Mohon tunggu...
Endro S Efendi
Endro S Efendi Mohon Tunggu... Penulis, Trainer Teknologi Pikiran

Intens mendalami hipnoterapi berbasis teknologi pikiran untuk membantu kualitas hidup manusia pada aspek mental, emosi, dan spiritual. Sehari-hari, aktif sebagai penulis dan hipnoterapis klinis, juga sebagai pembicara publik. Aktif menulis artikel di blog pribadi www.endrosefendi.com Juga aktif membuat konten video di https://www.youtube.com/user/endroeffendi

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Paruan dan Obor, Tradisi Ramadan di Banua

9 Mei 2019   14:19 Diperbarui: 9 Mei 2019   14:30 53 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Paruan dan Obor, Tradisi Ramadan di Banua
prokal.co

Setiap Ramadan, masing-masing daerah memiliki tradisi sendiri-sendiri. Tak terkecuali di Berau. Berau adalah kabupaten paling utara di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Utara.

Bagi yang pernah mendengar tempat wisata bahari seperti Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, atau Pulau Kakaban, semua pulau itu adanya di kabupaten Berau. Bagi yang belum pernah, nah, buruan ke tempat ini. Dijamin tidak akan menyesal, bahkan dijamin ketagihan.

Lalu apa tradisi Ramadan yang ada di Berau? Di salah satu kota kecamatan yakni Teluk Bayur, setiap kali Ramadan ada tradisi yakni pawai obor. Ini adalah tradisi yang terus diwariskan turun-temurun. Di daerah lain, mungkin boleh jadi mulai punah. Namun, warga Teluk Bayur berusaha melestarikan tradisi ini.

Tak hanya pawai obor, di setiap rumah warga, di depannya juga terpasang lentera dari bambu, sehingga jika malam hari tercipta suasana yang berbeda dibanding bulan-bulan biasanya di luar Ramadan.

Ahmad Dhani, ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Teluk Bayur yang menjadi panitia penyelenggara pawai obor menyampaikan, sengaja menggelar kegiatan tersebut untuk menyemarakkan datangnya Ramadan.

Momen tersebut juga menjadi ajang silaturahmi dan menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan antarwarga. Tak hanya mereka yang muslim, pawai ini juga banyak diikuti mereka yang nonmuslim. Mereka sengaja memberikan dukungan demi kemeriahan sekaligus sebagai bentuk toleransi yang sudah tertanam sejak lama.

Sementara itu, di Tanjung Redeb sebagai ibukota Kabupaten Berau, juga selalu ada tradisi pasar Ramadan. Tentu ini bukan hal yang asing. Sebab hampir di semua tempat juga ada. Namun, pasar Ramadan paling utama di tempat ini dipusatkan di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, Tanjung Redeb.

Pasar Ramadan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi, karena tak jarang terlihat beberapa pengunjung saling bercengkerama satu sama lain. Selama ini jarang berjumpa karena kesibukan masing-masing.

Beberapa makanan khas Berau seperti Ancur Paddas yakni makanan berupa bubur pedas dengan citarasa khas, juga dijajakan di areal pasar Ramadan. Makanan tersebut boleh jadi agak sulit didapatkan di luar bulan Ramadan.

Tradisi lain saat Ramadan di tepat ini adalah Paruan yang dalam bahasa Berau atau bahasa Banua diartikan sebagai mengingat leluhur. Di daerah lain hampir sama dengan kenduri. Tradisi Paruan itu dibuat dalam bentuk makanan yang kemudian dibacakan doa arwah. Doa itu juga bermakna agar semua diberikan keselamatan.

Makanan Paruan yang sudah dibacakan doa arwah itu kemudian dibagi-bagikan kepada sanak saudara dan handai taulan. Umumnya tradisi Paruan ini dilaksanakan sebelum Ramadan. Baik tiga hari menjelang atau sehari sebelum Ramadan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN