Farid Wadjdi
Farid Wadjdi karyawan swasta

Bekerja di perusahaan kontraktor nasional, memiliki minat khusus di bidang arsitektur dan konstruksi, tapi juga ingin beceloteh dan curhat tentang apa saja.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Antusiasme dan Sportivitas Suporter Sepak Bola Indonesia

4 Februari 2012   19:35 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:03 4922 1 5
Antusiasme dan Sportivitas Suporter Sepak Bola Indonesia
1328378567450323370

Keriuhan dan serunya pertandingan sepak bola tidak lengkap tanpa memperbincangkan antusiasme penonton, yang ditandai dengan banyaknya jumlah penonton. Masing-masing klub sepak bola mempunyai pesonanya sendiri sehingga mampu menyedot antusiasme penonton dan suporter untuk beramai-ramai mendukung klub kesayangannya. Pada kompetisi domestik musim ini, di antara dua liga yang tengah berlangung di Indonesia, klub-klub yang memiliki dukungan suporter fanatik di antaranya Persija, Persib, Sriwijaya, Persipura (yang berlaga di kompetisi ISL) dan Persebaya, Arema, PSM (yang berlaga di kompetisi IPL). Dari nama-nama tersebut, untuk saat ini Persib lah yang paling fenomenal dalam hal jumlah penonton dalam laga kandang. Pertandingan Persib vs Persija yang berlangsung tanggal 28 Januari 2012 di Stadion Jalak Harupat Bandung mampu menyedot sekitar 40.000 penonton. Begitu banyaknya penonton, hingga banyak bobotoh Persib yang meluber hingga pinggir lapangan, hingga sempat mengganggu pertandingan. Selain memecahkan rekor jumlah penonton, laga Maung Bandung melawan Macan Kemayoran juga mencatat rekor baru Indonesia Super League (ISL) untuk rating televisi tertinggi sebesar 6,4% dan share 25%. Angka ini bahkan unggul jauh dari sebuah acara sinetron yang menjadi raja rating di hari sebelumnya dengan angka TVR 4,9 dan share 18,3%. Persib juga menjadi salah satu klub yang memiliki rata-rata penonton kandang di atas 20.000 orang bersama tim Gresik United. Fenomena ini tentunya sangat menarik untuk dicermati, seiring dengan kampanye Indonesia menuju industri sepak bola. Tentunya kita mengharapkan pada laga-laga selanjutnya, antusiasme penonton dan suporter akan lebih bergairah dan pertandingan juga akan lebih menarik ditonton. Masing-masing klub tentunya memiliki pesona dan magnetnya sendiri. Jika Persija (ISL) punya Bambang Pamungkas, maka Persebaya punya Andik Vermansyah, sedangkan Pelita Jaya justru betumpu pada nama besar pelatihnya, sementara Persipura memiliki pemain-pemain dengan skill dan kemampuan di atas rata-rata. Ada juga ikon klub yang menarik karena gaya flamboyannya, seperti Irfan Bachdim dan Diego Michels. Namun jika merunut ke belakang, antusiasme penonton Persib vs Persija masih di bawah bayang-bayang besarnya gairah penonton pada masa silam. Tercatat bahwa laga Persija vs Arema pada kompetisi LSI 2009-2010 mencapai rekor penonton terbanyak sepanjang pelaksanaan kompetisi LSI. Berdasarkan data resmi panpel Persija, dari hasil penjualan tiket ada sekitar 82.000 penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta. Jumlah itu tercatat atas penjualan tiket duduk, tidak termasuk penonton yang berdiri dalam stadion. Diperkirakan ada sekitar 140.000 penonton yang memadati stadion. Antusiasme Penonton Timnas Indonesia pada Piala AFF 2010

Sementara itu, timnas Indonesia mencatatkan gairah dan antusiasme terbesar dari penonton dan suporter ketika berlaga pada Piala AFF tahun 2010. Penampilan gemilang dari timnas ketika itu telah membuat publik kembali bergairah untuk mendukung timnas secara masif. Pelatih Alfred Riedl dan para pemain timnas mampu membangkitkan kembali harapan masyarakat pecinta bola yang haus akan prestasi sepak bola yang dapat dibanggakan. Selain banyaknya jumlah penonton yang membludak mencapai 100.000 penonton pada laga final leg kedua yang dilangsungkan di Stadion Gelora Bung Karno, besarnya gairah pecinta bola saat itu melahirkan fenomena-fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu luar biasanya gairah bola saat itu tercermin pada fenomena berikut:

  1. Latihan pemain timnas pun menarik minat para pecinta bola untuk berduyun-duyun menontonnya. Bukan hanya anak muda pecinta bola, bahkan ibu-ibu arisan pun ikut menonton latihan para pemain timnas.
  2. Berita-berita tentang timnas Indonesia menjadi perbincangan hangat (trending topic) di media sosial seperti twitter dan facebook, mengalahkan isu-isu besar yang lain.
  3. Editorial dan tajuk utama media cetak pun beralih ke perbincangan tentang timnas, setelah sebelumnya selalu concern pada masalah politik, hukum ekonomi dan sosial.
  4. Dunia bisnis pun ikut memanfaatkan momentum euforia keberhasilan timnas dengan menggunakan beberapa pemain timnas sebagai bintang iklan produk-produknya. Pemain-pemain itu di antaranya adalah Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Firman Utina dan sebagainya.
  5. Kaos dan atribut timnas lainnya banyak diburu tidak hanya para suporter tapi juga segenap masyarakat, bahkan sampai anak-anak pun merengek pada orang tuanya minta dibelikan kaos dan atribut timnas lainnya.

Momen Piala AFF 2010 benar-benar telah merubah apatisme masyarakat pecinta bola setelah sekian lama timnas minim prestasi, dan mewujudkan antusiasme dan ekspektasi yang besar dari masyarakat pecinta bola Indonesia. Legenda Sportivitas Pertarungan Persib vs PSMS Tahun 1985

1328381746528066969
1328381746528066969
Tak terbantahkan lagi, laga final Kompetisi Perserikatan 1984-1985 antara Persib dan PSMS Medan pada tanggal 24 Februari 1985 telah  menciptakan rekor jumlah penonton dalam pertandingan bola di negeri ini, yang belum terpecahkan hingga kini. Dari kapasitas 120.000 penonton yang tersedia, jumlah penonton yang hadir saat itu mencapai 150.000 yang mayoritas pendukung Persib. Penonton meluber hingga pinggir lapangan, tetapi wasit Djafar Umar mampu menyelesaikan tugasnya dan tidak terjadi kericuhan. Pada laga tersebut PSMS menang 4-3 melalui drama adu penalti setelah skor sama kuat 2-2. Pertandingan ini juga tercatat sebagai pertandingan terbesar dalam sejarah pertandingan amatir di dunia. Pertandingan itu sendiri menampilkan permainan yang berkualitas sekaligus menguras emosi penonton, meskipun demikian semua pihak yang terlibat tetap menjunjung tinggi sportivitas, sehingga tak terjadi kerusuhan. Ini juga merupakan pertandingan yang sangat heroik dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pertandingan berjalan sangat ketat, saling mengejar ketinggalan gol, hingga akhirnya diselesaikan melalui adu pinalti, dengan skor akhir 4-3 untuk kemenangan tim PSMS. Hebatnya lagi meskipun Persib sebagai 'tuan rumah" menderita kekalahan, namun tidak terjadi kerusuhan. Padahal pendukung Persib jelas mendominasi jumlah penonton dibandingkan dengan pendukung PSMS. Sungguh ini merupakan cerminan tingginya sportivitas yang sulit dijumpai pada pertandingan sepak bola domestik masa kini. Begitu kuatnya aura laga Persib vs PSMS tersebut, justru melahirkan persahabatan yang hangat antara Persib dan PSMS kala itu. Pemain-pemain Persib diundang untuk memperkuat PSMS memenuhi undangan Singapura untuk turnamen Piala Merlion. Dan Ajat Sudrajat, Kosasih, Robby Darwis, Sukowiyono dan Iwan Sunarya beberapa minggu mencicipi latihan bersama Ponirin dan kapten Sunardi A dkk di stadion Teladan, Medan. Penonton Medan mengelu-ngelukan Ajat Sudrajat sebagai "Soetjipto Soentoro Baru". Pertandingan Persib vs PSMS kala itu sangat sarat dengan pelajaran berharga, bagaimana sebuah sportivitas sebaiknya dikembangkan secara baik dan dewasa, penuh kekeluargaan seperti ciri budaya bangsa Indonesia yang kita kenal selama ini. Harapan untuk Sepak Bola Indonesia Masa Mendatang Persepakbolaan nasional kita hendaknya mengambil hikmah dari pemaparan dua peristiwa besar di atas, yaitu:

  1. Pentingnya pembinaan yang terencana dan berkesinambungan sehingga mampu mencapai prestasi yang membanggakan, sekaligus mengembalikan kejayaan persepakbolaan yang pernah kita miliki, yang pada gilirannya akan mampu membangkitkan antusiasme masyarakat pecinta bola, dan menarik minat dunia bisnis untuk ikut mendukung perkembangan sepak bola Indonesia.
  2. Pentingnya kesadaran untuk memupuk jiwa sportivitas baik di kalangan pemain maupun kalangan penonton/suporter, sehingga setiap pertandingan akan selalu menarik ditonton, dalam suasana yang bergairah, tanpa kekhawatiran terjadinya insiden kericuhan di pertandingan atau kerusuhan yang lebih besar.

Dalam kondisi persepakbolaan terkini yang terpecah akibat dualisme liga profesional antara IPL dan ISL, mungkinkah sepak bola kita mampu mewujudkan harapan di atas? Sebuah perpecahan, hampir pasti merupakan langkah mundur. Namun, jangan-jangan ini merupakan keharusan sejarah bagi persepakbolaan kita, untuk kemudian mampu kembali bangkit dan menemukan format untuk memajukan dunia sepak bola nasional. Bukankah dengan adanya dua liga ini, maka di antara keduanya akan saling bersaing menampilkan profesionalitas dan iklim kompetisi yang terbaik?