Mohon tunggu...
Elang Maulana
Elang Maulana Mohon Tunggu... Dengan kata hidup lebih bermakna

Hanya manusia biasa yang mencoba untuk bermanfaat, bagi diri dan orang lain..

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Soal Monas, Anies Tak Mampu Lagi Berlindung di Balik Narasi

24 Januari 2020   21:22 Diperbarui: 24 Januari 2020   22:30 1006 23 7 Mohon Tunggu...
Soal Monas, Anies Tak Mampu Lagi Berlindung di Balik Narasi
Kompas.com

JIKA kita bicara tentang Gubernur DKI Jakarta yang menjabat saat ini Anies Baswedan, tentu saja banyak hal yang bisa diungkapkan. Pintar, cerdas, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Jokowi jilid pertama, mantan Rektor Universitas Paramadina dan masih banyak lagi.

Tapi, tentunya, sahabat K'ners dan siapapun pembaca di luar sana tidak akan bisa membantah jika pria berkacamata ini juga adalah sosok yang pandai beretorika dan mengolah kata menjadi narasi yang hebat.

Untuk skill menyusun kata-kata menjadi narasi yang kerap kali mampu menaklukan lawan bicaranya, Anies Baswedan adalah jagonya.

Coba tengok, kejadian yang pernah jadi viral terkait kontroversinya anggaran pengadaan lem aibon dan beberapa item pengadaan barang lainnya yang dibuka oleh oleh anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), William Adhitya Sarana beberapa waktu lalu.

Dengan entengnya, Anies membela dirinya dengan mengatakan, bahwa kejadian tersebut terjadi akibat sistem e budgeting yang digagas gubernur sebelumnya tidak smart.

Meski pada akhirnya pernyataannya ini sempat menimbulkan perdebatan, nyatanya Anies masih mampu menepisnya. Malah, sebaliknya, William justeru divonis bersalah oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD DKI Jakarta karena dianggap telah melanggar tata tertib karena telah mengungkap Rencana Anggaran DKI Jakarta tahun 2020 yang janggal.

Contoh lain yang menjadi bukti bahwa Anies pandai memainkan narasi adalah saat terjadi bencana banjir awal bulan atau bertepatan dengan datangnya tahun baru 2020.

Dalam hal ini telah terjadi silang pendapat antara Anies dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono.

Kala itu, Basuki mengatakan bahwa penyebab banjir di hampir seluruh Kota Jakarta adalah belum sepenuhnya dilakukan normalisasi di Sungai Ciliwung.

Namun demikian, Anies segera menepis anggapan Basuki tersebut. Menurutnya, meski Sungai Ciliwung sudah dinormalisasi, banjir tetap saja terjadi pada bulan Maret 2019 lalu.

Disebutkan Anies, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pengendalian air sebelum masuk ke Jakarta

"Kita sudah menyaksikan bulan Maret lalu di Kampung Melayu yang sudah dilakukan normalisasi itu pun mengalami banjir ekstrem. Artinya, kuncinya itu ada pada pengendalian air sebelum masuk pada kawasan pesisir," kata Anies.

Tidak hanya dengan Menteri PUPR, adu narasi juga terjadi antara Anies Baswedan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Presiden Jokowi, penyebab banjir di Jakarta dan sekitarnya diakibatkan oleh kerusakan ekologi dan kesalahan yang diciptakan manusia, seperti membuang sampah sembarangan.

Kembali, anggapan Presiden Jokowi pun dibantah Anies. Disebutkannya, bukan sampahlah yang mengakibatkan banjir.
Anies mencontohkan kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur yang juga kebanjiran. Padahal menurutnya, tidak ada tumpukan di sekitar Bandara tersebut.

"Halim itu setahu saya tidak banyak sampah, tapi bandaranya kemarin tidak bisa berfungsi. Apakah ada sampah di bandara? Rasanya tidak, tapi Bandara Halim kemarin tidak bisa digunakan," ujar Anies di Kampun

Itulah sejumlah contoh kasus, dimana Anies Baswedan selalu mampu dan tidak kehilangan akal dan kata-kata kala menepis tudingan-tudingan yang mengarah pada dirinya. Dia selalu mampu berlindung di balik narasi-narasi yang ia lontarkan.

Soal Revitalisasi Monas, Anies Bungkam

Seperti pribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Mungkin pribahasa ini cocok untuk menggambarkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat ini.

Anies yang biasanya lincah dalam memainkan kata-kata untuk menahan serangan kritik dari pihak luar, kini hanya bisa bungkam ketika dihadapkan pada masalah revitalisasi Monumen Nasional (Monas).

Dengan kata lain, menurut bahasa penulis, Anies saat ini sudah tidak mampu lagi berlindung di balik narasi-narasi yang biasanya selalu menjadi "senjata" pamungkas dirinya jika sedang dalam posisi tidak menguntungkan.

Namun kali ini, Jangankan berinisiatip membeberkan pokok permasalahan disertai pembenarannya. Saat ditanya sejumlah pewarta pun, Anies justeru lebih memlilih diam.

"Enggak, enggak, saya enggak mau komentar dulu, cukup, cukup," kata Anies sambil berjalan menuju ruang kerjanya.

Itulah jawaban Anies, saat dimintai keterangnnya, paska baru selesai menghadiri kick of meeting penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) tahun anggaran 2019 dalam rangka meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) di Balai Agung, lantai dua Balai Kota.

Ya, seperti ramai diberitakan berbagai media masa, baik cetak maupun online, saat ini Anies Baswedan kembali menjadi sorotan soal revitalisasi Monas yang dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ternyata belum memiliki izin dari Komisi Pengarah yang diketuai oleh Menteri Sekretaris Negara.

Padahal, seperti tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Sorotan terhadap Anies tidak hanya terkait revitalisasi Monas. Publik pun ramai mengkritik tentang penebangan pohon yang berada di pelataran selatan Monas.

"Kita rasakan betul kerusakan ekologis Jakarta. Kan terlihat betul, banjir dan polusi udara segala macam, dan justru Pemprov DKI menebang pohon," ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Tubagus, Kamis (23/1/2020).

Kembali pada bungkamnya Anies, menurut hemat penulus ada dua alasan yang patut dikedepankan.

Pertama, Anies sudah tidak ada lagi memiliki kata-kata ampuh sebagai bentuk pembelaan diri karena merasa telah melakukan kesalahan.

Sedangkan yang, kedua, sebenarnya Anies sedang menyusun rencana dan memikirkan pembelaan yang tepat. Sehingga, untuk sementara ini lebih baik memilih diam daripada narasi yang dilontarkannya justeru menjadi bumerang buat dirinya.

Sekali lagi, ini hanya menurut pandangan penulis. Adapun, apa maksud diamnya Anies, tentu saja Anies sendiri yang mengetahui.

Wassallam

Referensi : satu, dua, tiga, empat, lima

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x