Mohon tunggu...
Elang Salamina
Elang Salamina Mohon Tunggu... Dengan kata hidup lebih bermakna

Designer grafis & tukang coret...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Si Tukang Balon

20 Agustus 2019   07:37 Diperbarui: 20 Agustus 2019   19:56 0 33 10 Mohon Tunggu...
Cerpen | Si Tukang Balon
ilustrasi penjual balon. (pixabay/elifhazalzkse)

SEBAGAI penjual balon keliling, Abah Karman hampir setiap hari menyisir jalan yang melintas depan rumahku, dengan mengayuh sepeda ontel tua. 

Tubuhnya yang mulai ringkih di makan usia, bukan alasan bagi laki-laki berusia 67 tahun ini tidak semangat mengais rejeki  untuk menyambung hidupnya dengan sang isteri tercinta. Dia terus berjualan dengan kemana pun kaki mengayuh. "Tetot..tetot..tetot" itulah cara Abah Karman menawarkan balon, memencet klakson manual sepedanya.

Awalnya, aku tak peduli dengan lelaki tua penjual balon ini. Sebagai pedagang, setua apapun tetaplah pedagang. Dalam otaknya yang terpikir pasti keuntungan. Sampai suatu hari, dia kembali melintas persis di depan rumah. Tiba-tiba sekelompok anak-anak yang sedang mengejar layangan putus, menubruk sepeda Abah Karman. 

Lelaki tua ini jatuh, beberapa balonnya pun ikut meletus. Si anak yang menabrak pun kaget dan langsung pucat, siap menerima sumpah serapah dari Abah Karman. Jujur, aku pun berpikir, lelaki ini akan marah dan meminta ganti rugi. 

Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Abah Karman yang tersungkur   dan sikut lengannya lecet-lecet hanya tersenyum. Bahkan, ia meminta si anak tadi lebih berhati-hati sambil mengingatkan akan bahayanya mengejar layangan putus di pinggir jalan.

"Untung yang kena tabrak hanya sepeda butut abah. Coba kalau kendaraan gede, kan bisa celaka. Lain kali lebih hati-hati ya nak...!" Tutur Abah Karman, sambil tersenyum.

Melihat kejadian ini, aku terenyuh lalu mengajaknya ke teras rumah, sekedar istirahat dan melepaskan lelah. Setelah kuobati luka lecetnya dan diberi minuman mineral. Aku pun mulai bertanya tentang asal-usul, keluarga dan berapa lama si abah berjualan.

Abah Karman mengais rejeki dari berjualan balon sudah hampir 20 tahun. Baginya, setiap hari adalah hari kerja. Dimana dan kapan ada peluang untuk menghasilkan rupiah, di situ dia akan terus berusaha. Namun, yang namanya jualan tak selamanya untung. 

Ada kalanya merugi, seperti kejadian yang menimpanya barusan. Bagi dia untung dan rugi tetap patut di syukuri. Karena menurutnya semua itu datangnya dari Allah.

"Manusia kan wajibnya berusaha. Mengenai untung ruginya sudah ditentukan sama yang di atas" ucapnya.

Bertemu dengan Abah Karman bagiku merupakan pelajaran hidup berharga, yang tak pernah aku dapatkan dari sekolah manapun. Ilmu ikhlas yang dia miliki sungguh jarang dimiliki setiap orang termasuk aku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3