Mohon tunggu...
Cerpen

Malaikat Kecil

14 Oktober 2017   14:49 Diperbarui: 15 Oktober 2017   09:11 0 0 0 Mohon Tunggu...
Malaikat Kecil
tpq-59e2c3a88cd021577315b8c2.jpg

Seperti ini kah akhirnya dimana dalam keadaan ruang yang berzona nyaman setelah rasa itu tercipta bersama dengan putra-putri Malaikat kecil sebagai obat dalam kelelahanku dalam aktivitas keseharianku yang penuh. Tapi tiba-tiba ku mendengar kabar burung yang mengharuskan berhenti untuk berbagi kebahagiaan dan sekaligus belajar saling tukar pengalaman.

Yah langsung saja masuk dalam cerita. Disini akulah menjadi peran utama sebagai pencari pengalaman ilmu kehidupan, tepatnya di ngalam ya banyak orang yang menyebutnya seperti itu. Dalam keseharianku, ku sibukkan di dalam ruangan yang bermayoritas dengan teman sebaya dan membahas betapa luasnya dunia ini, salng bertukar fikiran, dan bahkan ada tugas di setiap harinya. Yaitu seperti, tugas untuk mencari, membuat, menemukan, menentukan, dan mendiskrpsikan untuk sesuatu hal yang dijadikan referensi.

Dan seperti itulah aku lakukan setiap satu minggu dalam 5 hari, dan selebihnya pun kulakukan untuk mengerjakan tugas. Aku pun berfikir untuk menerapkan dan mengembangkan ilmu yang aku dapat dalam belajar, adalah dengan mencari kesibukkan di sore harinya untuk belajar mengajar di TPQ. Ya di tempat itulah yang aku sebut dengan putra-putri peri kecil, karena belajar dengan adik-adik kecil di mulai dari mereka yang belum sekolah mungkin umur 3 tahun-an kurang lebih, TK, SD, dan SMP pun juga ada. Di TPQ kita semua belajar bacaan doa dan semua tantang pendidikan agama pada di sesi pembukaanya setelah itu mereka semua berpencar untuk ke kelompok dimana mereka sampai di iqro' tingkat berapa, bukan dibedakan karna kelas di sekolahnya.

Kebetulan aku yang memegang kelas iqro' 1 sampai 3 dan mereka kebanyakan dari kelas SD, TK, dan bahkan ada yang berumur 3 tahun, Mungkin ada 1 atau 2. Membimbing anak-anak memerlukan kesabaran yang besar, pengertian, dan ketika memberi pengajaran pun harus dengan pelan-pelan.

Dikatakan sebagai obat perindu dan kelelahan setelah beraktivitas penuh dalam sehari, jika sudah bertemu dengan adik-adik TPQ hilang sudah rasa lelah itu. Sebab melihat mereka tertawa bahagia karena suka belajar mengaji dan bermain aku pun merasakan bahagia.

Dua minggu pun terlewati ikut serta belajar mengajar di TPQ, entah tak tau mengapa ada kabar bahwa aku dan teman-teman yang lainnya tidak boleh lagi belajar mengajar di TPQ tersebut oleh ibu pengasuh kami. Kami pun hanya bisa apa selain "sami'na wa atho'na" yaitu taat kepada Guru. Yah mungin alasan pertama adalah karena tempat TPQ lumayan jauh jangkauannya, sehingga kami pun belum di izini untuk belajar mengajar di TPQ tersebut.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x