Mohon tunggu...
Evi Ghozaly
Evi Ghozaly Mohon Tunggu... | Penulis | Praktisi pendidikan | Konsultan pendidikan |

Tebarkan cinta pada sesama, melalui pendidikan atau dengan jalan apapun yang kita bisa.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengaji Ihya Ulumuddin pada Gus Ulil Itu Seperti Candu

7 Juni 2020   20:53 Diperbarui: 7 Juni 2020   20:47 37 3 0 Mohon Tunggu...


Jujur, orang tua saya sangat ketat dalam memilihkan bacaan buku atau kitab untuk mengaji. Mungkin karena saya pernah diam-diam belajar tentang Syiah Imamiyah dan fengsui tanpa guru, Abah jadi takut saya akan belajar apa lagi dan lagi. 

Meski ketika kelas 6 SD sudah mengikuti bai'ah Thariqah Qodiriyah wan Naqsabandiyah, tapi Abah tegas mewanti-wanti, "Jangan sampai ambil kuliah jurusan ilmu tasawuf". Lagi-lagi saya menduga karena Abah khawatir dengan pemikiran saya yang kadang liar dan ngawur.

Sebelum saya mengaji kitab Ihya Ulumiddin untuk pertama kalinya sekian tahun silam, Abah meminta saya puasa dan shalat hajat. Itupun setelah selesai ngaji Ayyuhal Walad dan Bidayah. Sebegitu tingginya Abah menempatkan kitab ini, sedemikian mulianya Abah meletakkan ilmu tasawuf. 

Hingga yang terpatri dalam ingatan saya: kitab Ihya itu "serem" dan "rumit". Dua kali mengaji Ihya, dan saya tak pernah khatam, meski sungguh sejak saat itu saya sangat mengidolakan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali.

::

Hingga sekitar 3 tahun lalu, Gus Ulil mengadakan pengajian Ihya lewat fesbuk. Sekali saja mengintip, saya kaget luar biasa. Gus Ulil mempertahankan gaya mengaji ala pesantren, mbalah kata demi kata, kalimat perkalimat,  kemudian menjlentrehkan dengan detail. 

Yang membuat saya takjub, Gus Ulil mampu mengajak terbang kesana kemari. Membandingkan dengan pemikiran tokoh lain, menganalogkan poin asing dengan hal kekinian, bahkan mempertegas keterangan dengan fenomena media sosial. Sangat asyik, menarik.

Bismillah. Saya memutuskan nderek ngaos. Kebiasaan lama masih saya lakukan, meski mengaji online, saya tetap wudlu sebelum mulai ikut mengaji. Duduk di depan dampar, menghadap kiblat, baca fatihah dan shalawat. 

Pokok tadzim lah, takut Abah haha. Saat itu, satu-satunya tindakan nglunjak saya adalah, saya sesekali mencoret Ihya yang berupa donlotan. Bukan kitab sebenarnya. Ah, semoga Imam Al Ghozaly ridlo.

Beberapa kali absen, tapi karena bisa diqodlo dengan melihat rekamannya, saya merasa tetap pede nambal yang bolong. Dan saya menjadi geer, sepertinya saya akan bisa khatam ngaji Ihya ini

::

Kesan lain? Awalnya saya agak terganggu dengan komen-komen yang muncul. Pating cruit dan bersahutan. Tapi lama-lama saya menikmatinya. Membayangkan pengajian sebenarnya, lesehan di pondok dengan ratusan jamaah. Berebut tempat duduk ternyaman dengan sesama santri, mencari posisi sahabat dekat, sambil sangu camilan haha. Jadi santuy banget.

Saya bahkan mulai berani duduk di belakang Pakdhe Mung Paryono yang selalu ndlosor, memanggil Uda Alfi Limbak Malintang Sati yang lebih suka di luar sambil ngudud, dan membawakan kopi gorengan untuk Mbah Nyut Triwibowo Budi Santoso.

Saya juga mulai berani ikut komen ngasal dan kalau mulai mengantuk, saya tekan tombol jempol atau waru di pojok kanan bawah itu berkali-kali, sampai melek lebar lagi. 

Saya jadi tahu dari mana saja asal peserta mengaji ini saat absen kehadiran. Mulai dari Papua, Batam hingga Malaysia dan Abu Dhabi. Bahkan saya baru tahu ada daerah bernama Ciketing dan Parungserab. Jadi membayangkan, betapa seru kalau bisa kopdar  semua ya

::

Makin hari, saya merasa kitab Ihya semakin ringan. Bukan, bukan karena saya mulai cepat berpikir dengan benar ya. Tapi asli, Gus Ulil berhasil menarik saya dalam perjalanan thalabul ilmi yang menyenangkan ini. 

Gus Ulil memandu perjalanan dengan gembira,  untuk menemukan hal baru yang selalu kereeen. Kadang diajak meliuk, ngepot, sedikit ngebut, lalu ngerem alus untuk melihat keindahan di sekitar pemandangan luas tasawuf.

Ahya, setidaknya ada tiga hal yang konsisten terlihat dan terasa selama mengaji Ihya ini. Tentang ilmu yang ilmiah, tentang keikhlasan dan tentang inspirasi tak putus. Kata suami saya, Gus Ulil ini tiga I. Ilmiah, ikhlas dan inspiratif.

Ya, setiap penjelasan beliau selalu ilmiah. Pemikiran Al Ghozali yang dulu diharamkan Abah saya untuk saya terjemahkan dalam konteks kekinian, justru diulas Gus Ulil dengan rinci, hingga saya yang hanya remahan rengginang ini bisa memahaminya. 

Referensi Gus Ulil sangat banyak dan beragam. Nama-nama berat berikut pemikirannya sering disinggung. Mulai Plato, Santo Agustinus, Immanuel Kant hingga Rene Descartes. Semua disampaikan dengan logis, sistematis dan ajeg. Prasyarat ilmiah dipenuhi Gus Ulil dalam tiap bahasan. 

Bahkan sesekali Gus Ulil mengritik Al Ghozali dengan sangat santun. Buat saya sekarang, Ihya bukan lagi ada di awang-awang. Betapa saya sekarang bisa menyentuh Ihya, dan bisa saya cium harum sedapnya. Alhamdulillah, maturnuwun Gusti Allah.

Inspiratif, terlebih karena saat Ramadhan ini ngaji Ihya didahului dengan ngaji Al Munqidz. Hati kotor saya sering merasa diaduk-aduk. Saat membahas Fadhlul Kalam misalnya, beliau menyampaikan pentingnya menahan diri dalam berbicara dan menulis. 

Sakmadya saja, sebab jalan spiritual adalah ketika seseorang mampu hidup secukupnya, berbicara seperlunya. Dalam skala luas, Gus Ulil menyampaikan sikap berlebihan negara yang mengeksploitasi alam dan energi fosil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN