Mohon tunggu...
Faishal Rifqi Hadi Muzhaffar
Faishal Rifqi Hadi Muzhaffar Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Hobi Saya Bermain Badminton, Basket , Game Dan Bernyanyi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pendidikan Multikultural di Indonesia

7 Desember 2022   12:36 Diperbarui: 7 Desember 2022   12:39 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI INDONESIA

Oleh : Faishal Rifqi Hadi Muzhaffar

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah salah satu wadah atau tempat berisi suatu proses belajar mengajar yang diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam mencapai tujuan. Pendidikan juga diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan individu yang berlangsung sepanjang masa. Berkaitan dalam konsep pendidikan seumur hidup yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dengan interaksi manusia. Sehingga, konsekuensinya harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Pendidikan adalah alat atau sarana bagi setiap manusia untuk mengembangkan keilmuan dan pengetahuan, oleh karena itu pendidikan diharapkan memiliki konsep pendidikan dan dasar-dasar yang tertata, dan memiliki etika.

Pendidikan merupakan merupakan faktor terpenting dalam perkembangan diri setiap individu. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk memanusiakan manusia itu sendiri, karena pendidikan bersifat membudayakan manusia. Namun di dalam pendidikan juga terdapat banyak perbedaan filsafati dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing individu yang kemudian menyebabkan perbedaan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan tersebut. Pendidikan yang diselenggarakan pada suatu wilayah yang dihuni oleh suatu bangsa dengan wilayah lain pasti akan berbeda, karena antara satu bangsa dengan bangsa yang lain tidak memiliki satu pandangan filsafati yang sama tentang pendidikan. Kegiatan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan potensi-potensi dasar manusia agar dapat diterapkan secara nyata dalam lingkungan sosialnya (Kymlicka, 1995).

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf ke empat, secara jelas hakikat pendidikan adalah untuk “mencerdaskan kahidupan bangsa”. Jika kita bersedia mendefinisikan lebih jauh satu persatu, kata “mencerdaskan” dapat dimaknai sebagai dua subjek yang saling berinteraksi, antara pihak yang mencerdaskan dan pihak yang dicerdaskan. Sedangkan yang dimaksud “bangsa” adalah keseluruhan manusia yang hidup di tanah Nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanpa terkecuali. Dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa, ada dua pihak yang saling berinteraksi yakni pendidik dan peserta didik. Seorang pendidik haru memberikan sikap yang humanis kepada peserta didik supaya pengeetahuan yang diberikan dapat diinternalisasi dengan baik oleh peserta didik. Pendidik dengan rendah hati seyogyanya bersedia menciptakan relasi emosional dan intelektual guna melayani siswa atau mahasiswa (Hariyono, 2018: 5)

Aktivitas pendidikan baik dalam penyusunan konsep teoritis maupun dalam pelaksanaan operasionalnya harus memiliki dasar yang kokoh dengan berpedoman kepada etika akademis. Dewasa ini, tantangan pendidikan dalam hal ini adalah yang dihadapi oleh para peserta didik di dalam dan diseluruh dunia pendidikan termasuk di dalam lingkungan pesantren tengah menghadapi tantangan serius. Salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolokukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan, adalah kurikulum. Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan bagi siswa. Berdasarkan program lembaga pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

PEMBAHASAN

Sesuai dengan harapan diterapkannya Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan karakter, sehingga kemudian pendidikan multikultural akan lebih cocok untuk membentuk karakter yang toleran dengan berbagai keberagaman. Permasalahan sosial yang sering kita dengarkan hari ini berkisar pada isu SARA (Suku, Ras, Agama dan Antargolongan) yang selalu menjadi sumbu pendek sebagai akar konflik. Peran sekolah, guru, dan sistem pendidikan sangatlah penting dalam hal ini untuk menumbuhkan rasa peduli, toleran dan siap menerima segala perbedaan yang memungkinkan kita untuk hidup di tengah perbedaan tersebut. Sikap menerima tidak hanya sekedar ucapan formal saja, jauh lebih penting ketika diimplementasikan dalam bentuk apresiasi, memberi ruang, dan melindungi keberagaman itu sendiri. Pendidikan multikultural akan memberikan sumbangan dalam kehidupan manusia yang adil dan bebas dalam keberagaman (Teasley & Tyson, 2007).

Indonesia sebagai negara demokrasi sudah sepantasnya menunjung tinggi pluralisme. Kebiasaan yang akan dibangung adalah kebiasaan hidup berdampingan dengan berbagai macam perbedaan, yang kemudian tidak lantas dijadikan sekat dalam interaksi sehari-hari. Justru dari berbagai perbedaan yang ada dapat dijadikan sarana diskusi untuk saling bertukar pikiran, membangun pengetahuan bersama dengan harapan dapat menghasilkan nilai-nilai toleran. Toleransi itulah yang kemudian dapat dijadikan suatu alat untuk meredam konflik yang terjadi. Seperti misalnya dalam beberapa tahun ke belakang, kerap terjadi konflik yang mengatas namakan agama. Entah ia mun cul sebagai akibat hubungan antar umat beragama yang tidak dibarengi sikap toleran, atau ia sengaja diciptakan untuk mendukung kepentingan kelompok tertentu (Agung, 2017).

Pluralitas: Identitas Sebuah Kekayaan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun