Mohon tunggu...
muthiah alhasany
muthiah alhasany Mohon Tunggu... Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Merekrut ASN Lulusan Cum Laude, Usulan Menteri Susi yang Patut Dipertimbangkan

9 Juni 2019   14:38 Diperbarui: 10 Juni 2019   03:33 0 19 14 Mohon Tunggu...
Merekrut ASN Lulusan Cum Laude, Usulan Menteri Susi yang Patut Dipertimbangkan
Ilustrasi PNS (Kontan/Fransiskus Simbolon)

Menteri Susi Pudjiastuti melontarkan gagasan yang menarik, bahwa dia akan merekrut ASN yang lulus dengan predikat cumlaude. Ini berarti akan mendongkrak kualitas ASN secara signifikan.

ASN atau bahasa zaman dahulu adalah pegawai negeri, merupakan pekerjaan yang dikenal sebagai proyek 'padat karya'. Orang orang yang diangkat menjadi ASN mendapat gaji, tetapi tidak jelas apa yang dikerjakannya.

Karena itu sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak dari mereka menjadi pemalas, makan gaji buta hanya dengan rajin mengisi absen. Mereka tidak memiliki kinerja yang baik sehingga lembaga kementerian yang menaunginya juga minim prestasi.

Bahkan sebagian dari ASN menjadi koruptor ketika berada di 'tempat basah' dimana ada perputaran uang yang cukup tinggi. Tidak heran jika ada ASN yang bisa hidup mewah, rumah megah lebih dari satu dan memiliki berbagai macam kendaraan.

Dua kementerian mempunyai reputasi sebagai sarang koruptor, yaitu kementerian agama dan kementerian pendidikan Nasional. Soalnya di dua lembaga ini banyak proyek yang bisa dimainkan.

Sejatinya, ASN bukan orang bodoh. Salah satu persyaratan mendaftar sebagai calon ASN adalah memiliki IP (Indeks Prestasi) minimal 2.75. Jelas membutuhkan kecerdasan di atas rata-rata.

Namun mengapa mereka memiliki kinerja yang buruk dan minim prestasi? Karena sistem yang ada tidak mendorong mereka untuk mengeluarkan kemampuan terbaik yang dapat diberikan.

Sistem yang selama ini berlaku justru meninabobokan mereka. Tidak ada rangsangan untuk berpacu dan mengasah kemampuan mereka. Sehingga mereka menjadi pemalas. Cukup datang dan absen, pasti menerima gaji.

Hal inilah yang seharusnya dirombak oleh setiap pimpinan lembaga, terutama menteri, jika ingin lembaga tersebut melakukan sesuatu yang berarti dalam membangun negeri. Jenjang karir harus berdasarkan prestasi, bukan kali kedekatan dengan atasan, atau memberi uang sogokan.

Walau begitu, usulan Menteri Susi Pudjiastuti juga patut dipertimbangkan. Lulusan Cumlaude termasuk golongan jenius yang bisa menghasilkan inovasi inovasi yang dibutuhkan untuk memajukan bangsa dan negara.

Mereka akan berpikir jauh ke depan, dengan menyesuaikan teknologi tercanggih dan perkembangan dunia. Kelak mereka diharapkan mampu mendobrak kebekuan dalam instansi atau lembaga dengan karya karya terbaiknya.

Tetapi, agar mereka bisa berbuat dan bekerja maksimal, tentu harus didukung lingkungan kerja yang baik. Antara lain dengan mengubah sistem yang dapat menjadi penghalang prestasi mereka.

Singkirkan saja ASN yang terindikasi pemalas, apalagi yang cuma menghabiskan waktu di media sosial. Otak mereka sudah julid, tidak akan bisa digunakan lagi untuk berpikir kreatif.