Fadhilsyah
Fadhilsyah

Mahasiswa Public Relations Universitas Al-Azhar Indonesia | Aktivist Mahasiswa | Analys Politic

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Penyampaian Ekspresif Lebih Penting dari Sekadar Gimik Politik

19 Maret 2019   18:48 Diperbarui: 20 Maret 2019   10:16 345 6 1
Penyampaian Ekspresif Lebih Penting dari Sekadar Gimik Politik
Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin berjabat tangan dengan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dalam debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Debat Cawapres telah kita saksikan bersama-sama. Setiap orang bisa melihat bagaimana para kandidat menunjukkan kebolehannya memaparkan program kampanyenya dalam ajang Debat Cawapres kemarin. Bahkan sepertinya Debat Cawapres dirasa lebih menarik untuk dilihat ketimbang Debat Capres, mengapa? 

Dalam Pilpres 2019 ini kandidat Capres yang ikut serta sama persis dengan Pilpres 2014, maka bisa dikatakan itu hanyalah re-match belaka. Maka yang dinantikan adalah kandidat Cawapres itu sendiri. Bahkan ajang Pilpres kali ini kandidat Cawapres yang dinilai akan menaikkan elektabilitas kandidat.

Dalam tulisan saya sebelumnya saya pernah menulis bahwa saat debat ada yang lebih penting ketimbang adu data, yaitu tentang permainan gimik kata yang akan di sampaikan. 

Melihat Debat Cawapres kemarin memang kedua kandidat lebih bermain olah kata dari pendekatan agama, pendekatan data-data, pendekatan tentang simpatik terhadap kejadian, hingga yang diandalkannya gimik dari pesan program kampanye yang disampaikan oleh masing-masing kandidat.

Melihat dari sisi teori manajemen koordinasi makna berkaitan dengan cara orang mengendalikan percakapan melalui makna pribadi dan makna interpersonal. Arti makna pribadi mengacu pada makna yang dicapai ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain dan membawanya ke dalam interaksi pengalaman uniknya. 

Setelah membuat strategi program-program gimik, ada yang jauh lebih penting yaitu bagaimana cara mengomunikasikan sebuah gagasan gimik itu tersampaikan dengan baik yaitu dengan membuat momentum yang tepat dan merasa penyampaian itu memang menjadi hal yang tepat dan momen yang tepat.  

Dalam sisi ini yang menjadi penting adalah permainan intonasi suara, postur badan (gerak tubuh) dan alat peraga yang baik dan tepat dalam menyampaikan gagasan itu. Karena akan memengaruhi kepada fokus si penerima pesan itu (audiens). Audiens menjadi lebih tertarik untuk menyaksikannya. Penyampaian yang penuh ekspresif juga dapat membuat momentum akan terbangun.

Dalam sisi ini tim kandidat 02 terlihat lebih rapi di mana ketika Sandiaga memamerkan KTP-nya, para pendukungnya memperlihatkan ramai-ramai KTP-nya di mana terciptalah momentum itu. 

Dari sisi kandidat Cawapres 01, memang dinilai melebihi ekspektasi karena ketika debat pertama Ma'ruf dinilai tidak banyak berperan dan membantu Jokowi. Tetapi kali ini Ma'ruf begitu santai menyampaikan gagasannya hingga finalnya ia menyampaikan program 3 kartu yang akan diterbitkan jika pasangan 01 terpilih.

Meski cara penyampaian Ma'ruf kurang ekspresif, tapi dari sisi pendekatan gimik agama Ma'ruf dinilai lebih kredibel dan lebih lihai mempermainkan istilah-istilah agama.

Kedua kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tetapi dalam tulisan ini ingin menekankan bahwa pembawaan cara bicara itu sangat penting untuk menarik audiens agar makna tersampaikan dengan baik. Bahkan pengondisian suasana ini juga menjadi hal yang disoroti karena akan menciptakan reaksi yang lain. 

Gimik politik itu hanyalah bahan bakar dari sebuah kendaraan, dan cara menyampaikannya itu adalah kendaraannya. Jika cara penyampaiannya itu tidak tepat, maka gimik istilah politik itu akan terasa hampa tanpa makna.

Belajar dari Debat DKI yang saat ini dimenangkan oleh Anies Baswedan, di mana saat berdebat Anies begitu lihai mempermainkan kata serta intonasi, sehingga mendapatkan hati masyarakat Jakarta. Padahal dalam penyampaian gagasan dan data bisa dikatakan kalah dengan rivalnya yaitu Ahok. Tetapi Anies mencuri hati audiens dengan penyampaian yang lembut dan bisa membuat momentum terasa pas. 

Berbeda dengan Ahok yang mungkin unggul dengan pencapaiannya selama menjadi gubernur tetapi dalam cara penyampaian terasa begitu angkuh. Dan peran penyampaian ini membuktikan bahwa sangat penting penyampaian yang baik penuh ekspresif hingga terjadilah momentum yang tepat.

Oleh : Muhammad Farras Fadhilsyah
Pengamat Politik Milenial
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia