Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... Guru

Pembelajar di universitas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rasis yang Bersarang Dalam Diri

25 Januari 2021   11:23 Diperbarui: 25 Januari 2021   13:44 130 33 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rasis yang Bersarang Dalam Diri
Ilustrasi gambar: pixabay.com

Ada banyak hal dalam diri manusia. Ada tikus dan burung dalam diri manusia. Burung membawa sangkarnya ke atas. Sementara tikus membawa kandangnya ke bawah.

Ada ratusan ribu jenis binatang dalam diri manusia. Kecuali jika mereka berkumpul dalam satu momen, saat tikus meninggalkan tabiat tikusnya dan burung menanggalkan tabiat burungnya.

Mereka akan menjadi satu. Sebab, yang menjadi tujuan bukanlah atas atau bawah. Saat tujuan tampak, maka tak ada lagi atas dan bawah.

Jika demikian bagaimana istilah rasis dalam diri masih ada?

Ibarat kehilangan sesuatu, berada di tempat yang asing. Ia tengok kanan-kiri dan depan belakang mencarinya. Orang yang pertama kali ingin ia temukan adalah yang sejenis dengannya.

Dengan begitu ia merasa tenang. Mengerti bahasanya, paham karakter yang melekat dalam budaya, dan seterusnya.

Setelah berhasil menemukannya, ia tak lagi tengak-tengok mencari-cari di segala arah: atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang. Ia menjadi tenang dan teguh hatinya.

Pasti ada sesuatu yang hilang ketika kesamaan menjadi hal paling pokok. Dari sinilah nilai perbedaan menjadi jurang terdalam. Apalagi jika perbedaan itu saling merendahkan. Menganggap bahwa hanya yang sama dengannya adalah terbaik.

Seperti sepuluh orang yang berkumpul dalam satu pandangan, satu lisan, satu pendengaran, dan satu pemahaman. Mereka membicarakan hal yang sama, mempunyai perhatian yang sama, dan terlibat dalam minat yang sama, karena tujuan mereka sama.

Begitu datang orang ke sebelas, berbeda sama sekali dengannya. Akibat jurang yang dalam telah berurat berakar dalam dada dan kepalanya satu orang ini dianggap musuh, dianggap akan mengacaukan segalanya.

Seseorang bisa menjadi rasis karena dipengaruhi oleh pola pembentukan karakter sejak ia lahir, norma sosial di masyarakat dan sistem politik, ekonomi dan budaya sebuah negara yang cenderung rasis. Namun demikian, negara memiliki pengaruh besar untuk melanggengkan atau sebaliknya menghapus rasisme

Akibatnya sangat fatal. Trauma rasial dapat diakibatkan oleh pengalaman utama rasisme seperti diskriminasi di tempat kerja atau kejahatan rasial, atau bisa juga merupakan hasil dari akumulasi banyak kejadian kecil, seperti diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari dan agresi mikro.

Trauma ras dapat terjadi akibat pelecehan ras, menyaksikan kekerasan rasial, atau mengalami rasisme institusional (Bryant-Davis, & Ocampo, 2006; Comas-Daz, 2016)

Contoh kasus dalam kondisi kekinian:

1. Diskriminasi di tempat kerja: Rekan kerja mengungkapkan ancaman yang bermotivasi rasial atau melakukan serangan fisik terhadap individu yang menjadi target di tempat kerja.

2. Kekerasan masyarakat: Korban menyaksikan kekerasan geng atau takut akan nyawanya / keselamatan pribadi atau anggota keluarga.

3. Pengalaman medis: Korban memiliki ketakutan yang terus-menerus terhadap kehidupan orang yang dicintai / diri sendiri karena penganiayaan medis berdasarkan ras/etnis. Penahanan: Korban dianiaya secara fisik atau seksual saat di penjara berdasarkan ras/etnis.

Kondisinya tentu saja berbeda jika dalam analogi 10 orang yang sama tadi memiliki pandangan antirasis. Sementara orang ke sebelas sangat dengan sifat rasis yang membakar. Pasti tak ada pengaruhnya.

Dari sini dapat diungkapkan bahwa mayoritas menjadi salah satu faktor pendukung yang paling dominan.

Lantas setelah begitu kenyataannya, apa yang harus kita lakukan?

Pertama, merasa dominasi akan mampu mempengaruhi segalanya. Tidak begitu bisa disalahkan ketika dominasi yang dilakukan tidak merugikan orang lain dan menonjol ke permukaan. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah perlu didudukkan pada porsi yang tepat. Tentu saja.

Kedua, jika tidak menginjak maka kita yang akan diinjak. Inilah yang menjadi pangkal persangkaan untuk saling menguasai dan memonopoli. Padahal alangkah baiknya jika bisa sejajar dan bekerjasama.

Ketiga, Perbedaan justru lebih indah. Bukankah pelangi terlihat sangat indah karena berbeda warnanya?

Oleh karena itu, kembali memberikan penilaian pada diri sendiri, sudahkah saya memaklumi perbedaan kepada orang lain? Sudahkah saya menghilangkan rasa takut jika ada yang berbeda dengan saya?

Dengan begitu harapan terakhirnya, ketika mayoritas menjadi minoritas maka kehidupan akan aman dan tentram. Demikian juga sebaliknya.

(Sungai Limas, 25 Januari 2021)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x