Mohon tunggu...
Eka Ratna
Eka Ratna Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Masa Depan Lumpur Lapindo

27 April 2019   22:24 Diperbarui: 27 April 2019   22:33 3070
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Patung lumpur di kawasan lumpur Lapindo  (jatim.metrotvnews.com)

Tepat pada bulan Mei mendatang lautan lumpur Lapindo berusia 13 tahun, tepatnya pada 26 Mei 2006 semburan lumpur pertama muncul di Desa Banjar Baru, Porong, Sidoarjo, yang mengakibatkan puluhan pabrik terpaksa gulung tikar, 500 hektar sawah dan rumah penduduk rusak, 24 ribu jiwa harus mengungsi, dan 45 ribu terkena dampak langsung. Sampai sekarang lumpur lapindo masih terus mengeluarkan lumpur bercampur aroma yang sangat menyengat. Sebelumnya lumpur Lapindo diperkirakan akan berlangsung hingga 31 tahun. Namun, penelitian terbaru tim geologi beberapa kampus di Eropa menunjukkan bahwa umur lumpur Lapindo bisa lebih dari itu. Tak ada upaya apapun selain terus meninggikan dan meluaskan tanggul, yang juga diiringi semakin meluasnya aliran lumpur Lapindo. Pada tahun 2007 pemerintaham SBY sempat membentuk badan penanggulana lumpur Sidoarjo (BPLS) melalui Perpres No.14 tahun 2007. Namun, entah karena alasan apa, pada tahun 2017 melalui Perpres No.21 tahun 2017, presiden Jokowi membubarkan BPLS dan sejumlah Lembaga Non Struktural (LNS). Efektivitas dan efesiensi sepertinya menjadi alasan pemerintah membubarkan BPLS da LNS ini, yang kemudian pelaksanaan tugas dan fungsi diambil alih oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada tahun 2015 Jokowi juga mendesak ganti rugi harus terselesaikan sampai akhir tahun 2015. Total ganti rugi sebesar 3,8 triliun. 3,03 triliun dibayar oleh Minarak Lapindo, sedangakan 781 miliar ditalangi oleh pemerintah. Selain itu pada tahun 2016 pemerintah mencairkan sisa anggaran talangan dalam APBNP sebesar 54,3 miliar. Namun, itu juga belum cukup untuk mengganti seluruh kerugian korban. Masih ada korban yang belum mendapat ganti rugi sampai saat ini, alhasil mereka mengandalkan hidup dengan menyulap lautan lumpur yang menelan rumah dan mata pencaharian mereka menjadi objek wisata. Beberapa orang membuat tangga kayu, serta beberapa membuka warung didekat tanggul, hingga area parkir untuk wisatawan yang datang. Saya sempat berbincang dengan salah satu warga yang juga menjadi korban mengenai objek wisata yang membahayakan ini. Jawaban dari mereka pun cukup singkat dan jelas "kami juga takut sewaktu-waktu tanggul ini bocor dan meluap, namun kehidupan saya hanya bergantung dari wisatawan yang datang di sini".

Bayang Hitam bagi Warga Porong 

Ketakutan akan meluapnya lumpur dan jebolnya tanggul masih membayang-bayangi warga yang tinggal di sekitar lumpur Lapindo, Porong. Curah hujan yang cukup tinggi serta kontruksi tanah yang tidak stabil dan rapuh sangat memungkinkan tanggul akan ambles dan berakibat naiknya lumpur ke permukaan tanggul.  

Berdasarkan penelitian pada tahun 2016 yang dilakukan ahli geologi dan tim dari Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) menyebutkan bahwa ada penurunan tanah di daerah lumpur Lapindo sekitar 2 sentimeter setiap tahun. Ketakutan tersebut hampir terjadi bak mimpi buruk bagi warga sekitar. 

Pada Oktober 2018 lalu tanah di daerah lumpur Lapindo mengalami penurunan cukup signifikan dikarenakan kelabilan tanah, sehingga menyebabkan tanggul menurun dan luapan lumpur hampir menyentuh bibir tanggul. Hal tersebut diduga akibat dari curah huja yang cukup tinnggi serta dampak banjir yang sempat terjadi di sepanjang jalan raya Porong, serta tanah yang labil dan mudah bergeser. Pemerintah cukup tanggap dengan hal tersebut dengan melakukan perluasan tanggul. 

Namun, apakah selamanya akan terus melakukan perluasan tanggul? Berapa juta ton pasir yang dibutuhkan jika penanggulangan hanya dalam bentuk tanggul? Serta mengalirkan aliran lumpur ke kali Porong hanya akan menjadikan lingkungan semakin tak sehat bagi warga Porong. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi poin yang sering dikritisi beberapa pengamat ekologi.

 Tanggul tak selamanya dapat menahan luapan lumpur, serta aliran lumpur lama-kelamaan akan mencemari perairan di daerah tersebut. Bukan lagi jadi menjadi jalan keluar, justru menjadi masalah yang semakin mengakar.

Semakin lama permasalahan ini tak kunjung diselesaikan, maka semakin besar pula potensi Porong akan menjadi kota mati. Bisa dilihat saat ini, ketika anda melewati jalan raya porong arah Malang-Surabaya atau sebaliknya, Porong bak wilayah tak berpenghuni. 

Sepanjang pinggiran jalan utama hanya ada bangunan-bangunan kosong bekas dampak keganasan lumpur Lapindo. Beberapa toko masih beroperasi dan juga gedung-gedung pemerintahan serta pasar tradisional juga masih terus beroperasi.

Upaya Pemerintah untuk Menghidupkan Porong Kembali

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun