Mohon tunggu...
Erikatri Septia Utami
Erikatri Septia Utami Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Healthy

SKM Penggerak Lawan Stunting, Edukasi Cegah Stunting Sejak Remaja

18 November 2022   02:20 Diperbarui: 19 November 2022   20:30 295
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Brebes (18/11/2022)- Prevalensi stunting di Indonesia tahun 2019 telah berhasil diturunkan menjadi 27,67% dari 37,8% pada tahun 2013. Namun, angka ini masih di atas dari angka toleransi maksimal stunting yang ditetapkan oleh WHO. Prevalensi balita stunting di Kabupaten Brebes meningkat dari 8,8% (2019) menjadi 11,4% (2021). 

Menurut hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Bulan Agustus Tahun 2022, terdeteksi jumlah stunting di Kabupaten Brebes sebanyak 10,78%. Wilayah kerja Puskesmas Brebes masih terdapat balita yang mengalami stunting. 

Salah satu wilayah kerja Puskesmas Brebes adalah Kelurahan Pasarbatang. Wilayah ini termasuk yang mendapat perhatian penanganan stunting khususnya terkait upaya peningkatan pengetahuan dan perilaku untuk percepatan penurunan angka stunting.

Kondisi ini mendorong tim PKL SKM Penggerak Lawan Stunting, Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang beranggotakan Silvi, Erika dan Diah melaksanakanan kegiatan penguatan literasi stunting dan sosialisasi upaya pembentukan Posyandu Remaja pada kelompok remaja di Kelurahan Pasarbatang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Rabu 16 November 2022.

Sasaran kegiatan ini adalah remaja sebagai calon pasangan di masa yang akan datang. Remaja adalah kelompok usia potensial yang bisa dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting sejak dini. 

Remaja harus melek dengan isu stunting, rajin mencari tahu dan terlibat aktif dalam diskusi atau program mengenai stunting. Upaya percepatan penurunan stunting dengan melibatkan remaja sebaiknya difokuskan pada pengetahuan gizi seimbang, penerapan PHBS dan kesehatan reproduksi serta seksualitas.

Saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan di usia anak. Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal. Oleh karena itu, upaya mengingatkan pentingnya edukasi tentang PHBS, Gizi dan kesehatan reproduksi perlu disampaikan secara gamblang.

Remaja membantu dalam pemasangan poster sebagai upaya penyediaan literasi  stunting di lingkungan RW 08, Kelurahan Pasarbatang/dokpri
Remaja membantu dalam pemasangan poster sebagai upaya penyediaan literasi  stunting di lingkungan RW 08, Kelurahan Pasarbatang/dokpri

Selain itu kegiatan in juga mensosialisasikan Posyandu Remaja yang dapat menjadi wadah bagi remaja untuk mengeksplorasi, mencari tahu informasi tentang stunting dan berperan sebagai peer educator bagi teman sebaya. Remaja diharapkan mampu mengajak dan memberikan ruang kepada masyarakat terutama remaja untuk secara mandiri mengelola kesehatannya sehingga dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap pentingnya kesehatan.

Kegiatan sosialisasi ini disambut baik oleh warga dan perangkat di lingkungan RW 08. "Kami menyambut dengan senang kegiatan mahasiswa PKL UNNES  dimana melalui kegiatan ini remaja disini dapat memperoleh pengatahuan baru terutama pengetahuan kesehatan yang mana hal itu sangat penting", ungkap Fauzan selaku Ketua RW08 dalam sambutannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun