Mohon tunggu...
Eva Nurmala
Eva Nurmala Mohon Tunggu... karyawan swasta

Saya karyawan swasta yang gemar menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menyaring Kata, Meminimalisir Keburukan

3 Mei 2019   11:46 Diperbarui: 3 Mei 2019   12:12 0 2 2 Mohon Tunggu...
Menyaring Kata, Meminimalisir Keburukan
tribunews.com

Kampret, kecebong, kodok, cicak, buaya dan kata-kata lain sering sekali dipakai akhir-akhir ini sebagai saling serang antarkelompok. Sejumlah kata yang sebenarnya menunjuk pada nama binatang itu seolah ampuh untuk menunjukkan perbedaan pilihan, keberpihakan, dukungan dan lainnya. Pokoknya asal dibunyikan agar jelas di barisan mana mereka berdiri.

Artinya? Belum tentu mereka yang menggunakan kata-kata ini tahu maksudnya. Yang penting pengidentifikasian antarkelompok cukup jelas. Khusus untuk kampret dan kecebong, dua kata ini lebih sering dipakai ketika Pilpres berlangsung. Mereka yang menggunakan kata ini adalah dua kelompok capres. Satu kata menunjuk pendukung Prabowo dan satu kata lain adalah pendukung Jokowi.

Labeling yang dilakukan para pengguna kata-kata ini menyebabkan perbendaharaan kata yang lain tumbuh mengikuti arah yang tidak positif. Sebut saja ada kata lain yang dipakai setelah itu seperti "kaum bumi datar", "bani taplak", atau "cebonger", semuanya terdengar tidak nyaman untuk masing-masing kelompok lawan. Kesimpulannya, kata-kata itu berstigma buruk, bukan lagi sekadar penamaan kelompok. Namun sudah menjadi olok-olok dalam politik.

Sebenarnya pelabelan politik yang negatif seperti ini tidak hanya di Indonesia. Menariknya, olok-olok politik itu selalu diambil dari kosa kata binatang yang coba diidentikkan dengan perilaku musuh politiknya. Misalnya mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron disebut babi. 

Julia Gillard, Perdana Menteri Australia perempuan pertama di negeri itu diolok olok seperti ayam goreng. Sementara di Zimbabwe, Presiden Emmerson Mnangagwa dijuluki kadal.

Melihat tradisi politik yang tidak elok ini, ada baiknya jika para pendukung tokoh politik di Indonesia menyadari bahwa olok-olok dalam politik selalu tidak membuat nyaman siapa pun. 

Pemakaian kata-kata negatif itu biasanya muncul tidak tahu siapa yang memulainya menggunakannya pertama kali. Karena itu bila dirasakan ada kata yang tidak elok digunakan dalam bahasan politik, maka seyogianya kita tidak meneruskan kata-kata itu dalam teks-teks yang kita buat di media sosial, terutama.

Penggunaan kata-kata buruk itu bukan saja karena tidak nyaman didengar namun membuat wacana politik menjadi tidak sehat. Ada unsur membuat yang lain menjadi inferior, menuding yang lain lebih rendah, menganggap yang lain dungu dan tidak pintar, dan lain sebagainya. Bahkan penggunaan kata-kata yang mengandung olok-olok politik itu menciptakan diskusi yang tidak rasional lagi. Semua konteks politik menjadi tidak tepat jika dua kata itu dipakai.

Karena itu, menyaring dua kata tersebut dan tentu saja kata-kata lain yang mengandung olok-olok atau terjesan tidak baik adalah cara jitu untuk membuat wacana politik bisa dijaga oleh pihak mana pun. 

Caranya sederhana, tak memakai kata-kata itu dalam konteks apa pun, baik di jagat maya atau di jagat nyata. Kembalilah pada penyebutan, penamaan, pemanggilan yang dasar dari sebuah kelompok atau seseorang. Sebab begitu kita menggunakan kata-kata itu maka akan terbaca dan kemungkinan besar akan dipakai kembali oleh yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2