Mohon tunggu...
eno damayanti
eno damayanti Mohon Tunggu... Mahasiswa Magister Ilmu Linguistik Universitas Jember

Mungkin perihal disini belum terlihat ringan dan sederhana, tapi saya selalu ingin mencoba. ketika sebuah perjalanan adalah yang paling menyenangkan, semoga suatu saat kita bisa bercerita tentang linimasa pada putra-putri masa depan. Instagram : eno.damayanti

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Mendekati Perayaan Emansipasi, Bagaimana Perasaanmu Menjadi Perempuan Masa Kini?

14 April 2021   12:31 Diperbarui: 14 April 2021   14:01 100 3 0 Mohon Tunggu...

Mengenang pelopor bangkitnya efektivitas perempuan, dengan jargon yang ia miliki "Habis Gelap Terbitlah Terang". Sudah bukan asing lagi bagi kita mengenang tokoh nasional Ibu Kartini. Yang mana setiap tahunnya kita merayakan hari kelahiran beliau, pada tanggal 21 April. 

Bahkan mungkin kita belum tahu, hari kelahiran Ir. Soekarno saja tak sespesial ini ? yang akan selalu dirayakan setiap tahunnya, sampai diciptakan pula lagu kebangsaannya "Ibu Kita Kartini". 

Namun, dalam lingkup lain kita juga tidak tahu-menahu seberapa besar dan banyak pengaruh RA. Kartini dalam pemikiran dan gagasannya pada masyarakat masa kini, khususnya para perempuan.

Kemungkinan besar memang setiap tahun kita rayakan, bahkan kita menyanyikan lagu kebangsaan "Ibu Kita Kartini", tapi apakah mayoritas juga mengetahui bagaimana ia bergerak memperjuangkan emansipasi, bagaimana ia mendobrak mempraktekkan nilai-nilai kesetaraan dalam persaudaraan? Semua ini bermula saat ia mulai menduduki usia 12 tahun, bisa dikatakan usia remaja, yang mana saat itu masa remaja adalah masa dalam sebuah pingitan. 

Masa dimana Ibu Kartini melewati sebuah beberapa tradisi upacara seperti : cukur rambut, turun bumi dan lain-lain. Karena bagi sebagian besar orang Jawa, tradisi seperti itu adalah suatu rentetan yang penting dalam memasuki kehidupan selanjutnya, baik kedewasaan, mendekati perkawinan, bahkan kematian.

Hari-hari yang begitu membosankan bagi Ibu Kartini saat dipingit, namun kehidupan begitu beruntung baginya memiliki kakak yang sedang sekolah di HBS dan Universitas Leiden Belanda. 

Kakaknya sangat begitu perhatian sehingga ia dikirimi beberapa buku bacaan yang berkualitas. Kemudian seseorang yang begitu dekat dengannya yaitu Nyonya Ovink-Soer, beliau adalah seorang istri dari seorang pegawai administrasi Kolonial Hindia Belanda-Jawa Tengah. 

Karena hadirnya beliau yang memberi asupan tentang menjunjung tinggi sebuah kesetaraan, kebebasan dalam mengusulkan berbagai pendapat, bahkan diantara laki-laki dan perempuan keduanya sama-sama memiliki hak dan saling menghargai, dimana jauh sebelumnya belum pernah Ibu Kartini temui model kehidupan dalam adat Jawa saat itu.

Karena kondisinya sedang dipingit, proses belajar Ibu Kartini hanya melalui buku-buku bacaan yang dikirimi oleh kakaknya dari Belanda. Namun, berkat buku bacaan yang ia baca, semangat belajar dan menjadi pelopor semakin membuat hatinya berkibar, ingin memperjuangkan nasib perempuan agar mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki, baik dalam aspek pendidikan, bekerja, bahkan mengutarakan sebuah pendapat. 

Hingga pada akhirnya ayah beliau melepas dari pingitan dikarenakan bujukan dari Nyonya Ovienk-Soer. Bahagianya tiada tara, sampai beliau menulis sebuah surat atas pembebasan dari pingitan sebuah tradisi yang masih menggeluti.

Alur kiprahnya mungkn tak begitu terlihat, dan memang begitu sederhana. Namun, aksi beliau merupakan salah satu tombak pendobrak utama yang berani menguraikan ketidakadilan perempuan di Nusantara, dengan tegas ia mengkritik sebuah adat dan tradisi yang sama sekali merendahkan nilai kesetaraan, bahkan menjadi pelopor beberapa gagasan yang kolot dan masih radikal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x