Mohon tunggu...
Eko Windarto
Eko Windarto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Esainya pernah termuat di kawaca.com, idestra.com, mbludus.com, javasatu.com, pendidikannasional.id, educasion.co., kliktimes.com dll. Buku antologi Nyiur Melambai, Perjalanan. Pernah juara 1 Cipta Puisi di Singapura 2017, juara esai Kota Batu 2023

esai

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Mengulik Budaya Mudik dari Paradigma Gen Z

12 April 2024   19:22 Diperbarui: 12 April 2024   19:25 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Oleh: Eko Windarto 

Budaya mudik atau pulang kampung menjadi salah satu tradisi yang sangat dihargai oleh masyarakat Indonesia, khususnya pada saat Hari Raya Idul Fitri. Namun, dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat, budaya mudik ini mengalami perubahan. Saat ini, generasi muda atau Gen Z 2024 memiliki paradigma yang berbeda tentang budaya mudik.

Pada zaman dahulu, mudik menjadi bagian penting dari budaya Indonesia sebagai sarana untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Namun, saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih untuk tidak mudik karena beberapa alasan. Salah satu alasan yang paling sering diutarakan adalah kemacetan di jalan raya yang cukup parah selama periode mudik.

Di era Gen Z 2024, perkembangan teknologi juga menjadi faktor penting dalam perubahan cara mudik. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini banyak aplikasi online yang dapat membantu masyarakat dalam mempersiapkan perjalanan mudik, seperti memeilih transportasi, tempat menginap, dan sebagainya. Selain itu, banyak juga masyarakat yang memilih untuk video call atau melakukan video konferensi dengan keluarga yang berada jauh, sebagai alternatif dari mudik tersebut.

Namun, budaya mudik bukan hanya sekedar berkumpul dengan keluarga. Ada nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya, seperti nilai kebersamaan, silaturahmi, dan juga mengenal budaya daerah. Oleh karena itu, bagi Gen Z 2024, budaya mudik masih memiliki peranan penting. Meskipun mereka cenderung lebih memilih alternatif lain, seperti video call, namun mereka tetap menghargai tradisi budaya mudik.

Hal ini terbukti dengan banyaknya Gen Z 2024 yang tetap mengunjungi kampung halaman keluarga di malam takbir atau pada momen-momen tertentu. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan yang dapat mempererat tali silaturahmi, seperti berkunjung ke rumah warga setempat, ikut dalam kegiatan tradisional yang diselenggarakan, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga memanfaatkan momen mudik untuk berlibur dan mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di kampung halaman keluarga.


Dalam mengulik budaya mudik dari paradigma Gen Z 2024, perlu diakui bahwa adanya pergeseran budaya tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kemacetan, perkembangan teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat. Namun, ditinjau dari sisi positifnya, generasi muda tersebut tetap memiliki kesadaran untuk mempertahankan budaya traditionil dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam upaya mempertahankan budaya mudik ini, semua pihak perlu berperan aktif. Pemerintah dan lembaga terkait harus memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan kualitas transportasi yang ada, agar masyarakat dapat melakukan mudik dengan lebih nyaman dan aman. Selain itu, pertumbuhan wisata di desa dan kampung harus juga ditingkatkan agar dapat memperkenalkan kebudayaan dan kesenian daerah pada pardigma Gen Z 2024.

Dalam hal ini, kelompok masyarakat juga berperan penting dalam merawat budaya mudik tersebut. Dilakukan dengan mengajarkan nilai-nilai penting yang terkandung dalam budaya mudik kepada generasi muda, seperti nilai kebersamaan, toleransi, dan silaturahmi. Serta membangun kegiatan yang mendukung perwujudan nilai tersebut, seperti kegiatan sosial dan kegiatan tradisional, yang dapat meningkatkan interaksi antar warga.

Pada akhirnya, penting bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk Gen Z 2024, untuk menghargai dan memelihara budaya mudik sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki. Meskipun dengan adanya perubahan paradigma dan teknologi, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus tetap terjaga. Budaya yang baik dan positif harus diteruskan demi kebaikan dan masa depan bangsa Indonesia.

Batu, 1242024

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun