Mohon tunggu...
SURAT TERBUKA
SURAT TERBUKA Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pingin Masuk Syurga Bi Ghoiri Hisab

Mencari Doa

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Jelang Hari Kartini 2016 ; Siswiku !!! Salahku, Salahmu?

29 Maret 2016   20:22 Diperbarui: 29 Maret 2016   21:32 157
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Jurnalis Pelajar-Juwiter mengucapkan Selamat Hari Kartini"][/caption]Ichsantiarini, Aravinda Pravita (Esai 2011) mengatakan atas nama emansipasi, perempuan membunuh peradaban dengan menghancurkan sosok-sosok kepemimpinan dalam diri generasi yang mereka tinggalkan di tangan baby sitter. Di Lombok belum banyak keluarga yang mampu membayar baby sitter, namun pasti mampu memberikan mereka uang jajan mengiringi langkahnya bersama pakain putih biru/abu-abu, namun tak sedikit yang membiarkan generasi bangsa ini tumbuh dalam kebekuan hati, sehingga “Saya mantan siswa pernah merasakan lebih tersanjung dan termotivasi dengan kenyamanan kasih sayang palsu mantan pacarku dari pada motivasi dari...........”.

Oleh : Emzet Juwiter

Suatu malam, luput dari catatan tanggal berapa?. Saya berjalan di depan Kantor Bazda Kabupaten Lombok Timur. Sepi, sengaja, mencari fakta terkait sebuah cerita dan juga pengalaman bahwa seringkali di lokasi itu remaja cewek-cowok berkumpul mesra, entah karena ada hubungan asmara atau memang karena lokasi itu sepi.

Di seputar jalan itu, mungkin karena mereka mengganggap Saya orang gila yang berjalan sendiri, maka melintasnya raga ini, bukan gangguan bagi mereka. Dalam waktu bertepatan, terdengar teriakan mengundang nafsu dari salah satu teman mereka. Terkesan main-main memang, namun kata itu tak akan keluar jika bukan merupakan sebuah kebiasaan.

“Besar ya, lihat pe besar kan,”penggalan suara itu mengundang tawa temannya dan memancing nafsu ini untuk menoleh, ternyata cewek itu dalam perkiraan masih SMA, tak menutup kemungkinan masih SMP, sedang menyingkap pakaian seksinya dan memamerkan barang berharga miliknya.

Jika Pembaca tak percaya cerita ini, maka tanyakan salah satu saksi yang ternyata, semula hanya ingin menjadi koleksi inspirasi menebar kata yang semoga bisa menjadi sebuah kebijakan. Singkat tema, malam itu, teman itu ada di dalam halaman Kantor. Bersembunyi.

Ketika membahas generasi zaman sekarang, diterangkannya, peristiwa serupa di depan gerbang itu sering terjadi bahkan lebih, maka tanyakanlah kepada penjaga di Kantor itu yang tak tau harus berbuat apa, begitupun Aku.

Pertanyaannya adalah apakah Kita akan menyalahkan Zaman? Tidak adakah upaya preventif untuk itu? Atau membuat mereka lebih tersanjung di Kelompok Remaja yang lebih produktif, karena tak sedikit pula remaja yang menggunakan malamnya untuk belajar kelompok?.

Bergabung di kelompok belajar, kelompok ekstrakurikuler, OSIS dan sebagainya tentu lebih baik. Lalu mereka yang berkumpul mesra disana, layaknya dalam kurung mungkin disebuah wisata halal, mau diapakan?.

Dua Puluh Satu April tinggal menghitung hari. Sebuah tanggal yang ditetapkan  sebagai Hari Kartini. Bagi penulis hari itu adalah Hari aksi, bukan untuk berteriak minta perhatian, bukan pula untuk berjalan memacetkan jalan raya. Bukan pula untuk menghabiskan anggaran pamer citra kaum perempuan.

Hari itu adalah hari untuk membangun kebijakan bagaimana memberdayakan generasi kaum hawa yang seringkali menjadi catatan sejarah, “Annisa Imaadul Bilad”. Hingga dimasa depan nanti sosok Ibu yang hanya ditemui di malam hari menjelang tidur, “Yang mengajari anak-anak arti kejujuran, pentingnya menghargai orang lain, hingga hal yang paling esensi, religiusitas dan sebagainya jangan sampai tergadaikan oleh pembiasaan perempuan mengejar kesamaan,”kata Aravinda Pravita. 

Tulisan diatas menjadi renungan bersama. Adalah sebuah semangat Kartini untuk menempatkan perempuan sesuai dengan harkat dan martabatnya kini dimodifikasi dalam persepsi liar yang salah kaprah. Tanpa disadari, siswi-siswi kita banyak yang terjerumus ke dalam penjajahan modern oleh emansipasi itu sendiri. Ironisnya, kadangkala kita menjauhi mereka dan mencemooh mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun