Mohon tunggu...
Elang Maulana
Elang Maulana Mohon Tunggu... Petani
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hanya manusia biasa yang mencoba untuk bermanfaat, bagi diri dan orang lain..

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dia adalah Rocky Gerung

1 Juni 2020   10:07 Diperbarui: 1 Juni 2020   10:28 247 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dia adalah Rocky Gerung
Detik.com

SETELAH namanya melejit sebagai aktivis oposisi dan pengamat politik selama musim kampanye Pilpres 2019, Rocky Gerung terus menjadi sosok yang hampir tidak pernah lepas dengan kontroversi di tanah air.

Ya, pria yang berlatar belakang sebagai filsafat ini mulai dikenal masyarakat luas sejak gigih menyuarakan suara oposisi terhadap pemerintahan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi). Beragam komentar dan statementnya selalu pedas saat menyoroti pemikiran dan kebijakan pemerintah, baik di layar kaca, di agenda-agenda ofline maupun akun media sosialnya.

Bahkan, saking jiwa oposisinya begitu kuat terhadap pemerintahan Jokowi, pria kelahiran Menado, Sulawesi Utara ini berani "menghina" figur yang sempat diusung dan dibelanya saat Pilpres 2019 lalu, Prabowo Subianto.

Entah didasari kebencian atau kekecewaan, Rocky menyebut Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra itu sebagai sampah negara, hanya karena akhirnya bergabung dengan koalisi pemerintah dan menduduki jabatan Menteri Pertahanan (Menhan).

Karena itu, Rocky menasbihkan diri sudah tak sejalan lagi dengan Prabowo. Dia juga menyebut mantan Danjend Kopasus itu sudah tak dibutuhkan lagi di negeri ini. Menurutnya, kubu oposisi seharusnya tetap berada di luar cabang kekuasaan untuk memastikan berlangsungnya proses pengawasan dan keseimbangan (check and balance).

Satu lagi bentuk oposisi terhadap pemerintah dan boleh jadi karena begitu kecewanya terhadap Prabowo, tak tanggung, Rocky Gerung juga sempat meminta kepada pendukung Jokowi agar memarahi sosok Prabowo Subianto. Sementara terhadap para pendukung Jokowi, Rocky meminta agar "mengusirnya" dari kubu mereka.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Rocky lebih menempatkan dirinya sebagai pihak opisisi dan enggan bergabung dengan pemerintah?

Pada beberapa kesempatan wawancara dengan awak media, yang pernah penulis baca, dia kerap menyebutkan bahwa jika masuk dalam lingkaran kekuasaan sama halnya membiarkan pemerintah bersikap otoriter.

Kendati demikian sikap oposisinya itu bukan berarti Rocky memusuhi pemerintah melainkan berusaha untuk memberikan atau memunculkan pikiran alternatif. Dalam hal ini, dia ingin memberikan alternatip pemikirannya demi kemajuan bangsa dan negara.

Nah, karena itu pula, baru-baru ini Rocky juga blak-blakan membandingkan pemerintah dengan salah satu partai yang sejauh ini masih konsisten sebagai oposisi, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dalam hal ini, pengamat politik dan filsuf tersebut menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai satu-satunya yang konsisten mengkritisi pemerintah. Partai dakwah itu tak pernah lelah mengingatkan penguasa untuk menjalankan amanat konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memelihara fakir miskin.

Rocky menyebut, PKS kerap mengingatkan agar penguasa kembali ke amanat konstitusi. Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun seolah tak diindahkan pihak penguasa.

Bahkan, seperti dikutip Jpnn.com, Rocky menegaskan, bahwa semenjak mewabahnya pandemi virus corona atau covid-19, perangai kekuasaan kian memburuk.

"Bukan sekadar perangai dalam kebijakan tetapi sikap otoriternya. Salah satunya melarang orang mengkritik pada kebijakan penanganan Covid-19. Beberapa orang dipanggil aparat karena mengkritisi pemerintah," ujar Rocky di akun YouTube Trilogi TV, baru-baru ini.

Rocky mengaku selalu bersemangat kalau ada dalam forum PKS, karena selalu dalam komunikasi akal sehat. PKS dinilai selalu ingin mengevaluasi bangsa ini dengan parameter konstitusi, yakni kecerdasan bangsa dan kondisi fakir miskin.

"Cuma dua itu yang diperintahkan konstitusi untuk presiden. Cerdaskan kehidupan bangsa, pelihara fakir miskin," ucapnya.

Masih dikutip Jpnn.com, lanjut Rocky, andai dibuat sinopsis, kecerdasan kita merosot, fakir miskin bertambah. Jadi, menurutnya hal itu problem utama. Di dalam kemerosotan kecerdasan tentu ada kegagalan pendidikan. Di dalam bertambahnya kemiskinan pasti ada kesalahan kebijakan.

Begitulah sikap yang selalu diperlihatkan Rocky Gerung terhadap penguasa. Baginya, pemerintahan Jokowi seolah tidak ada positipnya. Kendati demikian, tentu saja hal tersebut merupakan hak konstitusional dirinya dalam berpendapat.

Pria sarat kontroversi
Sebagai dampak dari jiwa oposisinya terhadap pemerintahan Jokowi, tak jarang pernyataan-pernyataan Rocky Gerung memantik kontroversial.

Sebut saja,  Rocky Gerung pernah mengkritik Jokowi selama masa kampanye Pilpres 2019 yang dinilainya paling banyak melakukan pencitraan, salah satunya dengan meluncurkan kartu pra-kerja. Terus dia juga kerap menyindir mantan Gubernur DKI Jakarta itu saat getol membagikan sertifikat tanah gratis terhadap masyarakat.

Namun, pernyataan Rocky Gerung yang paling kontroversial dan sekaligus melejitkan popularitasnya, tentu saja saat dia menyebut bahwa "kitab suci adalah fiksi." Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Indonesian Lawyers Club (ILC) di tvOne yang dipandu wartawan senior, Karni Ilyas.

Akibat pernyataannya tersebut, Rocky sempat berurusan dengan hukum. Namun begitu, dia berhasil lolos dari jeratannya. Pun dengan pernyataan-pernyataan kontroversial lainnya, pria berkacamata tersebut sejauh ini selalu berhasil lolos. 

Kenapa? 

Karena dia adalah Rocky Gerung. Selalu bisa mematahkan setiap tuduhan dan mempertanggungjawabkan setiap ucapan dengan argumentasinya.

Salam

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x