Mohon tunggu...
Eko Irawan
Eko Irawan Mohon Tunggu... Penulis - Hidup Indah dengan Menulis dan Berbagi

Penulis Sejarah, Budaya, motivasi dan sastra. Pegiat Kampung Sejarah dan Kampung Nila Slilir. Pegiat Sejarah dari Museum Reenactor Ngalam di Kota Malang

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Tak Ada Konten Tanpa Perjuangan

29 Juni 2021   16:24 Diperbarui: 29 Juni 2021   16:34 86 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tak Ada Konten Tanpa Perjuangan
Tak ada konten tanpa perjuangan dokpri Eko irawan

Dalam bahasa kekinian, sebuah hasil karya dibahasakan sebagai konten. Orang yang menciptakan disebut konten Kreator. Hasil karya yang tercipta sangat multi media dan mengandung unsur tehnologi jaman now. Lahirlah banyak konten kreatif yang beragam. Dalam ranah penulis, sentuhan konten kreatif ini menciptakan penulis kreatif yang tak hanya cakap menulis, namun juga lihai dalam fotografi, video cinematik dan melahirkan penulis multi talenta. Melahirkan sebuah konten, bukan barang sulap. Sim salabim langsung jadi. Selalu ada kisah tersendiri dibalik lahirnya sebuah konten kreatif. Jadi tak ada konten tanpa perjuangan. Berikut sedikit berbagi tips keseruan perjuangan bikin konten, khususnya para penulis Kompasiana, dan konten kreator pada umumnya. Selamat membaca.

Kisah dibalik sebuah Tulisan 

Di era android, proses menulis sudah sangat mudah, semua ada digenggaman. Nulis bisa digadget. Yang kita butuhkan, mulai foto, video, rekaman suara hingga Googling, sudah tersedia diperangkat. Mau baca atau cari referensi, e book sudah bisa diakses dengan mudah. Jika ada penulis era sekarang mengeluh sulit menulis, rasanya aneh. Tehnologi sudah sangat banyak membantu proses kreatif.

Bayangkan dahulu di era 90an, untuk menulis satu tulisan saja butuh kertas, mesin ketik, kamera, nyetak foto jika dibutuhkan dan kirim via pos. Itu belum tentu tayang. Alhamdulillah, dimasa itu, sudah capek bikin konten, pinjam alat sana sini ditambah rela nabung dan ngurangi uang jajan, maklum anak SMA masa itu, ternyata semua karya masa itu tak pernah ada yang terbit. Untung sekarang jaman canggih, keluh kesah seperti pengalaman saya itu sudah bukan alasan lagi untuk mandeg berkarya. Era sekarang Sudah dimudahkan, jadi tidak ada alasan sulit yang masih memakai rumus banyak dalih dan alasan yang tidak masuk akal. Semua itu tergantung masing masing pribadi.

Dalam sebuah tulisan, menciptakan ciri khas yang kamu banget adalah keharusan. Penambahan foto, video dan info grafis adalah inovasi yang harus semakin diperkaya. Hal tersebut semakin meningkatkan kapasitas SDM mu. Jujur itu tidak mudah, namun harus dicoba. Diperlukan proses latihan dan pengembangan talenta multi mediamu agar tercipta branding dirimu secara signifikan. Coba dan cobalah terus, dan temukan passion kamu sendiri.

Kisah dibalik sebuah tulisan, tentu menyimpan banyak proses perjuangan. Dengan mudah orang lain bisa membaca judulnya saja, lalu abaikan. Bahkan tak kenal maka tak sayang. Yang penulisnya kurang terkenal, ya tak dibaca. Apresiasi dari pembaca adalah output kebanggaan dari para penulis. Untuk membuatnya, tidak gampang lho, penuh perjuangan. Misal mood nulis lagi on, tiba tiba paket data tewas. Terpaksa nunut free WiFi. Ini juga kisah mengharukan ala jaman now.

Belajar dan berani mencoba 

Rasa ogah, malas dan mood yang tak kunjung nyaman, adalah penyakit akut para konten kreator. Nunggu sempurna juga merupakan sikap tak elegan yang menghambat launching sebuah karya. Belajar dan berani mencoba adalah tips jitu membangun konten kreatormu lebih bermutu. Waktu dan kesempatan tak mungkin terulang. Jadi manfaatkan momen terbaikmu untuk segera tayang, tanpa menunda bunda lagi.

Jadi diri sendiri 

Hal paling sulit adalah standar yang ingin kita capai dan kita tak mampu melakukannya. Tiap penulis selalu punya idola yang ingin disainginya. Dulu saya sangat mengidolakan Hilman Hariwijaya, yang menulis lupus. Sampai sekarangpun, untuk bisa menjadi seperti Hilman, atau seperti Pram, tentu butuh latihan, proses dan perjuangan berat. Jika kamu hanya ingin, dan terus saja belajar meniru standar ketokohan mereka, kapan kamu mampu unjuk karyamu sendiri? Andaipun berhasil, itu hanya replika. Paling kamu dipuji tulisanmu seperti karya Pram atau Hilman Ya..  kamu dikenal sebagai pengekor genre mereka. Dan jati dirimu pribadi tenggelam dalam kebesaran penulis idolamu.  Terus kapan kamu dikenal sebagai penulis?

Menjadi diri sendiri adalah proses membranding diri pribadi sesuai passion kamu sendiri. Jadi diri sendiri adalah cara mudah membangun konten kreatifmu berciri khas kamu banget. Itu adalah jalan yang harus kamu tempuh agar kamu dikenal sebagai diri sendiri yang unik. Proses kreatifmu juga akan semakin menantang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN