Mohon tunggu...
Eva Rasyad
Eva Rasyad Mohon Tunggu... -

saya bahagia hidup bersama orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tragedi Cecil, Misteri Kelahiran Tasya

8 Oktober 2010   17:25 Diperbarui: 26 Juni 2015   12:36 314
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tasya, gadis kecil umur empat tahun yang lucu dan menggemaskan. Kulitnya putih bersih, rambutnya halus, matanya besar, bibirnya tipis merah, senyumnya manis sekali. Tasya yang pemalu sudah mulai pintar main komputer. Kalau diberi uang jajan Tasya lebih memilih main komputer di warnet lantai dasar Rusun dari pada jajan makanan kecil. Tasya kelahirannya empat tahun yang lalu menorehkan cerita pedih bagi seorang gadis berumur tiga belas tahun bernama Cecil, pelajar SMP kelas 1.

Masih segar dalam ingatanku pertama mengenal Cecil saat ia baru kelas 2 SD, Cecil kecil tumbuh menjadi remaja yang bongsor dan pintar. Cecil pintar menyanyi, rambutnya yang panjang dan hitam kontras dengan wajahnya yang indo. Prestasi Cecil disekolahnya yang lumayan bagus ditambah dengan kemampuannya menyanyi, membuat Cecil menjadi sosok yang populer di Rusun. Jika ada acara 17 Agustusan Cecil selalu tampil di panggung menghibur warga Rusun dengan suara merdunya.

—–

Tidak ada yang tahu persis kapan tragedi pemerkosaan itu terjadi, ada yang mengatakan pada pesta malam tahun baru, ada juga yang mengatakan lain. Aku sendiri terlambat mendengar kabar kehamilan Cecil, aku baru mengetahui Cecil hamil saat kandungannya sudah berusia 7 bulan. Siapapun tidak akan menyangka kalau Cecil hamil, karena aku masih melihatnya bermain lompat tali dengan teman-teman sebayanya di lobby Rusun. Keceriaannya anak-anaknya tidak hilang, tidak ada yang berubah dari perilaku Cecil.

Siapapun tentu akan terkejut mendengar kabar itu, awalnya aku mengira itu kabar angin. Namun setelah melihat sendiri perut Cecil yang membuncit barulah aku percaya. Aku benar-benar sedih dengan kenyataan ini, pertanyaanpun muncul apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Tante Lenny -begitu aku biasa menyebut mamanya Cecil - begitu teledor dalam menjaga putri bungsunya.

Bahkan setelah Cecil melahirkan Tasya diusianya yang belum genap 13 tahun, tetap tidak ada penjelasan tentang kejadian yang menimpa Cecil. Pada saat aku menengok bayi mungil - dengan berat hanya 2 kilogram- yang berkulit putih dan cantik ada perasaan nelangsa, Cecil memang masih anak-anak walaupun dia sudah melahirkan tetap saja dia anak-anak. Sikap Cecil kepada Tasya tidak nampak seperti ibu-ibu pada umumnya, Cecil lebih banyak menyerahkan pengurusan Tasya kepada ibunya.

Kejadian yang menimpa Cecil memang mengenaskan, karena sampai dengan Cecil melahirkan tidak pernah diketahui siapa yang harus dimintakan pertanggungjawaban. Jika Cecil ditanya oleh Ibunya jawabannya selalu sama  ”Tuh Mamah, sudahlah ga usah tanya-tanya, dulu waktu Cecil mau buang oleh Mamah di larang, sekarang Mamah tanya-tanya terus” cerita Tante Lenny. Kalau sudah begitu Cecil akan murung dan marah-marah.

—–

Setelah didesak dengan segala bujuk rayu, akhirnya memang ada pengakuan dari Cecil walaupun itu masih diragukan. “Bunda, Cecil sudah ngomong siapa bapaknya Tasya” kata Tante Lenny padaku pada saat aku bertandang ke rumahnya. Tante Lenny meminta pertimbanganku untuk menyetujui Test DNA, karena pihak yang dituding bertanggung jawab atas kehamilan Cecil tidak mau mengakui perbuatannya. “Bunda, orang tua dari laki-laki itu minta supaya dilakukan test DNA, dan mereka mau membiayai test itu” ujar Tante Lenny. “Mungkin itu yang terbaik, biar kita juga tenang dan ada kepastian” kataku “Tapi Tante Lenny dan Cecil harus siap menerima kenyataan kalau ternyata hasil test DNA tidak seperti yang kita harapkan” tambahku.

Hampir setiap hari selama dua minggu sebelum keluar hasil Test DNA itu, Tante Lenny dan aku harap-harap cemas. Aku mencoba membesarkan hati Tante Lenny untuk bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Kepada Cecil aku juga menyemangatinya untuk kembali ke bangku sekolah. “Bunda, Cecil mau sekolah lagi, tapi mau pindah tidak mau di sekolah yang lama” kata Cecil. “Ya Cecil, mau dimanapun yang penting Cecil sekolah, sekarang sebelum mulai tahun ajaran baru lebih baik Cecil ambil kursus matematika atau bahasa inggris dulu saja” jawabku. “Kalau Cecil sekolah tinggi dan bisa mencapai cita-cita Cecil, maka Cecil bisa punya biaya untuk mengurus dan menyekolahkan Tasya” aku menambahkan.

Hari yang ditunggu-tunggupun tiba, saat hasil test DNA keluar aku dan Tante Lenny hanya bisa tertunduk lesu. Hasilnya negatif, Tasya bukan anak laki-laki itu -anak laki-laki itu pelajar SMA kelas 1 dan merupakan tetangga kami juga -. Aku melihat genangan air mata di mata Tante Lenny, pupus sudah harapannya, tapi aku buru-buru memeluknya dan memintanya untuk ikhlas. “Tante Lenny, bagaimanapun kehadiran Tasya ditengah-tengah kita harus kita syukuri…sekarang mari kita didik Tasya agar menjadi anak yang sholehah…” kataku. Aku juga mengatakan padanya bahwa terjadinya musibah ini sepenuhnya kesalahan Tante Lenny sebagai orang tua yang teledor mendidik dan menjaga putrinya. Tante Lenny terlalu asyik dengan dirinya, hobby berjudi membuatnya lupa waktu. Saat kejadian Cecil masih sangat muda, bahkan Cecil baru memperoleh haid pertamanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun