Mohon tunggu...
M. Fakhri S
M. Fakhri S Mohon Tunggu... Lainnya - Lilin kecil ditengah lorong kegelapan.

a student at Muhammadiyah University of Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Semaoen, Pendiri PKI yang Hidup Tenang di Masa Senjanya

5 Oktober 2020   15:10 Diperbarui: 5 Oktober 2020   21:18 677
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Keadaan Indonesia pada masa kolonial Belanda dengan belenggu kapitalismenya telah mengeksploitasi sumber daya alam besar-besaran. Alhasil, rakyat mengalami krisis dalam berbagai bidang. Belanda yang menguasai daerah-daerah produksi, juga dengan sistem sewa tanah dan tanam paksanya, praktis telah membuat pribumi makin sengsara. Perlakuan tidak adil seperti penindasan, pemaksaan, upah rendah, serta pemerasan, telah menjadi konsekuensi pribumi dalam sistem kemasyarakatan Hindia belanda kala itu.

Semaoen merupakan salah satu murid Tjokroaminoto yang muncul sebagai bumiputera pertama yang menjadi propagandis serikat buruh. Semaoen lahir di Tjurahmalang, Jombang, pada 1899. Ayahnya bernama Prawiroatmodjo yang bekerja menjadi buruh kereta api di Surabaya sebagai tukang pemecah batu. Semaoen yang dilahirkan bukan dari kalangan priyayi, sudah barang tentu diskriminasi menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari.

Ketika berusia tujuh tahun, Semaoen bersekolah di Hollandsch Lagere School yang berada di Surabaya. Ketika duduk di bangku kelas 6, ia diperkenankan ikut ujian Klein Ambternaar (Pegawai Pamong Praja Rendah), dan lulus. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, kondisi tersebut mendorongnya bekerja di Staatspoor Surabaya sebagai juru tulis kecil.

Walaupun telah bekerja, semangat Semaoen untuk belajar tidak surut. Otodidak adalah jalannya. Sikap maupun sifat Semaoen yang gemar membaca buku dan mudah bergaul, memberikan jalan lebar bagi Semaoen dalam menambah pengetahuannya melalui orang-orang yang ada di sekitarnya

Bergabung dengan Sarekat Islam

Ada kejadian menarik ketika terjadi aksi pemboikotan toko-toko cina di Surabaya, toko-toko tersebut diberi suatu tanda tertentu yang hanya diketahui oleh setiap anggota Sarekat Islam. Semaoen yang secara kebetulan mengetahui "kode rahasia" itu, mau tidak mau mereka terpaksa menerima Semaoen menjadi Anggota Sarekat Islam, meski Semaoen dalam usia yang masih belia.

Pada tahun 1914, Semaoen muda yang tergabung dalam Sarekat Islam Cabang Surabaya telah menunjukkan kecakapan dan bakatnya dalam bidang pergerakan, segera ia di usia 15 tahun telah menjabat Sekretaris SI Cabang Surabaya. Namun tak berlangsung lama, setelah pertemuannya dengan Sneevliet pada 1915, Semaoen pindah ke Semarang atas ajakannya.

Sneevliet adalah seorang propagandis asal belanda yang mengenalkan paham Marxisme pada Semaoen. Kaum sosialis dan buruh telah menarik anggota Sarekat Islam seperti Semaoen, sehingga para anggota SI turut serta bergabung dengan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) dan Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP). Hal ini dimanfaatkan Sneevliet yang berkeinginan paham Marxisme dapat menembus tubuh Sarekat Islam, dalam memuluskan propagandanya, ia menggunakan sistem yang dikenal dengan "keanggotaan ganda" baik ISDV maupun SI.

Taktik ini sangat menguntungkan karena ISDV berhasil menanamkan pengaruh yang kuat didalam tubuh Sarekat Islam. Dengan cepat haluan komunis menjangkiti beberapa tokoh muda, seperti Semaoen dan Darsono SI Cabang Semarang, Alimin dan Musso di SI Cabang Batavia, dan Haji Misbah di SI Cabang Surakarta

Seiring kemenangan Revolusi Rusia tahun 1917, ISDV dan VSTP sebagai organisasi di Hindia belanda yang bergerak membina organ pergerakan buruh semakin militan dalam menuju cita-cita perjuangan komunisme, seperti apa yang diperjuangkan kaum Bolshevik di Rusia.

Sarekat Islam Merah dan Pergerakan Buruh

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun