Mohon tunggu...
Erma Mardiyyah
Erma Mardiyyah Mohon Tunggu... Guru - Guru dan Pecinta Baca

Seorang Guru di rumah dan di sekolah. Berharap untuk bisa menjadi bagian dari umat terbaik dengan terus belajar dan berdakwah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kepala Sekolah Baruku

26 September 2022   03:21 Diperbarui: 26 September 2022   06:41 113 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"oh Tuhan..." desisku panik ketika melihat jam dinding di kamarku menunjuk angka 5 tepat. Dengan sigap  aku segera menuju kamar mandi dan bergegas merapikan diri. Tentu saja tanpa lupa menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah, shalat shubuh.

            Terus terang aku paling tak suka mengawali hari dengan cara seperti ini, tergesa-gesa. Ini membuatku tidak yakin apakah segala sesuatu akan berjalan dengan baik seharian. Berdasarkan pengalamanku di hari-hari sebelumnya, suasana pagi sangat menentukan moodku sepanjang hari. Kuharap itu tidak berlaku sekarang. Mencoba memantapkan hati, aku menatap pantulan diri di cermin, memaksakan diri tersenyum lalu menghirup nafas dalam, berdo'a memohon agar hari ini berjalan baik. Semoga.

---

            Jam 07.10. terlambat sepuluh menit. Mudah-mudahan tadi guru piket telat pijit bel, harapku. Tapi tentu saja, halaman sekolah sudah sepi. Tak ada suara berisik. Artinya, anak-anak sudah siap belajar. Tak berniat mengecek jadwal di ruang guru, aku merasa yakin kalau jam pertama di kelas 8 E. karena itu setelah memarkirkan motor, dengan buru-buru aku melesat menaiki tangga sebelah selatan menuju ruang kelas.

            Namun, ketika dengan yakin membuka pintu kelas aku terkejut. Di kelas sudah ada guru lain. Entahlah, setidaknya seseorang yang tidak kukenal sedang terlihat begitu asyik melakukan tanya jawab dengan siswa. Begitu aku mengucap salam, laki-laki berpostur tinggi tegap itu tersenyum menghampiri "bu Elena ya?..maaf saya lupa bilang, hari ini saya masuk di kelas ini" keningku mengernyit, bingung. Kenapa? Siapa? Batinku. Sampai dia membimbingku keluar dan berkata pelan, hampir tak terdengar agar aku menunggu di ruang kepala sekolah. Deg. Jantungku mencelos, tiba-tiba kakiku merasa tak berpijak. Kenapa sampai begitu lupa bahwa hari ini adalah hari pertama kepala sekolah baru -setelah prosesi serah terima yang tak sempat kuhadiri kemarin-. Dalam hati aku merutuki diri, tak siap dengan kejutan ini.

 

---

            Ini bukan pertama kalinya aku berada di ruang kepala sekolah. Namun tentu saja ini pertama kalinya aku dipanggil ke ruangan ini karena sebuah kesalahan. Menunggu di sini bukanlah kehormatan. Detik-detik yang berlalu seperti hukuman tersendiri. Demi mencoba menenangkan diri, aku membaca  al-Qur'an. Hingga, terdengar suara langkah kaki berat dan cepat menuju ruang tempatku duduk. Mushaf kulipat dan kusimpan di dalam tas.

"Bu Elena, maaf anda menunggu lama" Nada bicaranya yang cepat, lugas dan bersahabat itu membuyarkan lamunanku. Lelaki perlente dengan janggut tipis dan baju pemda tanpa jas yang tadi kulihat di kelasku akhirnya muncul di hadapanku. Kulihat dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Mungkin maksudnya bersalaman, aku membalasnya.

Lantas dia duduk di sofa yang bersebrangan. Jujur, aku merasa sedikit lebih rileks tidak disuruh duduk di depan mejanya seperti kebiasaan kepala sekolah sebelumnya. Dengan duduk di sofa seperti ini, aku merasa diperlakukan sebagai partner kerja.

Tak ingin dibombardir dengan pertanyaan -Aku tidak tahu bagaimana biasanya kepala sekolah menegur guru yang terlambat datang, karena ini pertama kalinya bagiku- kupikir lebih baik segera minta maaf dan menjelaskan duduk persoalannya. "saya minta maaf pak, terus terang ini yang pertama kalinya. Sebelumnya saya tidak pernah terlambat". Akhirnya kata-kata itu meluncur, meskipun aku masih tak berani melihat reaksinya. Hening sejenak sampai akhirnya kudengar kekehan ringan. "jangan khawatir bu. Kalaupun saya mau menegur anda, tentunya bukan pada kesempatan pertama. Tentu saja saya tidak bisa menilai anda hanya dengan sekali bertemu. Sungguh tidak bijak".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan