Mohon tunggu...
Nurdin Taher
Nurdin Taher Mohon Tunggu... Keberagaman adalah sunnatullah, karena itu pandanglah setiap yang berbeda itu sebagai cermin kebesaran Ilahi.

Lahir dan besar di Lamakera, sebuah kampung pesisir pantai di Pulau Solor, Flores Timur. Menempuh pendidikan dasar (SD) di Lamakera, kemudian melanjutkan ke SMP di Lamahala, juga kampung pesisir serta sempat "bertapa" 3 tahun di SMA Suryamandala Waiwerang Pulau Adonara, Flores Timur. Lantas "minggat" ke Ujung Pandang (Makassar) pada Juli 1989. Sejak "minggat" hingga menyelesaikan pendidikan tinggi, sampai hari ini, sudah lebih dari 25 tahun berdomisili di Makassar. Senantiasa belajar dan berusaha menilai dunia secara rasional dengan tanpa mengabaikan pendekatan rasa, ...

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Pesona Eksotisme Destinasi Wisata Tana Toraja

21 Juni 2017   21:48 Diperbarui: 23 Juni 2017   07:52 0 3 2 Mohon Tunggu...
Pesona Eksotisme Destinasi Wisata Tana Toraja
Pemandangan Rumah Adat Toraja Tongkonan di Kete Ke'su' (Dokumentasi Pribadi)

Sejak Sabtu hingga Kamis esok (17/6-22/6/2017) saya berkesempatan melakukan perjalanan dinas untuk sebuah tugas pendampingan Bimbingan Teknis Guru Sasaran (Bimtek GS) Kurikulum 2013 di Makale, ibukota Tana Toraja. Kesempatan tersebut tidak begitu saja saya lewatkan untuk mengunjungi pula beberapa destinasi wisata (budaya maupun religi) yang membuat Toraja sebagaimana biasa disebut, begitu mempesona yang memancarkan eksotisme hingga menjalar ke berbagai pelosok bumi.

Setelah mengunjungi beberapa destinasi wisata tersebut saya kemudian menyadari, mengapa Toraja menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Ternyata Toraja tidak hanya menawarkan gadis-gadis desa yang masih lugu nan menawan, tapi sekaligus memberikan daya hipnotisme yang menghanyutkan lewat destinasi wisata nan eksotis.

Ada 'perkampungan' adat yang begitu kuat memancarkan energi tradisi yang dipegang teguh hingga kini meski perkembangan zaman demikian deras dan dinamis fluktuatif merasuk masuk ke Toraja. Perkampungan adat yang begitu asri memancarkan kepercayaan yang mencerminkan nilai-nilai leluhur sebagai kearifan lokal yang tak pernah lekang oleh panas dan lapuk diterpa hujan. Kearifan budaya yang mengajarkan kepada masyarakat setempat tentang pentingnya menghargai sebuah artefak budaya (jika boleh menyebutkan demikian).

Penulis di depan jejeran Tongkonan (Dokumentasi Pribadi)
Penulis di depan jejeran Tongkonan (Dokumentasi Pribadi)
Memaknai kehadiran para leluhur dengan tetap 'menyimpan mayat' di tempat-tempat yang dianggap kokoh untuk melindungi mereka dari 'kepunahan' zaman. Maka tempat-tempat seperti goa-goa batu nan cadas mampu mereka 'sulap' menjadi tempat peristirahatan yang nyaman bagi leluhur mereka yang telah meninggal dunia.

Goa tempat menyimpan mayat keluarga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Goa tempat menyimpan mayat keluarga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Dalam perkembangannya, masyarakat Toraja sudah mulai sedikit bergeser mengikuti perkembangan zaman, dengan membuat semacam bunker yang disebut Patane sebagai ganti lubang goa untuk tempat menyimpan mayat-mayat keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Patane itu dapat berupa rumah atau pun bunker yang terbuat dari besi dan semen cor, yang berbentuk seperti tangki minyak.

Perkampungan adat itu bernama Kete Ke'su'. Ketika pertama kali masuk ke perkampungan Kete Ke'su, pengunjung disuguhi oleh jejeran rumah adat khas Toraja yang disebut tongkonan yang indah dipandang mata. Tongkonan juga menunjukkan pula 'variasi' yang mencerminkan strata sosial keluarga yang meninggal, yang ditandai dengan banyaknya atau jumlah kepala dan atau tanduk kerbau yang disematkan. Semakin banyak kepala dan tanduk kerbau menunjukkan bahwa semakin tinggi pula status sosial keluarga tersebut.

Setelah itu, pengunjung diajak untuk menjelajahi hutan goa batu yang sangat cadas di mana di dalam lubang-lubang goa itu tersimpan mayat-mayat dan tulang-tulang yang berserakan. Dari segi usia sudah mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Tidak hanya di dalam goa, mayat-mayat keluarga maupun leluhur warga Toraja juga disimpan di dinding-dinding goa. Terlihat di sana peti-peti mati yang di dalamnya tersimpan mayat, dan bahkan sudah menjadi tulang belulang yang berserakan karena di makan usia.

Tulang2 leluhur warga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Tulang2 leluhur warga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Keindahan itu tidak hanya mempesona tapi sekaligus menawarkan suasana yang menimbulkan rasa cekam yang membuat bulu kuduk bergidik. Dari berbagai 'variasi' mayat yang disimpan ternyata sekaligus menggambarkan pula tingkat atau strata sosial mereka. Bahkan bila ada keluarga yang secara strata sosial dan ekonomi yang tergolong menengah ke atas (mampu), maka akan membuat atau membangun Patane berupa bunker berbentuk tangki minyak dan atau rumah yang dipersiapkan untuk menyimpan mayat-mayat keluarga mereka bila kelak meninggal dunia.

Penulis di depan sebuah Patane berbentuk seperti tangki minyak (Dokumentasi Pribadi)
Penulis di depan sebuah Patane berbentuk seperti tangki minyak (Dokumentasi Pribadi)
Sebuah keluarga baru dapat membuat Patane bila telah sanggup memotong kerbau sebanyak 24 ekor. Sementara harga seekor kerbau dengan jenis tertentu, seperti kerbau bule dengan kulit belang berwarna putih bercampur hitam, yang dalam istilah Toraja disebut Bonga atau Salekong. Harga satu ekor kerbau bule atau Bonga nyaris mendekati angka satu milyar (1 M). Sebuah harga seekor hewan ternak yang tidak sembarang warga Toraja sanggup membelinya untuk upcara kematian, yang disebut Rambu Solo. Sebab jenis, jumlah dan harga kerbau yang dapat disiapkan suatu keluarga untuk upacara Rambu Solo menunjukkan status dan strata sosial dari keluarga itu.

Kepala dan tanduk kerbau sebagai simbol status sosial warga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Kepala dan tanduk kerbau sebagai simbol status sosial warga Toraja (Dokumentasi Pribadi)
Hanya keluarga yang berstatus ningrat atau bangsawan dengan status sosial yang terhormat yang sanggup menyiapkan sejumlah kerbau dengan jenis kerbau bule itu. Keluarga dengan status sosial seperti itu di kalangan warga Toraja disebut sebagai Puang atau Madika. Begitu pula dengan posisi mayat yang akan diletakkan di dalam atau dinding goa. Semakin tinggi posisi peti mayat diletakkan maka hal itu pula menunjukkan tingkat dan status sosial suatu keluarga Toraja.  

Destinasi wisata budaya lain yang juga menawarkan suasana yang nyaris serupa, eksotisme nan  menyeramkan, adalah Londa. Pada destinasi wisata Londa ini juga menawarkan obyek wisata berupa mayat-mayat warga Toraja yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang disimpan di goa-goa dan dinding-dinding  batu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3