di mata nasional.

Pemerintah daerah dengan penekanaan keagamaan dalam programnya ternyata belum bisa menyadarkan para pelaku yang terserang penyakit HIV aids ini. Lingkungan yang terkenal dengan ke santrian nya ternyata masih belum bisa membentengi beberapa generasi muda untuk tidak terejerumus kedalam cerita kelam kenakalan remaja yang dapat membawanya kedalan kungkungan penyakit HIV, hingga orang tua pun masih kecolongan dalam mengodisikan putra putrinya untuk membangun hidup yang sebagai mana mestinya.

Sehigga dalam tulisan ini penulis lebih ingin menyoroti sikap pemuda/i yang mungkin dalam hal ini yang banyak berpeluang terjangkit kasus adalah generasi mudanya. Yang dengan gaya hidup yang serba gampang ini memberikan banyak peluang melakukan hal-hal negatif semacam bergonta-ganti pasangan hingga kelakukan seks bebas. Walaupun dalam hal ini tidak semuanya pemuda bondowoso menjadi sasaran dari tulisan ini. 

Dalam kata lain, masih banyak pemuda-pemuda penggerak dalam kebaikan dan masih terjaga dalam pergaualnya. Hanya saja sangat di sayangkan kasus ini masih terjadi dan yang pasti arah tuduhannya tidak jauh-jauh mengarah kepada generasi muda yang gaya hidupnya sangat berpeluang melakukan hal-hal yang dapat menyebarkan virus HIV ini.

Pemerintah, lingkungan, hingga pantauan orang tua memang menjadi faktor paling penting dalam menyelesaikan masalah ini. Sehingga sebelum dikembalikan kepada "pemuda" sebagai objek yang paling besar berpotentensi menjadi korban, maka ketiga faktor penting harus berfikir dan bekerja lebih keras untuk menuntuaskan masalah ini. Terutama untuk pemerintah yang pada tahun ini tercatat menjadi tahun terakhir sebelum pergantian kekuasaan, akan menjadi cacatan hitam pemerintah dan harus segera selesaikan serta diterus oleh siapa saja yang akan melanjutkan nanti. 

Kembali kepada generasi muda yang seharusnya mampu belajar mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang dosa dan mana yang berpahala tentunya dari ini harusnya mampu berhati-hati untuk menyikapi masalah tersebarnya penyakit HIV aids ini. Kampanye bahaya HIV Aids dijaman melinial ini sudah pasti dengan gampang di dapatkan, alasan tidak tau tentang hal-hal menggenai penyakit HIV nampaknya sudah tidak bisa menjadi alasan. 

Karena arus informasi yang cepat dan merata sudah dengan mudah di dapatkan oleh semua orang dalam genggaman. Hanya saja yang disayangkan mengapa hal ini masih saja terjadi?. Berarti ada hal yang memang timbul dari orang yang bersangkutan saja yang tidak mau belajar dari apa yang sudah terjadi. Sehingga mengapa yang perlu penakanan khusus adalah genersi muda yang mudah dan berpeluang besar terjerumus dalam lingkaran hitam HIV ini.

Melihat gaya hidup pemuda yang ada di bondowoso memang sudah nampak banyak mengarah kepada hal yang negatif dalam bergaul. Terlihat dari kebiasaan ber geng-gengan motor, miras, obat-obatan hingga kebiasaan pacaran yang sebenarnya mendekatkan pada gaya hidup seks bebas dikalangan pemuda. Sekali lagi, walaupun tidak semunya. Namun kebiasaab  seperti diatas adalah kegiatan-kegitan yang sangat dekat dan berpeluang besar menyebarkan penyakit HIV aids. 

Walaupun masih ada faktor lain seperti : kegiatan prostitusi dan masalah keturunan yang juga menjadi faktor pendukung mendukung tersebarnya panyakit ini hingga merata seperti disebutkan di pemberitaan beberapa media.

Sehingga seharusnya pemuda sebagai penerus generasi. Harus paham dan peka akan masalah ini. Kebiasaan - kebiasaan yang berpeluang besar untuk melakukan hal negatif layaknya melakukan hubungan suami istri diluar nikah harus terus ditekan. Mulai dari himbaun langsung, pengawalan, hingga mungkin kebijakan harus semakin di gencarkan. Namun dibalik itu genarasi muda juga harus punya usaha untuk terus konsisten menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang dapat memabawanya kedalam kasus semacam HIV Aids ini.

Pemuda harus sadar bahwa hubungan yang di jalankan dalam ikatan "pacaran"  sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap keberlanjutan hubungannya kelak. Dalil-dalil agama sudah sangat jelas bahkan mungkin sudah sering di sampaikan bahwa hal-hal yang mendekatkan kepada zina di haramkan untuk di jalankan. Namun yang masih sangat di sayangkan, gaya hidup seperti ini sudah di anggap biasa oleh beberapa generasi muda yang ada saat ini. 

Pemudi-pemudi masih saja mau dengan mudahnya menyerahkan harta paling berharganya ditukar hanya dengan janji manis kesetiaan hubungan dalam pacaran. Sungguh hal semacam ini begitu di sayangkan bagi wanita yang seharusnya menjadi primadona dengan harga dirinya. Namun kenyataannya masih banyak putri-putri kita yang  mau memberikannya dengan cuma-cuma.

Pemuda pun demikian, hanya untuk memenuhi hasrat nya hingga rela melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh terjadi dan dilakukan ini. Semua harus sadar bahwa hal yang di anggap gaya hidup kekinian, dengan berbangga punya pasangan, dibonceng-bonceng kesana kemari, hingga tidur dalam satu kamar tanpa hubungan sah itu sudah dianggap gaya hidup gaul dan tidak malu untuk dipamerkan bahkan dengan tidak sungkan mengumbar-ngumbar pengalaman bermainnya kepada sesama temannya. Yang dapat memperngaruhi teman lainnya menjadi penasaran dan ingin juga ikut mencobanya.

Masalah-masalah yang berangkat dari hal-hal sederhana seperti ini, nampaknya akan menjadi ancaman besar di hari mendatang jika tidak dipahami dan didengarkan baik-baik.

Kegiatan-kegiatan keagamaan, majlis-majlis ilmu mungkin sudah banyak tersebar di berbagai daerah di bondowoso. Hanya saja pertanyaanya adakah pemuda di dalamnya?. Jika ada berapa jumlahnya?. Kalau pengalam pribadi saja di bondowoso utara tepatnya di kecamatan wringin sudah banyak wadah bermanfaat yang masih belum di maksimalkan oleh generasi mudanya. 

Sehingga di point ini mengapa dalam tulisan ini lebih menekankan kepada pemudanya itu sendiri. Karena minimnya usaha untuk mengisi kesibukannya dalam hal-hal yang lebih bermanfaat, baik untuk dirinya pribadi hingga masyarakat luas.

Sehingga jika cerita kelam tentang kasus zona merah HIV aids yang tejadi di bondowoso ini ingin diselesaikan atau bahkan tidak ingin terulang besok. Semua elemen harus bergerak. Harus sadar akan dampak yang akan mengancam wilayah bahkan bisa masuk kepada keluarga kita dirumah. Mulai dari keluarga, lingkungan (baik di rumah ataupun sekolah) dan pemerintah serta yang paling penting pemuda itu sendiri. 

Mengikuti tren kekinian itu adalah hak semua sebagai pilihan hidup masing-masing. Hanya saja alangkah lebih baiknya dalam bergaul tetap memegang norma-norma sosial dan tetap berusaha memberikan kontribusi positif baik kepada dirinya sendiri bahkan untuk lingkungannya. Sehingga dengan ini bondowoso akan bersih dengan penyakit berbahaya semacam HIV Aids yang saat ini masuk dalam pemberitaan panas. Dan memang seharusnya berita semacam itu tidak boleh ada lagi di bondowoso.


Salam satu Bondowoso.


#bersihkanHIVdariBWS

#HIVmengancamBWS

#SaveBWS