Mohon tunggu...
Fathur Novriantomo
Fathur Novriantomo Mohon Tunggu... Penulis - Writer

Seringnya menulis soal film.

Selanjutnya

Tutup

Seni

Film Pendek sebagai Medium Bercerita yang Personal dan Eksploratif

17 September 2022   16:00 Diperbarui: 17 September 2022   16:56 88 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Behind the scene produksi film pendek (Dokpri)

Alasan utama saya ketika pertama kali bereksperimen dengan medium film pendek adalah karena kebebasannya. Mungkin lebih tepatnya kebebasan dalam keterbatasannya. Saya dapat dengan bebas mengontrol apa yang terjadi, siapa yang terlibat dan bagaimana sebab-akibatnya terajut dalam rentang durasi yang terbatas. Justru dari batasan durasi itulah saya jadi lebih mudah untuk fokus dan mengarahkan apa saja yang ada di dalam ceritanya. Karena sejatinya film pendek hanya menceritakan satu gagasan utamanya saja tanpa memiliki cabang alur yang kompleks layaknya film panjang.

Tahun 2016 menjadi tahun pertama saya dan kawan-kawan yang lain untuk nekat bikin film pendek. Proses awalnya begitu kocak dan setengah matang. Mulai dari skenario yang gak selesai karena bingung mau mengarahkan ceritanya ke mana (tapi tetap nekat di-shooting-kan), hingga proses editing yang tiba-tiba jadi penuh kepanikan karena ada shot yang lupa di-take. Kekacauan saat shooting seolah terbayarkan kala penonton memberi reaksi ketika filmnya ditayangkan. Entah itu reaksi tawa, senyum-senyum tipis atau tepuk tangan, yang jelas reaksi penonton menjadi suatu kepuasan tersendiri bagi pembuat filmnya.

Tahun ke tahun berlalu, saya jadi memandang film pendek sebagai medium yang begitu personal dan intim dalam menyampaikan keresahan pembuatnya. Dari sudut pandang tersebut, film pendek seolah menjadi cerminan dari pribadi si pembuatnya. Tentang bagaimana ia (si pembuat film) mengambil sikap terhadap keresahannya dan berdamai dengan itu, hingga pernyataan-pernyataan subjektif lain yang sangat personal. Ketika film pendek terasa personal, maka semua aspek pembangun filmnya senantiasa menunjang fungsinya sebagai medium bercerita yang intim. 

Menyambung soal medium bercerita yang personal, film pendek bisa menjadi bentuk curahan hati paling komplit. Disaat seorang filmmaker ingin curhat melalui film pendek, maka ada “rasa” yang ditransfer melalui ceritanya. Konsep curahan hatinya pun  beragam, ada yang mengadaptasi realita yang terjadi, adapula yang menciptakan semesta baru di mana alur ceritanya berjalan sesuai keinginan si pembuat (walau berbanding terbalik dengan kehidupan nyata). Format audio dan visual pun turut menjadi bahasa yang compelling untuk menumpahkan segala keresahan yang dirasakan. Hingga akhirnya, terjalin resonansi antara si pembuat film dan para penonton setelah dipantik oleh pesan yang termuat di dalam filmnya. 

Medium film pendek juga menjadi media eksplorasi bagi filmmaker untuk bereksperimen soal bentuk penceritaan dalam filmnya. Eksperimentasi ini berkaitan erat dengan teori dan kaidah yang berlaku dalam film. Berbicara soal bentuk, David Bordwell dalam bukunya yang berjudul Film Art : An Introduction membagi klasifikasi bentuk film menjadi naratif dan non-naratif. Bentuk naratif mengusung konsep yang umum, yakni adanya hubungan sebab akibat yang jelas dan struktur penceritaan yang sistematis. Sedangkan bentuk non-naratif memiliki ciri yang berlawanan dengan bentuk naratif. Cara penceritaannya lebih bebas dan abstrak tanpa terikat dengan struktur yang sistematis maupun hubungan kausalitas cerita yang jelas. Masing-masing dari bentuk penceritaan tersebut memiliki ruang eksplorasi yang sangat luas untuk dikombinasikan dengan visi dan kreativitas para filmmaker.

Menyambung soal film pendek sebagai ruang eksplorasi, banyak filmmaker industri yang memulai sepak terjangnya dari produksi film pendek. Beberapa di antaranya merupakan favorit saya, seperti Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth dan Yosep Anggi Noen. Ketiga nama tersebut telah menghasilkan banyak karya film pendek sebelum akhirnya bertransisi ke produksi film panjang di industri. Dari karya film pendek hingga film panjang mereka, banyak sekali perkembangan dalam kematangan berceritanya. Ifa Isfansyah dan Ismail Basbeth merupakan dua nama yang kini telah mengeksekusi beragam genre film yang jelas beda dengan karya film pendek mereka. Sedangkan Yosep Anggi Noen masih terlihat sangat setia dengan pendekatannya yang arthouse, baik di film pendek maupun film panjangnya. Perkembangan dan transisi ini menunjukkan bahwa film pendek adalah ruang eksplorasi untuk menemukan “identitas” dalam bercerita melalui medium film.

Era sekarang mempermudah banyak orang untuk membuat dan mempertontonkan karya film pendek mereka. Ditunjang dengan ketersediaan teknologi yang terjangkau dan platform penayangan yang beragam, membuat film pendek menjadi sebuah medium bercerita yang inklusif. Terbukti, di platform Youtube terdapat bejibun karya-karya film pendek dengan berbagai tema, gagasan, estetika, bahasa, dan ragam klasifikasi lainnya. Semua orang bisa membuat film pendek tanpa budget yang besar, bahkan tanpa merogoh kocek sepeserpun. Itulah yang menjadikan film pendek sebagai medium bercerita yang inklusif : masih bisa diproduksi secara independen oleh siapapun, tanpa adanya kewajiban untuk mempertimbangkan balik modal atau tidaknya.

Saya banyak berjejaring dengan para pembuat film pendek di media sosial karena saya mendukung mereka. Saya seringkali turut bersuka cita ketika ada orang yang merilis poster atau teaser trailer film pendek mereka di media sosial walau saya  tidak kenal secara personal. Begitupula ketika mendengar kabar ada teman yang sedang memproduksi atau akan merilis karya film pendek mereka. Mendengar kabar-kabar baik semacam itu saya menganggap mereka sedang mengemas gagasan dan keresahannya untuk senantiasa dibagikan kepada penontonnya. Kehadiran penonton adalah untuk merasakan dan merayakan apa yang mereka suarakan dalam karyanya. Budaya inilah yang semakin membuat saya semangat untuk membuat film pendek lagi dan lagi. Karena bagi saya, film pendek adalah medium paling spesial dalam menyampaikan gagasan dan keresahan, dengan cara mereplikasi realitas sesuai dengan cara saya memandang dunia. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan