Mohon tunggu...
Fahrul Rizal bin Iskandar
Fahrul Rizal bin Iskandar Mohon Tunggu... Dilahirkan dan menyelesaikan pendidikan sampai lulus SMA di Banda Aceh, melanjutkan pendidikan S1 Teknik Perminyakan di Yogyakarta kemudian memperoleh kesempatan kembali ke Banda Aceh untuk menyelesaikan S2 Ilmu Ekonomi dengan beasiswa Bappenas. Peminat sejarah peradaban manusia, memiliki perhatian khusus pada sejarah peradaban Islam dan Nusantara.

Dilahirkan dan menyelesaikan pendidikan sampai lulus SMA di Banda Aceh, melanjutkan pendidikan S1 Teknik Perminyakan di Yogyakarta kemudian memperoleh kesempatan kembali ke Banda Aceh untuk menyelesaikan S2 Ilmu Ekonomi dengan beasiswa Bappenas. Peminat sejarah peradaban manusia, memiliki perhatian khusus pada sejarah peradaban Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketika Buah-buahan Jadi Senjata Pamungkas Sultan Aceh Perangi Portugis

7 April 2019   18:56 Diperbarui: 9 April 2019   19:13 0 8 1 Mohon Tunggu...
Ketika Buah-buahan Jadi Senjata Pamungkas Sultan Aceh Perangi Portugis
Pengunjung sedang memetik rambutan di kebun milik Midrar di Lembah Seulawah, Aceh Besar, Rabu (30/1). Foto: Serambinews.com/Muhammad Nasir

Rambutan adalah salah satu buah kebanggaan masyarakat Aceh khususnya Aceh Besar, wilayah kabupaten yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Aceh rupanya memang memiliki ikatan emosional yang unik dengan komoditas buah-buahan lokal seperti halnya rambutan ini. 

Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin mengungkapkan penuturan Francisco de. Sande (1576) tentang kekesalan orang Spanyol pada Sultan Aceh ketika itu. 

Sebuah kehinaan besar sepertinya bagi orang Spanyol ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa "orang Moro buruk rupa yang kerdil, telanjang, dan tak beralas kaki" --julukan mereka bagi Sultan Aceh--  harus dihadapi orang Portugis dengan susah-payah di medan perang. 

Rupa kegeraman para penjajah Eropa pada kegigihan penguasa ujung paling barat pulang Sumatera itu sudah di luar batas hingga menyerapahi musuhnya dengan julukan-julukan yang tidak pantas.

Sebetulnya orang Spanyol dan Portugis bukanlah penjelajah asing pertama yang datang ke nusantara, pada tulisan sebelumnya (Kejayaan Ikan Nusantara, Dulu dan Sekarang) telah dipaparkan bahwa pusat niaga pantai nusantara yang terpenting awalnya adalah Sriwijaya, kemudian digantikan oleh Perlak/Samudera, Pasai, Melaka, Johor, Patani, Aceh, dan Brunei. 

Kemudian bahasa Melayu menjadi bahasa niaga utama di seluruh nusantara. Kelas pedagang kosmopolitan dari bandar-bandar besar di nusantara lalu dikenal sebagai orang Melayu. Sebab mereka menggunakan bahasa itu dan beragama Islam, kendati leluhurnya mungkin saja orang Jawa, Mon Khmer, Arab, India, Cina, atau Filipina bahkan Afrika sekalipun. Sedangkan "orang Moro" yang dimaksud oleh bangsa Spanyol itu adalah sebutan mereka bagi setiap orang yang beragama Islam.

Ketika bangsa Portugis menyambangi nusantara, pada kesempatan pertama mereka langsung meluluhlantakkan Bandar Melaka dan Sunda Kelapa. Adalah rasional bagi penguasa nusantara ketika itu untuk melakukan serangan balasan atas tindakan semena-mena Portugis tersebut.

Adapun orang Eropa ketika itu sebenarnya belum mengerti benar tentang iklim nusantara yang lunak. Makanan pokoknya beras, ikan, serta buah-buahan tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar dunia lainnya.

Rambutan pohon. Foto: distanbun.acehprov.go.id
Rambutan pohon. Foto: distanbun.acehprov.go.id
Cheng Ho, seorang laksamana yang dikirimkan dinasti Ming ke nusantara sempat mengeluhkan kelangkaan beras ketika mengunjungi Lamuri, Aceh, pada abad ke-15. Tetapi terkesan oleh banyak ragamnya buah-buahan yang tersedia sehingga penduduknya terhindar dari kelaparan. Masyarakat pelaut dan pedagang ketika itu umumnya suka membiarkan tanah tidak tergarap di area perbukitan dan hutan-hutan, akan tetapi tanah-tanah itu tersedia bagi siapa pun yang ingin mengolahnya.

Salah satu cara termudah agar seseorang dapat memperoleh hak penggunaan tanah secara tetap adalah dengan penanaman pohon buah-buahan. Walaupun pekebun tidak tinggal menetap di perbukitan dan hutan-hutan yang jauh dari pantai, dia akan tetap memiliki hak atas penggunaan tanah itu hanya dengan menanam pohon langsat, rambutan, durian, manggis, jeruk besar ataupun mangga.

Pohon buah-buahan ini termasuk dalam kelompok tanaman keras yang umurnya panjang dan dapat dipanen berulang sehingga tidak merepotkan mereka ketika harus ditinggal melaut atau berdagang.

Dalam sebuah peperangan, ketahanan pangan bagi prajurit adalah penentu kemenangan, dan penjajah Portugis ketika itu tidak pernah menduga taktik yang akan digunakan oleh lawannya yaitu Sultan Ali Munghayatsyah selaku penguasa Aceh. 

Dataran rendah disekitar ibukota kerajaan yang subur ketika itu ternyata banyak yang dibiarkan terbengkalai, sangat sedikit yang ditanami padi sebagai sumber makanan pokok. Sultan lebih memilih untuk "mengimpor" beras dari wilayah bawahannya seperti Lamno dan Nagan Raya.

Raja lebih bergairah mengadakan perlombaan olah raga menggunakan gajah, kerbau, dan sapi, sehingga masyarakat ibukota (Kuta Raja) lebih difokuskan oleh hewan-hewan itu. 

Seni bela diri senjata tajam dan sumpit menjadi keharusan bagi para pemuda kampung disekitar Kuta Raja, setiap pekan pasti diadakan adu tanding diatas kuda ataupun sambil berdiri antar para prajurit Kesultanan. 

Ibarat kekuatan militer di zaman sekarang, begitulah kiranya Sultan Aceh membagi tugas bagi rakyatnya. Apabila rakyat di lokasi yang jauh bertugas menjadi petani yang menyediakan suplai beras secara konsisten bagi Kuta Raja, maka pemuda ibukota berkewajiban menjadi prajurit yang akan mempertahankan negara dari serangan musuh.

Jadi ketika Portugis "dibiarkan" sedikit demi sedikit bergerak memasuki Kuta Raja, pasukan Sultan Ali Munghayatsyah ternyata secara terus menerus berhasil merusak bahan makanan yang menjadi logistik pasukan Portugis tersebut. Prajurit Aceh ketika itu dengan cekatan melakukan penyelinapan di malam hari untuk membakar atau membubuhi racun dalam gentong-gentong minuman tuak yang dibawa oleh pasukan musuhnya. 

Portugis yang berharap pertempuran di lapangan terbuka malah mendapati serangan berkala yang terstruktur ala ninja. Berharap pada hasil rampasan ketika memasuki Kuta Raja, kenyataannya malah gudang-gudang makanan didalamnya kosong atau sudah dirusak sebelum ditinggalkan.

Konon keterlatihan penduduk Kuta Raja itu dipersiapkan memang untuk momen genting seperti ini, yaitu ketika harus bergerak cepat mengungsi ke daerah perbukitan dan hutan-hutan dan membiarkan musuh putus asa dalam kelaparan ketika berhasil "menguasai" Kuta Raja.

Sedangkan prajurit Sultan beserta keluarganya dapat bertahan hidup dalam waktu berbulan-bulan dengan hanya mengandalkan panen buah-buahan dari kebun-kebun yang telah ditanami bertahun-tahun yang lalu. Ternyata buah-buahanlah yang menjadi penentu kemenangan Sultan Aceh atas Portugis ketika itu yang sekaligus menjadi senjata pamungkasnya.